Kategori: Sragen

Kabar Duka: Sinden Tayub Legendaris Sragen Suji Mentir Meninggal Dunia


Solopos.com/Muh Khodiq Duhri

Solopos.com, SRAGEN -- Kabar duka datang dari Sujiati, 75, seorang sinden tayub kenamaan di Bumi Sukowati. Suji Mentir, demikian nenek ini biasa disapa, meninggal dunia pada Selasa (16/3/2021).

“Benar, Bu Suji Mentir sudah meninggal dunia tadi kurang lebih pukul 16.00 WIB,” papar tokoh masyarakat Desa Tegalrejo, Heru Setyawan, kepada Solopos.com, Selasa malam.

Rencana Suji Mentir dimakamkan di TPU Gunung Kendil Tegalrejo Gondang yang berada satu kompleks dengan Bumi Perkemahan Samdonorejo pada Rabu (17/3/2021) sekitar pukul 09.30 WIB.

Baca Juga: Model Baju Ini Banyak Diminati di Masa Vaksinasi Covid-19

“Bu Suji ini warga yang baik. Sosok yang sederhana meskipun ia seorang legenda. Pastinya, kami warga masyarakat sangat merasa kehilangan,” ujar Wawan yang pernah menjabat sebagai Kades Tegalrejo itu.

Bagi warga asli Sragen yang sudah berusia di atas 40 tahun, barangkali sudah tidak asing dengan suara emas dari Suji Mentir. Mentir merupakan nama salah satu dukuh di Kecamatan Ngrampal, Sragen.

Sujiati sendiri pernah membina rumah tangga dengan sosok penabuh kendang asal Mentir. Setelah suaminya meninggal dunia, nama Mentir masih melekat pada sinden yang masih satu angkatan dengan Sunyahni dan Lasmi dari Grobogan itu.

Selain dikenal sebagai sinden tayub, Suji Mentir juga kerap mengiringi pementasan dengan sejumlah dalang kenamaan seperti Ki Purbo Asmoro, Ki Manteb Sudarsono, Ki Anom Suroto dan lain-lain. Akan tetapi, posisi Suji Mentir pada saat itu bukan sebagai sinden utama, tetapi sinden panggilan untuk menggantikan sinden utama yang berhalangan hadir.

Suara Khas

Di kalangan warga Sragen, Suji Mentir lebih dikenal sebagai ledek tayub. Suaranya ya khas dengan tarian yang gemulai membuat Suji Mentir memiliki banyak penggemar. Tidak heran, Suji Mentir muda banyak diundang untuk memeriahkan acara hajatan yang digelar warga di Bumi Sukowati dan sekitarnya.

“Kalau saya dengar komentar dari para penggemarnya, suara Bu Suji Mentir itu khas, unik dan klasik. Saking khasnya, suaranya tergolong sulit untuk ditirukan oleh sinden lain,” ujar Marsudi, 45, keponakan dari Suji Mentir kepada Solopos.com.

Faktor usia menjadi alasan Suji Mentir mengurangi aktivitasnya di panggung hiburan tradisional. Kali terakhir ia mengisi pentas tayub sekitar 10 tahun lalu. Ia merasa harus menyudahi dunia hiburan tradisional yang telah melambungkan namanya.

Di sebuah rumah sederhana di Dukuh/Desa Tegalrejo, RT 10, Gondang Sragen, Suji Mentir mengasingkan diri. Di rumah itu terdapat sejumlah penghargaan yang diraihnya selama menekuni dunia kesenian tradisional. Rumah itu menjadi tempat ia menghabiskan waktu di usianya yang semakin menua.

Di rumah itu, ia ditemani anak angkat yang dibawa oleh suami ketiganya yang kini telah meninggal dunia. Suji Mentir sendiri tidak dikaruniai putra meski sudah tiga kali membina rumah tangga dengan tiga suami berbeda.

Baca Juga: 14 Negara Ini Hentikan Sementara Vaksin AstraZeneca, Termasuk Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, Suji Mentir kerap sakit-sakitan. Ia pernah menderita sakit diabetes namun berhasil sembuh. Dalam beberapa bulan terakhir, ia jatuh sakit dan sempat menjalani perawatan di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Sejak Januari lalu, ia hanya terbaring lemas di rumahnya. Suji Mentir tidak bisa banyak bergerak.

Hari-harinya dihabiskan dengan berbaring di kasur. Untuk sekadar makan, ia harus disuapin anaknya. Bukan makan nasi, tapi dengan bubur supaya lebih mudah ditelan tanpa harus dikunyah. Ia sudah sulit ajak berkomunikasi. Namun, ia masih bisa merespons dengan sedikit obrolan. Hingga pada Selasa sore, pemilik suara emas itu pergi untuk selama-lamanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Ahmad Baihaqi