Pria memadamkan api di hutan kawasan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. (Reuters-Willy Kurniawan)

Solopos.com, CEBUKabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Indonesia menyebar hingga ke Thailand dan Filipina. Wilayah terdampak paling parah di Filipina adalah Cebu. Sedangkan di Thailand adalah kawasan Thailand Selatan.

Pemerintah Filipina mengimbau warganya tidak keluar rumah terlalu lama. Imbauan tersebut disampaikan agar rakyat Filipina tidak terpapar kabut asap yang menurunkan kondisi kesehatan mereka.

“Tetaplah di dalam ruangan dan jangan bepergian jika tidak punya urusan mendesak. Selalu tutup jendela dan pintu rumah Anda. Jangan beraktivitas di luar ruangan karena tubuh akan menyerap banyak polutan,” demikian peringatan dari Dinas Lingkungan Hidup Filipina seperti dikutip dari The Manila Times, Sabtu (21/9/2019).

Pemerintah meminta warganya yang beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan masker serta kacamata guna mengurangi efek negatif dari kabut asap. Berdasarkan data yang ada, partikel polutan di udara mencapai 56 mikrogram per meter kubik. Nilai tersebut melewati batas aman, yakni 50 mikrogram per meter kubik. Debu polutan yang sangat kecil itu akan terhirup dan berada di paru-paru dalam waktu lama.

Sama halnya seperti warga Filipina, masyarakat di Thailand selatan harus menggunakan masker setiap hari. Dikutip dari Bangkok Post, penduduk di wilayah Songkhla, Satun, Yala, dan Pattani, diimbau agar mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Pemerintah Thailand mencatat kabut asap meningkat sejak 5 September 2019. Kondisinya semakin parah selama beberapa hari terakhir. Kandungan polutan akibat karhutla ini mencapai 100 mikrogram per meter kubik. Jumlah ini dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan batas yang ditetapkan Thailand.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, karhutla Indonesia juga mencemari wilayah Malaysia dan Singapura. Pemerintah Malaysia sampai meliburkan ratusan sekolah di wilayah yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Mereka mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk meminimalisasi dampak kabut asap.

Dikutip dari South China Morning Post, kabut asap karhutla Indonesia kali ini merupakan yang terburuk sejak 2015 lalu. Kabut asap ini menyelimuti beberapa negara di kawasan Asia Tenggara dan memperburuk dampak pemanasan global.

Kabut asap karhutla Indonesia disebabkan ulah manusia yang membuka lahan dengan membakar lahan gambut. Kelompok aktivis lingkungan hidup, Green Peace, menyebut karhutla Indonesia sejak 1997 terjadi akibat kelalaian pemerintah.

Dikabarkan Liputan 6, Juru Bicara Green Peace, Arie Rompas, mengatakan kebakaran hutan di Indonesia berbeda dengan negara lain. Di Indonesia, kebakaran terjadi di lahan gambut. Padahal, berdasarkan hasil penelitian gambut merupakan lahan basah yang tidak boleh dikeringkan. Namun, pemerintah tetap saja memberikan izin kepada perusahaan mengembangkan lahan gambut yang harusnya dilindungi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten