JPPRT: Ratusan PRT DIY Alami Kekerasan

JOGJA—Setiap tahunnya ratusan Pekerja Rumah Tangga (PRT) di DIY mengalami tindak kekerasan. Perlindungan terhadap PRT dinilai lemah karena profesi ini tak dijamin UU.

Pegiat Jaringan Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (JPPRT) DIY, Assih Suharsi di sela-sela aksi demonstrasi puluhan aktifis perempuan di depan Kantor Gubernur DIY, Rabu (15/2) mengungkapkan, PRT sangat rentan mengalami tindak kekerasan. Baik berupa kekerasan fisik, tak digaji layak hingga kekerasan seksual. Di DIY ia mengklaim, setiap tahunnya ratusan PRT mengalami tindak kekerasan yang beragam dari majikannya.

“Jumlahnya ratusan itu yang dilaporkan, kalau total persisnya kami memang belum mengadakan survei. Mulai dari kekerasan fisik, seksual dan tak diupah layak oleh majikannya. Mereka juga bekerja full seharian kebanyakan tidak ada hari libur juga enggak diberi hak istirahat,” tuturnya.

Upah PRT mayoritas di bawah UMP DIY saat ini sebesar Rp892.660 per bulan. Kalaupun ada yang melebihi UMP sangat tergantung dengan kemampuan dan belas kasih majikannya. “Rata-rata yang dilaporkan Rp300.000 per bulan ada yang Rp700.000 tapi kan tetap saja di bawah UMP. Kalau gajinya tinggi tergantung kalau majikannya baik ya digaji kalau enggak ya di bawah UMP,” ungkap Assih Suharsi.

Menurut dia, penyebab persoalan tersebut karena profesi ini tak dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. PRT dikategorikan pekerja infromal bukan formal yang dapat dijamin oleh UU ketenagakerjaan. Konsekuensinya, gaji yang diberikan majikan pun tak merunut pada UMP. Demikian pula perlindungan terhadap kekerasan, karena proses perekrutan tenaga kerja ini dilakukan secara kekeluargaan.

“Demikian pula kalau sakit, kan PRT tidak bisa menuntut. Kalau majikannya baik ya diberi uang berobat, kalau enggak pakai uang sendiri,” ujarnya.(Harian Jogja/Bhekti Suryani)



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom