Kalah di Pilkada Wonogiri 2020: Hartanto Pilih Beternak, Joko Purnomo Berorganisasi
Pasangan cabup-cawabup Pilkada Wonogiri, Hartanto-Joko Purnomo (Harjo), saat deklarasi di Wonogiri, Jumat (4/9/2020). (Solopos/M. Aris Munandar)

Solopos.com, WONOGIRI — Hartanto dan Joko Purnomo memastikan tetap akan memberi kontribusi positif untuk warga dan daerah sesuai bidang kerja masing-masing setelah kalah di Pilkada Wonogiri 2020.

Hartanto sedang merintis usaha peternakan dan pertanian. Sejumlah usahanya menyerap tenaga kerja hingga lebih kurang 60 orang. Sementara, Joko akan mendirikan organisasi kemasyarakatan yang bergerak pada urusan politik, sosial, dan ekonomi.

Hartanto dan Joko Purnomo merupakan mantan pasangan calon bupati-wakil bupati yang berkontestasi pada pemilihan kepala daerah Wonogiri 2020 lalu. Keduanya tak bisa mengungguli pasangan calon berstatus petahana, yakni Joko Sutopo dan Setyo Sukarno.

Baca Juga: Tanah Longsor Timbun JLS Wonogiri, Belasan Truk Terjebak Macet

Hartanto kepada Solopos.com, belum lama ini, menyampaikan memberi kontribusi tidak harus melalui pemerintahan. Purnawirawan polisi berusia 62 tahun itu akan berkontribusi melalui berbagai cara, seperti berdakwah yang dilakoninya sejak pensiun, menjalankan usaha jual-beli emas, toko kelontong, dan konfeksi di Slogohimo.

Toko Emas Candra Dewi di kompleks Pasar Slogohimo dijalankannya sejak 15 tahun lalu. Usaha konfeksinya memproduksi berbagai kaus dalam partai besar maupun kecil. Warga Lingkungan Bulusari RT 001/RW 002, Kelurahan Bulusurari, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri tersebut saat ini sedang merintis usaha peternakan dan pertanian. Ternaknya meliputi bebek, kambing, dan sapi.

Lebih kurang 60 orang bekerja di tempat usaha Hartanto. Menurut dia, meski tenaga kerja yang terserap belum sangat banyak tetapi setidaknya usahanya bisa memberi manfaat bagi puluhan orang.

“Selama pandemi Covid-19 ini kegiatan berdakwah berkurang. Kalau ada pun kegiatannya digelar dalam skala kecil. Dakwah akan terus saya jalankan. Hidup itu harus memberi manfaat bagi orang lain. Bisa melalui berbagai jalan,” ucap Hartanto saat dihubungi.

Suami Giyarti itu melanjutkan menang dan kalah adalah hal biasa dalam sebuah kontestasi, termasuk dalam pemilihan kepala daerah. Hartanto menerima kekalahan dengan legawa. Dahulu bapak dua anak tersebut mencalonkan diri karena didorong masyarakat. Seiring berjalannya waktu ada tiga partai yang bersedia mengusungnya, yakni Partai Keadilan Sejahtera atau PKS, Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB, dan Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra.

Berorganisasi

Terpisah, Joko mengaku saat ini masih menganggur. Setelah tak lagi menjabat sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum atau KPU Jawa Tengah, warga Keden RT 001/RW 004, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri berusia 66 tahun itu sering diundang menjadi pembicara seminar atau sejenisnya dengan topik politik.

Suami Retno Dyah Sundari tersebut berencana mendirikan organisasi kemasyarakatan bidang politik, sosial, dan ekonomi. Dia sudah berdiskusi dengan rekan-rekannya membahas hal tersebut. Organisasinya akan mengontrol atau mengawasi jalannya pembangunan di Wonogiri.

Baca Juga: Manchester United Gagal ke Puncak Seusai Kalah dari Sheffield United

“Masyarakat pada dasarnya dapat memberi kritik, saran, dan masukan kepada pemerintah jika ada suatu permasalahan. Kami akan mendorong DPRD agar membuka ruang dialog yang produktif dengan eksekutif dan masyarakat ada di tengah-tengahnya. Dengan begitu struktur demokrasi akan semakin kuat,” ulas Joko.

Seperti diketahui, pada pilkada, 9 Desember 2020 lalu Hartanto-Joko Purnomo memperoleh 96.964 suara atau 16,68%, sedangkan Joko Sutopo-Setyo Sukarno meraup 484.262 suara atau 83,32%. Surat suara sah 581.226 lembar, sedangkan surat suara tidak sah 13.916 lembar. Total surat suara digunakan 595.142 lembar.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom