Kategori: Nasional

KABAR DUKA : Profil Kiai Hasyim Muzadi: Aktivis yang Dekat dengan Pesantren


Solopos.com/Muhammad Rizal Fikri/JIBI/Solopos.com

Kabar duka datang dari mantan Ketua PBNU, KH. Hasyim Muzadi.

Solopos.com, SOLO – Publik Indonesia berduka, Kamis (16/3/2017), tokoh Islam dan politikus KH. Hasyim Muzadi meninggal dunia. Beliau meninggal dunia diusia ke-72, Kamis pagi pukul 06.25 WIB di Malang, Jawa Timur. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sudah sejak beberapa hari lalu dirawat di Rumah Sakit Lavalette, Malang.

Hasyim Muzadi lahir 8 Agustus 1944 di Bangilan, Tuban, Jawa Timur. Saat beliau lahir, wilayah tersebut masih disebut sebagai Wilayah Kolonial Jepang. Semasa hidupnya, Hasyim dikenal luas mantan Ketua Umum PBNU, di ranah politik namanya ramai diperbincangkan saat mendampingi Megawati Soekarnopuri sebagai calon wakil presiden di pemilihan umum (pemilu) Presiden Indonesia 2004.

Hasyim merupakan putra dari pasangan H.Muzadi dan Hj. Rumyati. Ia menyelesaikan pendidikan SD hingga SMP di tanah kelahirannya Tuban. Mulai 1956, Hasyim menjadi santri di Kulliyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyah (KMI) Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Sebelum menjalani kuliah, di tahun 1963 Hasyim sempat menjadi santri di Pondon Pesantren Senori, Tuban, Jawa Timur dan Pondok Pesantren Lasem, Jawa Tengah. Kemudian Hasyim menjadi mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Malang, Jawa Timur mulai 1964. Ia menyelesaikan studinya pada 1969.

Sejak remaja, Hasyim sudah aktif di berbagai organisasi. Ia pernah bergabung dengan Pelajar Pemuda Indonesia (PII), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Pemuda (GP) Ansor, dan beberapa organisasi lainnya. Kiprahnya di NU dimulai dengan menjadi Ketua Ranting NU Bulubawang, Malang. Kemudian menjadi Wakil Ketua PCNU Malang mulai 1971-1973.

Hasyim juga pernah menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Malang mulai 1973-1977. Setelah itu hingga sebelum 1999, Hasyim Muzadi menjabat sebagai ketua GP Ansor tingkat provinsi dan nasional.

Hasyim Muzadi terpilih sebagai Ketua Umum PBNU untuk masa jabatan 1999-2004. Tak hanya satu masa jabatan, tampuk pimpinan itu diamanahkan kembali untuk masa jabatan 2005-2010. Di sela-sela kesibukannya sebagai Ketua Umum PBNU, Hasyim muncul sebagai tokoh politik yang berpengaruh. Pada Mei 2004 diumumkan Hasyim menjadi pendamping Megawati Soekarnoputri sebagai calon wakil presiden (cawapres) untuk Pemilu Presiden Indonesia 2004. Saat aktif sebagai cawapres Hasyim dinonaktifkan sebagai Ketua PBNU.

Di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, pria yang juga menjadi pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam ini dipilih menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Ia dilantik pada 19 Januari 2015 dan masih tetap aktif hingga akhir hayatnya.

Share
Dipublikasikan oleh
Jafar Sodiq Assegaf