Kampus UNS di Wonogiri Tertunda, Mengapa?
Rektor UNS Jamal Wiwoho (kedua dari kiri) memberikan keterangan kepada wartawan terkait pengumuman SBMPTN di Kampus UNS Solo, Jumat (14/8/2020). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)

Solopos.com, WONOGIRI — Universitas Sebelas Maret Solo hingga kini belum bisa merealisasikan program pembangunan kampus di Wonogiri, Jawa Tengah. Program yang digagas sejak 2016 itu belum menunjukkan progres berarti karena UNS Solo masih memprioritaskan pengelolaan kampus di daerah lain.

Rektor Universitas Sebelas Maret atau UNS Solo, Prof. Jamal Wiwoho, beberapa waktu lalu, mengatakan program pembangunan kampus di Wonogiri belum bisa direalisasikan. Itu karena pihak kampus sedang fokus mengelola Kampus VI Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pendidikan Guru Sekolah Dasar atau FKIP PGSD di Kebumen, Jawa Tengah.

Kampus PGSD di Kebumen sudah beroperasi sejak lama. Terbaru, UNS membangun Sekolah Vokasi di Madiun awal 2020 dan diresmikan pada tahun yang sama. Setelah itu pihak kampus membuka pendaftaran mahasiswa baru program studi Diploma III atau DIII Akuntansi, DIII Teknik Informatika, dan DIII Teknologi Hasil Pertanian.

Baca Juga: Bertahan di Peluang Bisnis Nasi Biryani

“Lahan kampus PGSD di Kebumen sudah milik UNS, sehingga lebih memudahkan kami dalam mengelola aset dan keuangannya. Seumpama ke depan lahan di Wonogiri yang akan didirikan kampus bisa dihibahkan kepada UNS, kami akan lebih mudah [merealisasikan pembangunan kampus]. Sementara, pendidikan di Kampus Madiun belum lama berjalan. Jadi, kami harus segera fokus mengelolanya,” kata Rektor saat dihubungi Solopos.com.

UNS melirik Wonogiri sebagai wilayah sasaran pengembangan kampus untuk mendekatkan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. UNS setiap tahun memiliki banyak mahasiswa dari Wonogiri dan sekitarnya.

Pada 2018 lalu, Ketua Tim Pengembangan Kampus UNS Solo, yang saat itu dijabat Widodo Mukti, mengatakan dua tahun sejak program pembangunan kampus di Wonogiri direncanakan UNS masih dalam tahap penjajakan awal.

Baca Juga: 4 Zodiak Ini Kata Astrologi Keras Kepala...

Menurut Widodo yang ketika itu sebagai Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerja Sama, pengembangan kampus UNS di luar Solo membutuhkan kajian mendalam. Salah satu hal krusial, yakni terkait dengan pengadaan lahan. UNS membutuhkan lahan minimal 40 hektare atau ha.

Becermin pada pengembangan kampus di Karanganyar, lahan yang dibutuhkan mencapai 122,86 ha. Sementara, pengembangan kampus di Sragen direncanakan 160 ha. “Kalau lebih kecil dari itu [40 ha] tidak bisa,” ulas Widodo saat itu.

Widodo melanjutkan lahan yang paling memungkinkan digunakan adalah lahan Perum Perhutani dengan sistem pengadaan kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK). Hal itu seperti dilaksanakan untuk pembangunan kampus di Karanganyar.

Baca Juga: Peluang Bisnis Kuliner Ayam, Bebek, Angsa

Pada mekanisme tersebut UNS tidak perlu membeli lahan. Apabila UNS harus membeli lahan di Wonogiri, Widodo menyebut pengembangan kampus kemungkinan kecil bisa terealisasi. Hal itu karena pengadaan lahan membutuhkan biaya sangat besar. “Perhutani belum memberi tawaran,” imbuh Widodo.

Dia menginformasikan pengembangan kampus UNS di Wonogiri awalnya digagas Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS Wonogiri, akhir 2016. UNS merespons baik. IKA UNS Wonogiri semula menggagas bakal membeli lahan sangat luas dengan menggandeng investor. Di tengah lahan tersebut rencananya di bangun kampus UNS. Contohnya, IKA UNS Wonogiri bersama investor bisa membeli 200 ha lahan.

Tanah seluas 50 ha di antaranya diberikan kepada UNS. Dengan dibangun kampus, kawasan sekeliling akan menjadi hidup dari segi ekonomi. Widodo menilai gagasan bisnis tersebut masuk akal, tetapi tidak mudah dijalankan. “Prosesnya [untuk merealisasikan pembangunan kampus di Wonogiri] masih sangat panjang,” ucap Widodo.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Berita Terkini Lainnya








Kolom