KABINET JOKOWI-JK : 6 Nama Wong Solo Ini Berpotensi Masuk Kabinet Jokowi-JK
Jokowi dan tim transisi pemerintahannya. (JIBI/Solopos/Antara/Widodo S. Jusuf)

Solopos.com, SOLO — Enam nama wong Solo diprediksi bisa mewarnai bursa kabinet yang bakal disusun calon presiden (capres) terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan wakilnya, Jusuf Kalla (JK). Penyusunan kabinet Jokowi-JK itu dijadwalkan selesai 15 September 2014 mendatang.

Prediksi tersebut disampaikan sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Drajad Tri Kartono saat ditemui wartawan di Kantor Yayasan Al Firdaus Solo, Jumat (22/8/2014). Keenam nama wong Solo yang disebut Drajad itu adalah Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof. Ravik Karsidi, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Bambang Setiaji, Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo, Putra Paku Buwono (PB) XII G.P.H. Dipokusumo, tokoh forum lintas agama Sri Eka Sapta Wijaya, dan budayawan Sardono W. Kusumo.

“Mau tidak mau Solo akan menjadi salah satu indikator dalam penyusunan kabinet Jokowi karena Solo menjadi tempat perkembangan karier politik Jokowi. Oleh karenanya figur dari Solo itu jadi penting untuk dipertimbangkan. Siapa orang-orang Solo yang punya prestasi dan profesinal di bidangnya, ya, enam nama itu. Saya optimistis dari enam nama itu 2-3 orang di antaranya akan masuk dalam kabinet Jokowi-JK,” tandas Drajad.

Drajad menerangkan sekelumit track record keenam tokoh asli Solo itu. Menurut dia, Prof. Ravik Karsidi secara objektif pantas masuk kabinet karena kepakarannya di bidang pendidikan dan menjadi Ketua Himpunan Ilmu-ilmu Sosial Indonesia, serta Ketua Forum Rektor Indonesia. Prof. Bambang Setiaji, urai Drajad, juga pakar di bidang ekonomi syariah dan menjabat sebagai Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia. Wali Kota Solo sendiri, kata dia, juga memiliki kemampuan dalam menyatukan kisruh PSSI dan tak ingin ditekan oleh VIVA. “Walau pun khusus Pak Rudy [Wali Kota] saya harapkan tetap ada di Solo,” terangnya.

Drajad menyebut nama G.P.H. Dipokusumo karena kepakarannya di bidang budaya. Demikian pula tokoh Sri Eka Sapta Wijaya yang kini tinggal di Jakarta, sambung dia, bisa menjadi tokoh alternatif karena ketokohannya bisa mengembangkan forum lintas agama di tingkat internasional. “Tak kalah potensialnya dengan penari Sardono W. Kusumo. Tapi, kini tinggal di mana, saya kurang tahu,” tuturnya.

Drajad berharap potensi-potensi mereka bisa disampaikan kepada Jokowi karena mereka memiliki kesamaan simbolik dan kesamaan budaya. Kesamaan modal budaya yang dimaksud Drajad tidak lain berupa kesamaan visi dan misi mereka itu nyambung dengan visi misi Jokowi. Sementara, kesamaan simbolik itu, jelas dia, lebih pada kesamaan gaja, reputasi, dan nilai pandangan hidup. “Pendekatan blusukan ala Jokowi merupakan gaya egaliter wong Solo yang bukan sekadar sederhana, tetapi lebih nguwongke uwong. Jadi, keputusan itu diambil bukan hanya di atas meja, tetapi dengan cara blusukan itu,” terang dia.

Drajad meraba-raba ruang kabinet yang memungkinkan dimasuki oleh enam tokoh tersebut. Dia menegaskan hanya ada tiga ruang yang bisa dimasuki, yakni ruang budaya, pendidikan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Drajad menghendaki adanya menteri koordinator kebudayaan yang memungkinkan bisa digabung dengan bidang sosial, menteri pendidikan dan kebudayaan, menteri ekonomi, dan menteri pemuda dan olahraga. “Semua itu tergantung pada keputusan Jokowi. Yang jelas apa pun keputusan Jokowi harus memberi implikasi perkembangan positif terhadap Solo, terutama di bidang ekonomi, budaya, dan pemerintahan,” jelasnya.

Selain enam nama itu, Drajad juga menyinggung tentang dua menteri kabinet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang patut dipertahankan, yakni Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMD) Dahlan Iskan dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho