Kalau Merapi Meletus, Ini yang Harus Dilakukan
Sejumlah penyandang disabilitas mengikuti simulasi bencana Gunung Merapi meletus di Lapangan Keputran, Kemalang, Klaten, Rabu (12/12/2018).(Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN – Gunung Merapi meletus, Rabu (12/12/2018). Gunung tersebut memuntahkan abu vulkanik setinggi 2.000 meter. Di samping abu vulkanik, Gunung Merapi juga mengeluarkan lahar panas. Seketika itu pula, status Gunung Merapi langsung berubah menjadi siaga.

Warga desa di Lereng Gunung Merapi berhamburan keluar rumah. Mereka sibuk mencari tempat berlindung yang dinilai aman. Di antara warga desa tersebut juga terdapat para penyandang disabilitas. Beberapa sukarelawan langsung masuk ke rumah para penyandang disabilitas secara door to door.

Sukarelawan itu langsung berbagi tugas menyelamatkan para penyandang disabilitas, seperti tunanetra, tunadaksa, dan tunawicara. Di antara sukarelawan ada yang menginformasikan tentang status Gunung Merapi terkini. Informasi itu disampaikan dengan bahasa isyarat ke tunarungu dan tunawicara.

Di lokasi lain, sukarelawan langsung mengevakuai para penyandang disabilitas. Sambil dipandu saat berjalan atau pun didorong menggunakan kursi roda, evakuasi penyandang disabilitas itu dilakukan penuh hati-hati. Satu per satu para penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda dipandu naik ke truk. Para penyandang disabilitas dievakuasi ke tempat pengungsian yang dinilai lebih aman, yakni di kawasan Prambanan.

Seperti itulah, rangkaian simulasi evakuasi penyandang disabilitas di Lapangan Keputran, Kecamatan Kemalang, Rabu pagi. Simulasi itu melibatkan sejumlah sukarelawan dan para penyandang disabilitas di Kemalang dan sekitarnya. Tujuan digelar simulasi agar sukarelawan mengetahui tugas yang diemban saat Gunung Merapi meletus terjadi sewaktu-waktu. Di samping itu, para penyandang disabilitas memperoleh pelayanan evakuasi yang ramah disabilitas.

Dalam mengevakuasi penyandang disabilitas itu tak boleh asal-asalan. Saat evakuasi menaikkan penyandang disabilitas [yang memakai kursi roda] ke truk tadi harus dilakukan enam orang. Dua orang di atas kendaraan. Empat orang berada di bawah [bertugas mengangkat penyandang disabilitas ke atas kendaraan]. Hal seperti ini harus diketahui sukarelawan,” kata Ketua Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Setyo Widodo, saat ditemui wartawan, di sela-sela simulasi bencana Gunung Merapi meletus di Lapangan Keputran, Rabu.

Hal senada dijelaskan Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK), Edy Subagyo. Simulasi yang diselenggarakan dengan melibatkan langsung penyandang disabilitas di Klaten baru digelar kali pertama. Tujuan dari simulasi tersebut agar para penyandang disabilitas dapat merasakan suasana sebenarnya di tengah simulasi. Simulasi sengaja digelar di Kemalang lantaran daerah tersebut merupakan salah satu daerah yang sering terdampak Gunung Merapi meletus.

Simulasi ini penting dilakukan. Saat terjadi gunung meletus, evakuasi para penyandang disabilitas juga menjadi prioritas. Satu hal lagi agar pengalaman tak mengenakkan di tahun 2010 tak terulang lagi. Saat itu ada salah satu penyandang disabilitas yang hanya dievakuasi orangnya. Sementara, kursi rodanya malah ditinggal di rumah. Begitu sampai di tenda pengungsian, semuanya bingung,” kata Edy Subagyo.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom