Tutup Iklan
Agus Wedi/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/3/2019). Esai ini karya Agus Wedi, mahasiswa Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah wediagus6869@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Setalah hampir  tiga bulan pemilihan ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (Dema IAIN) Surakarta 2019 dan Senat Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (Sema IAIN) Surakarta 2019 berlangsung bisa dikatakan kelembagaan telah berjalan.

Rasa-rasanya masih sulit memberi pengesahan bahwa Dema IAIN Surakarta 2019 dan Sema IAIN Surakarta 2019 telah berjalan. Apakah sudah menjalani fungsi sebagai pengemban kedaulatan yang bertugas membentuk kebijakan/program yang mencerminkan keinginan seluruh mahasiswa atau justru ke arah sebaliknya, lenyap tak berfungsi apa-apa?

Setelah pemilihan, pelantikan, sidang pleno, dan rapat kerja, nyaris tidak membuahkan acara apa-apa. Hasil rapat kerja yang ternyata tidak bisa dirasakan masyarakat mahasiswa secara cepat. Dema IAIN Surakarta dan Sema IAIN Surakarta adalah organisasi intrakampus yang besar, namun sulit dipahami arahnya.

Apakah terjerembap pada kerja prosedural semata (sebatas jembatan penghubung antara mahasiswa dan lembaga rektorat) ataukah sebatas yang penting ada? Apa makna Dema IAIN Surakarta dan Sema IAIN Surakarta bagi mahasiswa?

Realitas kehidupan organisasi intrakampus IAIN Surakarta berada dalam wacana kemunduran. Kemunduran terlihat dari visi, misi, dan minimnya ide, gagasan, program untuk memuliakan mahasiswa atau lambatnya membangun kerja sama dengan instansi-instansi civitas academica dan tanggung jawab mahasiswa/masyarakat yang berorentasi pada manfaat.

Pelbagai pihak/anggota lebih sibuk pada persona dan prosedural pribadi ketimbang melakukan perubahan kebudayaan organisasi yang mencerahkan atau mencerdaskan publik mahasiswa.

Kemudahan-kemudahan perangkat jabatan atau komunikasi yang tercipta tidak otomatis membuat semakin terbuka, baik naral krtitis atau kedewasaan memaknai fakta-fakta di keseluruhan semesta masyarakat kampus dan ekstrakampus.

Miskin Kesadaran Kolektif

Meminjam istilah Martin Heidegger, yang mengemuka adalah das man, orang-orang yang miskin kesadaran reflektif, larut dalam sikap acuh tak acuh, dan kurang bertanggung jawab. Keterbatasan pikiran dan pengetahuan tentang suatu kejadian dan apa yang ada di depan tak menghalangi untuk tetap tidur di zona nyaman.

Situasi membikin miris ini barangkali lahir dari sejumlah faktor yang membuka peluang terjadinya kemunduran integritas organisasi intrakampus. Pertama, perekrutan ketua dan anggota Dema IAIN Surakarta dan Sema IAIN Surakarta tanpa standar integritas yang diberlakukan bagi para calon ketua dan anggota yang mau mencalonkan dan bergabung pada dua organisasi tersebut.

Hampir tidak ada standar kompetensi dan rekam jejak yang jelas bagi pejabat organisasi intrakampus. Ironisnya, tidak banyak pihak yang mempersoalkan atau menggugat proses seleksi calon ketua Dema dan Sema yang tidak memiliki standar yang jelas. Pihak berwenang tidak berupaya serius membenahi sistem perekrutan, baik di tingkat Dema dan Sema institut atau fakultas.

Siapa pun asal moncer dan punya kedekatan personal dengan pelbagai pihak (organisasi ekstra dan intrakampus) bisa menjadi ketua atau anggota kepengurusan Dema dan Sema. Perekrutan yang serampangan ini membuka peluang besar bagi siapa pun yang memiliki syahwat kekuasaan, tetapi absen dalam komitmen ideologis dalam perilaku keorganisasian.

Ruang atau sistem yang katanya ”demokratis” bisa menjadi ruang”basah” yang akan dimanfaatkan oleh orang-orang moncer, punya politik kekerabatan, warga dinasti politik, dan oligarki. Bangunan strutur organisasi lumpuh akibat terjerembap atau dibajak oleh orang yang ditunjuk secara politis, baik di institut, fakultas, dan jurusan.

Dalam konteks ittu kemudian berkembang yang mengakibatkan mahasiswa tak percaya pada sistem yang diemban kampus, bahkan hal itu akan berdampak pada kegagalan organisasi. Masyarakat mahasiswa yang memiliki kedaualatan, kebijakan, suara, dan aspirasi tidak dianggap dan ditinggalkan oleh pejabat di Dema dan Sema.

Mereka terjebak dalam program pragmatis berjangka pendek demi memenuhi harapan populis yang selalu tidak sabar untuk mendapatkan ”kepuasan” segera. Fokus pun tidak substantif karena lebih merayakan keglamoran jabatan dan tidak mengelaborasi ide untuk memuliakan dan mencerdaskan kehidupan mahasiswa.

Lomba dan Seminar

Biasanya lebih banyak menyelenggarakan lomba dan seminar (yang hanya akan disaksikan dan dirasakan sekian jam) ketimbang melakukan kerja-kerja dalam kerangka program yang sifatnya jangka panjang, misalnya pengajaran tentang kepenulisan selama satu kali masa jabatan.

Situasi itu barangkali relevan dengan pernyataan Ahmad Wahib dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam (2003). Wahib berkata,”Yang kita saksikan dalam kehidupan organisasi-organisasi mahasiswa yang besar ialah suatu machinery of bureaucracy dan bukannya suatu student live. Yaitu mengadakan aksi-aksi protes, diskusi, pengajaran, dan melakukan radikalisasi mutu organisasi yang bersifat positif dan progresif”.

Menurut Wahib, machinery of bureaucracy telah membawa organisasi-organisasi mahasiswa yang besar pada kebekuan dan kehilangan kepekaan terhadap perubahan keadaan. Tradisi kepeloporan sukar timbul pada siapa pun mereka (anggota organisasi) yang sibuk menikmati kebesaran tubuh dan menghambakan diri pada hukum adminitrasi.

Wahib menjelaskan dunia organisasi kampus perlu memikirkan ulang kemungkinan  pelaksanaannya bila mahasiswa menginginkan suatu perubahan yang lebih maju, berwibawa, dan memberi teladan pendewesaan suatu civic system pada mahasiswa dan masyarakat Indonesia.

Perlu student government yang memenuhi syarat Kemampuan mengorganisasi proyek kerja yang menunjang kemajuan universitas dan kesejahteraan mahasiswa; bisa memberikan dasar yang kukuh bagi student government sendiri; bisa menyalurkan pikiran dan mengantisipasi seluruh kegiatan mahasiswa; kemampuan mengisap unsur-unsur dinamis di kalangan organisasi mahasiswa.

Hari demi hari, refleksi itu tak muncul. Gedung Dema dan Sema memang tak pernah sepi, tetapi keriuhan itu tak mewujud dalam bentuk keramaian program untuk mahasiswa. Kampus tetap sepi dari program pencerdasan mahasiswa.

Seorang kawan saya mengatakan bangunan yang sepi jamak dihuni hantu. Saya katakan Dema IAIN Surakarta dan Sema IAIN Surakarta tidak akan dihuni hantu, pasti dihuni manusia. Saya kira refleksi itu akan mendekatkan mahasiswa pada cita-cita utama.

Cita-cita mencerdaskan kehidupan mahasiswa dan membangun organisasi mahasiswa yang berintegritas. Saya yakin refleksi itu tidak membutuhkan ilmu canggih untuk dipahami bersama. Mengapa tidak segera diamalkan?

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten