SOLOPOS.COM - Seorang pengrajin terompet asal Desa Ngaglik, Kecamatan Bulukerto, Yati, memroduksi terompet di rumahnya, Kamis (25/9/2014) (Bony EW/JIBI/Solopos)

Solopos.com, WONOGIRI--Ngaglik, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri dikenal sebagai sentra pengrajin terompet. Desa Ngaglik dikenal sebagai Kampung Terompet lantaran mayoritas warganya berprofesi sebagai pengrajin terompet.

Mereka memproduksi trompet hanya saat momen tertentu seperti menjelang Lebaran atau pergantian tahun. Sebab, terompet menjadi salah satu barang yang paling dicari masyarakat.

Promosi Pegadaian Buka Lowongan Pekerjaan Khusus IT, Cek Kualifikasinya

“Tidak setiap hari membuat terompet, hanya saat menjelang Lebaran dan pergantian tahun. Jadi produksi terompet hanya musiman, setelah Lebaran atau Tahun Baru, warga kembali bertani atau berdagang,” kata Yati, salah satu pengrajin, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Kamis siang.

Seiring perkembangan zaman, kondisi bisnis terompet kian lesu dari tahun ke tahun. Kondisi ini dipengaruhi membanjirnya terompet buatan Tiongkok sejak beberapa tahun terakhir.

Terompet buatan Tiongkok lebih unggul lantaran bahan dasarnya terbuat dari plastik. Belum lagi, harga bahan pembuat terompet melambung tinggi. Misalnya, harga kertas dimensi mengalami kenaikan dari Rp50.000/rim menjadi Rp150.000/rim atau harga kertas karton dari Rp2.000/lembar menjadi Rp6.000/lembar.

Kalah Saing
Alhasil, produksi para pengrajin terompet menurun dibanding beberapa tahun lalu. Mereka tak mau mengambil resiko dengan memroduksi trompet dalam jumlah besar lantaran takut merugi.

“Dahulu, produksi trompet hingga di atas 5.000 biji, kini paling mentok hanya 3.000 biji. Sekarang masih produksi hingga akhir Oktober. Nah, pertengahan November dipasarkan ke Medan, Sumatra Utara (Sumut). Pesaingnya hanya terompet buatan Tiongkok kalau terompet dari daerah lain, kualitasnya belum bisa menyamai terompet Ngaglik,” ujar dia.

Menurut dia, bahan dasar produksi terompet terbuat dari kertas yakni kertas dimensi dan karton. Kertas karton dibentuk hingga menyerupai terompet kemudian dilapisi kertas dimensi.

Menariknya, para pengrajin terompet di Ngaglik juga memproduksi alat tiup yang berfungsi mengeluarkan bunyi bernama empet. Empet tersebut hanya diproduksi di Ngaglik dan menjadi ciri khas terompet asal Kampung Terompet.

“Empet itu yang mengeluarkan bunyi dan hanya diproduksi di sini [Desa Ngaglik]. Di wilayah tidak ada. Alat itu terbuat dari bambu,” ujar dia.

Kendati kondisi bisnis terompet tengah limbung namun terompet lokal tetap diincar para pelanggannya. Mereka memilih terompet lokal lantaran modelnya cukup bervariasi. Model terompet yang paling laris diburu konsumen yakni terompet berbentuk kepala naga.

Model Variasi
Harga terompet bervariasi tergantung tingkat kesulitan pembuatannya. Harga terompet berbentuk kepala naga atau saxophone lebih mahal dibanding terompet biasa. Harga terompet kepala naga atau saxophone dibanderol senilai Rp15.000-Rp20.000/biji.

Sementara harga terompet biasa hanya Rp5.000/biji. “Lebih sulit membuat terompet kepala naga dibanding terompet biasa. Terompet biasa bisa dibuat dalam hitungan jam.

Sementara terompet naga minimal dua hari karena proses membentuk bahan dasarnya cukup lama. Setelah dibentuk harus dijemur minimal dua kali,” papar pengrajin terompet lainnya, Waluyo.

Biasanya, terompet tersebut dipasarkan ke beberapa wilayah Indonesia seperti Medan, Pekanbaru, Ambon, Nusa Tenggara Timur, Pontianak. Di Kampung Terompet itu terdapat beberapa kelompok pengrajin terompet.
Setiap kelompok mempunyai jaringan pemasaran terompet sendiri. Misalnya, kelompok A mempunyai jaringan pemasaran di Medan, Sumur, sedangkan kelompok B di Pontianak, Kalimantan Barat.

“Jadi pemasaran terompet tak berebutan karena setiap kelompok mempunyai jaringan sendiri-sendiri. Kalau di Pulau Jawa hampir merata di setiap kota. Rata-rata penghasilan dari menjual trompet senilai Rp20 juta/tahun. Nanti kami pergi satu kelompok ke Medan,” papar dia.

Ratusan Pengrajin
Di sisi lain, Kepala Desa Ngaglik, Kecamatan Bulukerto, Roni Prama Putra, menjelaskan jumlah pengrajin terompet di Desa Ngaglik sekitar 500 orang. Mereka memroduksi terompet mulai Agustus-Oktober. Kemudian, para pengrajin mulai menjual terompet pada November.

Tak main-main, uang dari bisnis terompet setiap tahunnya mencapai milyaran rupiah. Asumsinya, penghasilan setiap pengrajin terompet senilai kurang lebih Rp20 juta/tahun.

Artinya, uang dari industri terompet mencapai Rp1 miliar/tahun. “Dahulu uang dari bisnis terompet mungkin di atas Rp1 miliar. Sekarang persaingan cukup ketat walaupun terompet asal Ngaglik tetap laku di pasaran,” jelas dia.

Terpisah, Kabid Perindustrian Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disprindagkop dan UMKM) Wonogiri, Sulistyani, menambahkan pihaknya telah melakukan berbagai upaya agar eksistensi terompet asal Desa Ngaglik tetap terjaga.

Misalnya, melaksanakan pelatihan tentang pemasaran produk terompet. Selain itu, pelaksanaan workshop untuk menggugah kreativitas para pengrajin terompet agar dapat menciptakan berbagai model terompet terbaru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya