Tutup Iklan

KAMPUS DI SEMARANG : Wajibkan Akronim dengan Huruf Kapital, Unnes Klaim Direstui Ahli Bahasa

KAMPUS DI SEMARANG : Wajibkan Akronim dengan Huruf Kapital, Unnes Klaim Direstui Ahli Bahasa

SOLOPOS.COM - Ilustrasi Prof. Fatur Rokhman, guru besar sosiolingustik Fakultas Bahasa dan Seni yang kini rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI. (JIBI/Semarangpos.com/Dok.-Facebook.com)

Kampus Universitas Negeri Semarang melarang penulisan akronim nama institusinya yang tak memakai huruf kapital.

Solopos.com, SEMARANG – Universitas Negeri Semarang (Unnes) tetap mengotot akan menggunakan penulisan akronim atau singkatan kampusnya dengan huruf kapital secara keseluruhan. Bahkan, meskipun, mengaku telah menyadari kebijakan itu bertentangan dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) adalah buku  rujukan  yang  dapat  dijadikan  pedoman  dan  acuan  berbagai kalangan  pengguna  bahasa  Indonesia,  terutama  dalam  pemakaian bahasa tulis, secara baik dan benar yang disusun Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia pada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. PUEBI secara ketatanegaraan juga merupakan bagian tata perundang-undangan Indonesia karena ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015.

Sesuai pedoman penulisan kata dalam Bab II PUEBI, akronim nama diri berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf atau bagungan suku kata dan huruf semacam "Unnes" yang merupakan kependekan dari Universitas Negeri Semarang cukup ditulis dengan huruf awal kapital. Hanya singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang secara keseluruan ditulis dengan huruf kapital.

Nyatanya, setelah menyampaikan larangan kepada civitas academica-nya melalui media jejaring sosial agar tidak lagi menulis akronim Unnes sesuai PUEBI, otoritas kampus di Gunung Pati, Semarang itu selanjutnya bahkan bersiap-siap menuangkan kebijakan itu dalam sebuah peraturan yang wajib ditaati kalangan internal kampus.

[Baca juga Unnes Wajibkan Penulisan Akronim dengan Seluruhnya Huruf Kapital]

Kendati mengaku telah menyadari bahwa kebijakan itu nantinya bakal bertentangan dengan PUEBI, otoritas kampus Unnes di Semarang membantah sikap itu menentang PUEBI. Mereka berdalih aturan penulisan singkatan Unnes dengan huruf kapital secara keseluruhan yang bertentangan dengan PUEBI itu hanyalah salah satu strategi promosi kampus.

“Kami ingin menciptakan branding Unnes dengan menuliskannya menggunakan huruf kapital secara keseluruhan. Jadi untuk menyingkat Universitas Negeri Semarang, kami tidak lagi menggunakan ‘Unnes’ melainkan ‘UNNES’. Alasannya, kalau ditulis dengan huruf U besar dan lainnya kecil, nama Unnes sering kali tidak kelihatan di dalam teks [kalimat]. Jadi ini lebih ke strategi promosi,” ujar Kepala UPT Humas Unnes, Hendi Pratama, saat dihubungi Semarangpos.com, Selasa (17/10/2017).

Berdasarkan penelusuran Semarangpos.com, Universitas Negeri Semarang memang hanya bermula dari perguruan tinggi yang tergabung dalam Proyek Perintis IV yang dulunya bernama IKIP Semarang. Kendati berstatus sebagai perguruan tinggi negeri, nama Universitas Negeri Semarang tidak bisa dibilang kondang jika dibandingkan PTN sekota, Universitas Diponegoro (Undip).

Demi memupus kondisi semacam itu, Hendi menganggap lembaga pendidikan tempat ia bekerja membutuhkan strategi promosi kampus yang lebih jitu dari sebelumnya. Bahkan meskipun otoritas perguruan tinggi yang kini dipimpin seorang rektor yang juga guru besar sosiolingustik di Fakultas Bahasa dan Seni, Prof. Fatur Rokhman.

Sebagai justifikasi atas rencana otoritas kampus di Gunungpati, Semarang, Jateng tersebut dalam mewajibkan civitas academica menulis akronim nama perguruan tinggi yang bertentangan dengan PUEBI, Hendi bahkan menyatakan telah berkonsultasi dengan sejumlah ahli bahasa di kampusnya. Para ahli bahasa di Unnes itu, klaim Hendi, sudah menyetujui dan memaklumi jika Unnes mewajibkan penulisan akronim nama kampus tempatnya mencari nafkah itu dengan huruf kapital secara keseluruhan.

“Para ahli sudah memberi pemakluman. Bahkan, aturan ini sudah kami terapkan dan sebentar lagi akan kami buat peraturan yang wajib ditaati oleh kalangan internal kampus. Ada sanksi internal jika peraturan itu dilanggar,” beber Hendi.

Meski berharap penulisan akronim nama diri yang tidak sesuai PUEBI itu bisa diikuti oleh para mitra Unnes, Hendi mengaku aturan penulisan singkatan Unnes dengan huruf kapital secara keseluruhan itu hanya diterapkan untuk kalangan internal kampus tersebut. Bagi kalangan luar, seperti wartawan, tidak wajib mengikuti aturan tersebut tatkala menuliskan nama Unnes.

“Kalau dari pihak media ingin menuliskan nama Unnes sesuai dengan aturan yang ditetapkan Badan Bahasa Kemendikbud silakan saja. Kami tidak melarang. Tapi, kami berharap ke depan aturan ini bisa diterapkan seluruh kalangan, tidak hanya internal kampus,” tandas Hendi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Berita Terkait

Berita Terkini

Tiga Cara Menikmati Croffle Hits dari Tjemilan oleh Kopi Soe

Sebagai kedai camilan favorit masyarakat, Tjemilan oleh Kopi Soe juga menghadirkan aneka varian croffle yang dinamai #Soeffle.

Tren Naik, Kasus Covid-19 di Sukoharjo Tambah 88 Orang dalam Sehari

Kasus Covid-19 di Sukoharjo bertambah 88 orang dalam sehari pada Kamis (24/6/2021). Penambahan itu membuktikan tren penambahan kasus Covid-19 di Sukoharjo masih naik.

Bapas Solo Sebut Mediasi Kasus Perusakan Makam Oleh Anak-Anak Di Mojo Telah Selesai, Hasilnya?

Proses mediasi kasus perusakan makam Mojo, Pasar Kliwon, Solo, yang melibatkan 10 anak-anak sudah selesai dengan pendampingan Bapas.

Melonjak! Pemusalaran Jenazah Prosedur Covid-19 di Sukoharjo Capai 22 Orang dalam Sehari

Sebanyak 22 jenazah dimakamkan dengan prosedur Covid-19 di Kabupaten Sukoharjo dalam sehari. Kondisi ini melonjak tajam dari biasanya empat jenazah.

Diduga Gegara Depresi, Perempuan asal Pati Terjun ke Sumur

Seorang perempuan di Pati diduga nekat mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke sumur. Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Bangun Tidur Buka Jendela, Warga Sukodono Sragen Shock Temukan Tetangga Gantung Diri

Seorang pria lansia asal Sukodono, Sragen, nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di belandar rumah pada Jumat (25/6/2021).

Uji Sampel Covid-19 Melonjak, BBVet Wates Kulonprogo Kewalahan

Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates kewalahan menguji sampel lantaran melonjaknya kasus Covid-19 di Kulonprogo.

Faktor Ratusan ODGJ Bisa Sembuh dari Covid-19: Tak Stres Pikirkan Corona

Ratusan pasien ODGJ dinyatakan sembuh dari Covid-19 setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama sebulan, begini penjelasannya.

Wah, Ternyata Banyak ASN yang Tak Netral di Pilkada 2020, Sukoharjo Nomor Dua

Bawaslu Jateng menyebut ada 110 ASN yang terbukti tak netral pada Pilkada 2020. Mereka telah dijatuhi sanksi.

Catat! Ini Perbedaan Varian Delta dan Delta Plus

Apa sajakah perbedaan virus corona varian Delta dan Delta Plus?

Uji Coba PSIS Kontra PSIM Disiarkan Live Streaming

PSIS Semarang akan meladeni PSIM Yogyakarta pada laga uji coba yang akan disiarkan secara streaming.

15 Dokter Anak di Jateng Terpapar Covid-19

Sebanyak 15 dokter anak di Jateng terpapar Covid-19. Diduga tertular dari pasien anak yang positif Covid-19.