Ilustrasi SMK. (Dok)

Solopos.com, SOLO — Sejumlah kepala sekolah menengah kejuruan (SMK) swasta di Kota Bengawan menyebutkan jumlah siswa tak sesuai target dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2019/2020. Namun, mereka tetap menggelar KBM.

Kegiatan belajar-mengajar (KBM) terus berjalan. “Banyak SMK swasta yang tidak bisa memenuhi target penerimaan siswa baru dalam PPDB 2019 ini,” kata Kepala SMK Al Islam, Saifuddin Aziz, kepada Solopos.com di Solo, Jumat (19/7/2019).

Dari 40 SMK swasta di Solo, hanya beberapa sekolah yang dapat memenuhi daya tampung kelas. “Total SMK swasta di Solo itu ada 40 sekolah. Hanya beberapa sekolah yang bisa mendapatkan siswa sesuai daya tampung,” ujar dia.

Khusus SMK negeri, menurut dia, tidak ada masalah karena masih dapat memenuhi target daya tampung kelas. “Jumlah pendaftar di SMK negeri pada PPDB 2019 masih banyak sehingga sembilan SMK negeri tidak kekurangan siswa,” kata Aziz.

Pada PPDB 2018, SMK Al Islam menerima 89 siswa. Sementara itu, pada PPDB 2019 sekolah tersebut hanya menerima 50 siswa. “Daya tampung SMK Al Islam 108 orang, jadi setara denga tiga rombongan belajar [rombel]. Jumlah siswa pada PPDB tahun ini turun secara drastis,” kata dia.

Aziz menambahkan sekolah swasta tidak dimasukkan dalam sistem PPDB online. Pemerintah Provinsi Jateng memberi keleluasaan kepada peserta didik baru untuk memilih minimal empat sekolah negeri. Kebijakan itu dinilai merugikan, bahkan dapat mematikan sekolah swasta. “Pada tahun ini PPDB mengharuskan siswa memilih 4-8 sekolah. Pilihan ini sangat merugikan sekolah swasta,” ujar dia.

Hal senada disampaikan Kepala SMK Batik 2 Solo, Bambang Kandiawan. Ia mengaku pada PPDB 2018 mampu mendapatkan siswa sebanyak delapan rombel. “Kami pada PPDB 2018 mendapatkan siswa sebanyak 256 orang. Tapi, pada tahun ini SMK Batik 2 hanya mendapatkan 192 siswa. Saya rasa semua SMK swasta lain juga mengalami penurunan jumlah siswa,” kata dia.

Bambang berharap Pemerintah Provinsi Jateng memikirkan nasib SMK swasta. Selama ini pemerintah hanya berfokus membenahi SMK negeri. “SMK Swasta juga harus diperhatikan nasibnya,” ujar Bambang.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten