Panorama salah satu sudut agro kopyor salah satu kebun petani di Desa Kenanti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. (Antara-Akhmad Nazaruddin Lathif)

Solopos.com, PATI — Kampung agro kelapa kopyor yang dipadu dengan wisata kuliner yang dikelola oleh salah satu petani di Desa Kenanti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sangat diminati wisatawan dari berbagai daerah di Tanah Air. Padahal lokasi objek daya tarik wisata itu cukup jauh dari perkotaan.

Menurut pemilik agrowisata kelapa kopyor M. Ismail di Pati, Jawa Tengah, Rabu (20/11/2019), ide awal membuat agrowisata kelapa kopyor berasal dari usulan konsumen yang kebetulan sering membeli buah kelapa kopyor miliknya. Lahan sebelumnya ditanami 50-an pohon kelapa, kemudian membeli lahan baru di Desa Kenanti seluas 650 m2.

Karena lahannya yang sempit, tanaman kelapa yang ditanam dibuat berjajar dengan jarak sekitar 10 m. “Sepintas dipandang cukup menarik. Buktinya pelanggan yang datang justru meminta salah satu buahnya diminum di tempat dan mereka juga berswafoto,” ujarnya.

Tanpa dipromosikan, ternyata para pelanggan yang datang sudah mempromosikannya sendiri sehingga banyak yang berdatangan untuk membuktikannya sendiri. Dari perbincangan dengan para konsumen, kemudian mereka mengusulkan dibuatkannya warung makan dengan konsep makan di kebun terbuka dengan hanya disediakan meja dan kursi.

Pada bulan Juli 2019, Ismail akhirnya memberanikan diri membuka pelayanan kuliner di lahan kelapa kopyor yang buka setiap hari. “Ternyata sambutan masyarakat cukup bagus, terbukti dari berbagai daerah di Tanah Air rela datang ke Dukuhseti demi menikmati kelapa kopyor bisa langsung petik sendiri,” ujarnya.

Usia tanaman pohon kelapa yang ditanam di lahan seluas 650 m2 tersebut, sekitar 3,5 tahun dan memiliki buah cukup banyak dan bisa dipetik sendiri tanpa harus memanjat. Pengunjung yang datang ke tempat usahanya yang diberi nama Kampoeng Agro Kopyor, berasal dari lokal Pati, Bandung, Jakarta, Sumedang, Banyuwangi, Purbalingga, Kudus, dan Rembang.

Ia memperkirakan jumlah pengunjung per harinya hingga ratusan, khususnya akhir pekan bisa mencapai 600-an pengunjung. “Banyaknya pengunjung, membuat dirinya harus membatasi bahwa pengunjung hanya boleh minum kelapa kopyor di tempat agar semua merasakan karena setiap hari harus menyediakan hingga 200-an buah kelapa kopyor,” ujarnya.

Harga jual kelapa kopyor untuk ukuran terkecil adalah Rp35.000 dan terbesar Rp75.000, sedangkan minuman kelapa kopyor dalam gelas ukuran besar dijual Rp20.000. Karena dia juga ingin memberikan edukasi kepada masyarakat, setiap pengunjung yang datang juga diberikan penjelasan tentang teknik penanaman hingga jenis kelapa kopyor yang ditanam.

“Selain menjual buah kelapa kopyor, saya juga menjual bibit kelapa kopyor,” ujarnya.   Karnoto, salah seorang pengunjung asal Jepara mengakui tertarik mengunjungi kampoeng kopyor, selain ingin menikmati suasananya juga ingin membeli bibit kelapanya.

Ia ingin mencoba membudidayakannya di desanya di Batealit, Kabupaten Jepara, yang kebetulan memiliki lahan yang cukup luas.

Susmiyati, pengunjung asal Juwana, Pati mengakui tertarik datang karena jarang ditemukan ada tempat wisata kelapa kopyor bisa langsung memetik dari pohonnya. “Biasanya hal itu untuk tanaman buah, seperti kelengkeng, jambu atau apel. Tetapi di Dukuhseti ternyata ada kelapa kopyor,” ujarnya.

Tanaman kelapa kopyor, lanjut dia, juga tidak bisa ditemukan di semua tempat dan wilayah Pati memang menjadi sentranya sehingga selain berwisata juga ingin menikmati kulinernya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten