Kondisi terowongan saluran irigasi di Jotangan, Bayat, Klaten, Rabu (20/3/2019). (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Pemerintah Desa (Pemdes) Jotangan, Kecamatan Bayat, https://soloraya.solopos.com/read/20180520/493/917414/wisata-klaten-senja-candi-plaosan-saat-lembayung-obati-penasaran" title="Wisata Klaten: Senja Candi Plaosan, Saat Lembayung Obati Penasaran">Klaten, berencana menyulap terowongan saluran irigasi yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda sebagai objek wisata air yang menarik di waktu mendatang.

Wisata dengan menyusuri terowongan saluran irigasi yang berada di bawah bukit Pegat kawasan Rawa Jombor itu diklaim bakal menjadi objek wisata air tiada duanya di Jateng.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Pemdes Jotangan di bawah kendali Supono selaku penjabat (Pj) kepala desa (kades) sejak 26 September 2018 mulai melakukan gebrakan di desa.

Salah satunya mendirikan Badan Usaha Milik (BUM) Desa dalam beberapa waktu terakhir. Berbekal BUM Desa itu, Pemdes Jotangan ingin membangun unit usaha, yakni https://soloraya.solopos.com/read/20190129/493/968416/pengunjung-umbul-ponggok-klaten-meninggal-seusai-foto-di-bawah-air" title="Pengunjung Umbul Ponggok Klaten Meninggal Seusai Foto di Bawah Air">objek wisata air. Kebetulan, di Jotangan ada saluran irigasi yang sumber airnya dari Rawa Jombor.

Panjang saluran irigasi dari Rawa Jombor-Jotangan lebih dari 1,5 kilometer. Lebar saluran irigasi itu sekitar dua meter. Saat melintasi Desa Jotangan, saluran irigasi itu melalui terowongan irigasi yang menembus bukit Pegat tak jauh dari Rawa Jombor.

Di antara terowongan itu terdapat celah udara. Oleh warga setempat, celah udara itu disebut “sumur”. “Sesuai hasil musyawarah warga, kami ingin memanfaatkan saluran irigasi di bawah bukit Pegat sebagai objek wisata. Jika berhasil, wisata menyusuri terowongan di Jotangan ini digadang-gadang menjadi satu-satunya di Jateng," jelas kata Pj. Kades Jotangan, Supono, saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (20/3/2019).

Terowongan saluran air di Jotangan sepanjang 300 meter sudah tertata rapi. Atap terowongan sudah disemen. Pintu masuk terowongan di bagian hilir berdiameter 1,5 meter.

Supono mengatakan di antara terowongan saluran irigasi itu ada rongga udara. Masyarakat di Jotangan biasa menyebut dengan sumur.

“Ada tiga sumur di Jotangan. Dua sumur berbentuk lingkaran. Satu sumur berbentuk kotak [sumur yang lain berada di Krakitan, berbentuk lingkaran]. Nantinya, susur terowongan ini akan diawali di sumur dengan diameter terbesar [sekitar 10 meter]. Susur terowongan menggunakan ban diproyeksikan bagi wisatawan yang suka tantangan. Bagi anak-anak atau para ibu, kami siapkan susur saluran irigasi seperti tubing di bagian hilir di Jotangan,” katanya.

Anggota BUM Desa Jotangan, Sigit Budi, 36, mengatakan saluran irigasi di Jotangan dibangun pada zaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1924. Hingga sekarang, bangunan konstruksi saluran irigasi itu masih kokoh termasuk terowongan irigasi yang menembus bukit Pegat.

“Terowongan saluran irigasi yang di Jotangan sudah tertata rapi. Atapnya sudah disemen. Kalau yang berada di Krakitan masih alami. Atap terowongan di Krakitan ada stalagtit. Sebagai tahap awal, kami fokus mempercantik pintu keluar terowongan dan masing-masing sumur. Sumber anggaran dari dana desa senilai Rp270 juta," ujar dia.

Pengembangan https://soloraya.solopos.com/read/20190131/493/968622/umbul-ponggok-klaten-telan-korban-warganet-bersimpati" title="Umbul Ponggok Klaten Telan Korban, Warganet Bersimpati">objek wisata air itu untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ke depannya Jotangan akan menggandeng desa lain, seperti Krakitan dan Krikilan untuk pengembangan objek wisata itu.

Sigit Budi mengatakan pengembangan wisata susur terowongan saluran irigasi di Jotangan akan dipadukan dengan objek wisata alam yang sudah ada, seperti bukit Randu Kombolo dan Watu Sepur.

“Membangun objek wisata dibutuhkan waktu lama. Paling tidak butuh lima tahun. Kami mengawali dari sekarang. Di puncak bukti Pegat juga akan disiapkan flying fox dan menara pandang dengan view Rawa Jombor. Total dana yang dibutuhkan minimal Rp1,5 miliar. Dengan memadukan objek wisata yang ada, semoga Jotangan dikenal masyarakat luas,” katanya.

Salah satu warga Jotangan, Romi, 29, mengaku sudah menyusuri terowongan sepanjang 300 meter di daerahnya berulang kali. Romi menyusuri terowongan guna mencari ikan.

“Kondisi di dalam sangat gelap. Saya menyusuri dengan jalan kaki. Ikannya memang banyak. Sekali menyusuri, biasanya memperoleh ikan satu karung [karung berukuran 25 kilogram]. Jenis ikannya nila, gurameh, dan lele. Terowongan saluran air yang di Jotangan memang sudah tertata rapi. Kalau di Krakitan atapnya masih tanah. Lantaran sudah lama, sudah muncul stalaktit juga. Saat menyusuri terowongan irigasi itu, saya tidak menemukan hewan liar seperti ular,” katanya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten