Kategori: Klaten

Jumlah Pengungsi Merapi Di TES Balerante Klaten Terus Berkurang


Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso

Solopos.com, KLATEN -- Jumlah pengungsi erupsi Gunung Merapi di tempat evakuasi sementara atau TES Desa Balerante, Kemalang, Klaten, terus berkurang.

Saat ini, tinggal sekitar 187 pengungsi yang masih bertahan di TES. Sebelumnya ada 257 pengungsi di TES Balerante setelah ada pengurangan jumlah pengungsi sebanyak 22 orang.

Setelah pendataan lagi, jumlah pengungsi tersisa 187 orang pada Minggu (27/12/2020) malam. Pengungsi yang pulang berasal dari berbagai dukuh kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Merapi. Seperti Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang, serta Sukorejo.

Per 1 Januari 2021, RSUD Bung Karno Solo Layani Pasien BPJS

Koordinator Pengungsian TES Balerante, Klaten, Jainu, menjelaskan para pengungsi erupsi Merapi dinyatakan pulang jika selama sepekan terakhir tak berada kembai ke TES.

“Jadi kami cek ke barak-barak. Jika ada yang sepekan lebih tidak kembali ke barak, mereka berarti sudah pulang walau mereka tidak memberi tahu kami bahwa mereka pulang. Tapi untuk kebutuhan data mereka sementara kami catat mereka pulang,” kata Jainu kepada Solopos.com melalui telepon, Senin (28/12/2020).

Tak hanya pengungsi yang berkurang. Jumlah ternak juga berkurang lantaran sebagian dibawa pengungsi pulang ke rumah masing-masing. "Terakhir ada 116 ekor sapi. Hari ini kemungkinan berkurang lagi sekitar empat atau lima ekor karena dibawa pulang," jelas Jainu.

Kaleidoskop Politik Solo 2020: Figur Cawali-Cawawali Bermunculan Berebut Restu Megawati

Para pengungsi erupsi Merapi Desa Balerante, Klaten, pulang ke rumah dan sepekan terakhir tak kembali ke TES atas inisiatif pribadi.

Jenuh dan Kelelahan

Begitu pula ketika mereka membawa pulang ternak menggunakan kendaraan angkut pribadi. Dugaannya mereka pulang lantaran sudah merasa jenuh dan kelelahan bolak-balik dari rumah ke TES setiap hari selama hampir dua bulan terakhir.

Sebagai informasi, warga dari kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Merapi Desa Balerante mengungsi mulai 7 November 2020 lalu. Hal itu setelah BPPTKG menyatakan level aktivitas Merapi naik dari waspada ke siaga pada 5 November 2020.

5 Warga Solo Meninggal Terpapar Covid-19, Kasus Positif Tambah 53 Orang

Sebagian pengungsi erupsi Merapi Desa Balerante, Klaten, selama ini ada yang pulang saat pagi hingga sore untuk mencari pakan ternak.

Jainu mengatakan telah melakukan berbagai upaya agar pengungsi tetap bertahan menempati TES selama status Merapi masih berada pada level siaga. Seperti melibatkan para pengungsi terutama kaum perempuan di dapur umum.

Begitu pula kerja sama dengan sukarelawan lainnya untuk menggelar aneka kegiatan kepada anak-anak yang bertujuan menghilangkan kejenuhan. Namun, pemerintah desa maupun sukarelawan tak bisa memaksa mereka tetap bertahan.

Satu Pegawai Meninggal Positif Covid-19, Operasional Puskesmas Gajahan Solo Ditutup

“Kami tidak bisa melarang dan tidak memberi imbauan untuk jangan pulang. Kami sadar mereka sudah lama di TES dan banyak hal-hal yang harus diselesaikan,” jelasnya.

Tetap Waspada

Meski sudah pulang ke rumah masing-masing, para pengungsi erupsi Merapi Desa Balerante, Klaten, itu sudah diingatkan untuk tetap waspada terkait aktivitas vulkanik Merapi. Mereka harus melakukan upaya antisipasi seperti menyiapkan kendaraan dan perbekalan jika sewaktu-waktu harus mengungsi.

Sementara itu, jumlah pengungsi yang menempati TES Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, masih fluktuatif. Pada Minggu (27/12/2020) malam, jumlah totalnya mencapai 39 orang.

Tokoh Mega Bintang Solo Surati Prabowo-Sandi Yang Kini Jadi Menteri, Ini Isinya

Informasi dari BPBD Klaten, para pengungsi yang menempati TES Tegalmulyo tak sepanjang waktu berada di TES. Mereka berada di TES hanya saat malam.

Saat pagi hingga sore, pengungsi pulang ke rumah masing-masing untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari mereka seperti berkebun ataupun beternak.

Pemkab Sukoharjo Petakan Calon Penerima Vaksin Covid-19, Ini Target Utamanya

Sebelumnya, Ketua Organisasi Pengurangan Risiko Bencana Desa Tegalmulyo, Subur,menjelaskan untuk menjaga semangat warga saat malam, TES menyediakan televisi sebagai salah satu media hiburan.

Alhasil, saban malam para pengungsi nonton bareng. “Karena juga ada pengungsi yang suka nonton sinetron, kami lengkapi selter dengan televisi. Pos pengungsian kecil kami lengkapi televisi sementara pada pos pengungsian besar kami siapkan proyektor,” katanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Suharsih