Jumlah Kasus Baru Covid-19 Naik Lagi, Inikah Normal Baru Indonesia?
Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto. (Antara/Sigid Kurniawan)

Solopos.com, SOLO -- Jumlah kasus baru positif Covid-19 di Indonesia kembali naik pada Rabu (27/5/2020) sehingga belum ada tanda-tanda tren penurunan kurva kasus. Dengan demikian, grafik kasus baru Covid-19 di Indonesia memang belum stabil.

Pada Rabu, pemerintah merilis jumlah kasus positif corona yang baru terkonfirmasi mencapai 686 kasus. Angka ini jauh lebih tinggi daripada tiga hari sebelumnya, yakni Selasa (26/5/2020) 415 kasus, Senin (25/5/2020) 479 kasus, dan Minggu (24/5/2020) 526 kasus.

Keluarga Positif Covid-19 Mudik dan Halalbihalal, Kontak dengan Puluhan Orang

Angka ini memang masih lebih rendah daripada puncak jumlah kasus baru pada 21 Mei lalu yang mencapai 973 kasus. Atau pada 23 Mei yang mencapai 949 kasus. Namun jumlah kasus baru Covid-19 masih berpotensi naik mengingat masih ada 12.667 pasien dalam pengawasan (PDP) di Indonesia.

Padahal penurunan jumlah kasus baru adalah kunci pemberlakuan normal baru atau new normal seperti narasi yang dikampanyekan pemerintah pusat. Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, Rabu (27/5/2020) menyebutkan masyarakat produktif menjadi kunci.

Ini Penjelasan Bos Bonza Soal Daya Penularan Covid-19 R0 yang Disebut Presiden Jokowi

Di sisi lain, masyarakat tetap harus aman dari Covid-19, padahal jumlah kasus positif baru masih cenderung naik.

"Beberapa hal kita diskusikan, bagaimana menjaga jarak sebagai bagian dari normal baru tetap kita terapkan. Kita pastikan bahwa siapa pun yang berada di fasilitas umum, di supermarket, atau di mal adalah orang yang sehat," ujar Yuri.

Masih Cari Solusi

Yuri menambahkan, salah satu indikator untuk mengetahui seseorang sehat atau tidak adalah dengan mengukur suhu tubuh. Terkait monitoring masyarakat yang di mal atau fasilitas umum saat kasus baru positif Covid-19 masih naik, Yuri menyebutkan solusinya masih dicari.

Update Kasus Covid-19 Indonesia: Pasien Positif Tambah 686 Jadi 23.851, Meninggal 1.473

"Apakah harus dilakukan pengkuran hanya di gerbang atau dipantau selama di dalam, memantau indikasi orang bersuhu tubuh tinggi. Ini masih dicari solusinya," ujar Yuri.

Begitu pula dengan aturan di kawasan industri, bagamana mempertahankan jarak dan kesehatan. "Apakah akan selektif diizinkan hanya untuk orang yang daya tahan tubuhnya bagus, misalnya di bawah 45 tahun," ujar Yuri.

Tempat Ibadah Segera Dibuka Lagi, Menag: Presiden dan Wapres Rindu Berjemaah

Yuri menegaskan setiap perkembangan akan dinilai dan dievaluasi, apakah sudah tepat atau perlu diatur lagi. Sebagai catatan, kasus baru positif Covid-19 yang masih naik menjadi tanda penularan di tengah aktivitas masyarakat terus terjadi setiap hari.

Cuci Tangan

Terkait harapan agar masyarakat mematuhi norma sehat yang baru, yang selalu rajin mencuci tangan, Yuri menyebutkan semua fasilitas kerja dan fasilitas umum harus menyediakan fasilitas yang mudah diakses untuk mencuci tangan dengan memakai sabun.

Presiden Jokowi Bicara Tren Daya Penularan Virus Corona R0, Apa Maksudnya?

Pengaturan di transportasi umum juga termasuk yang dipikirkan pemerintah, dalam hal ini Gugus Tugas.

"Kita akan berpikir bagaimana transportasi umum dan seterusnya. Parameternya tentu tidak sama di tiap provinsi dan kabupaten. maka kajian komprhensif pasti akan dibutuhkan. Ini akan jadi monitoring kita, yang terus dllakukan, karena ini data objektif dalam melakukan pengendalian," ujar Yuri.

Keluarga Positif Covid-19 Mudik dan Halalbihalal, Kontak dengan Puluhan Orang

Yuri menegaskan semua menginginkan seluruh masyarakat bisa kembali produktif di tengah jumlah kasus baru Covid-19 yang terus naik. Namun, katanya, aman dari Covid-19 menjadi syarat mutlak.

"Ini yang terus dilakukan di pusat dan daerah, mengkaji masalah yang muncul untuk kemudian disimpulkan dalam rangka mendorong produktifitas yang lebih baik lagi," ujar Yuri.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho