Joss! Ini Cara Desa Miskin di Sragen Bangkit dari Kubang Kemiskinan
Kepala Desa Sukorejo, Sukrisno, mencangkuli kebun yang menjadi model pertanian terintegrasi dengan perikanan dan peternakan di belakang rumahnya di Desa Sukorejo, Sambirejo, Sragen, Minggu (9/8/2020). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Sebuah desa di Sragen punya cara yang bisa ditiru untuk mengentaskan masyarakat desa setempat dari kemiskinan. Di desa bernama Sukorejo yang masuk wilayah Kecamatan Sambirejo, Sragen ini, warga setempat mengembangkan model pertanian terintegrasi.

Pada prinsipnya, konsep ini adalah integrasi antara kegiatan bertani atau bertanam sayuran dengan memelihara ikan dan ternak. Model pertanian modern ini mudah diterapkan.

Saat Solopos.com menyambangi Desa Sukorejo, Minggu (9/8/2020), aneka tanaman sayuran tumbuh secara berkelompok mengelilingi kolam ikan dengan ukuran panjang sekitar 10 meter x 15 meter. Kolam dan kebun ini berada di belakang rumah Kepala Desa (Kades) Sukorejo, Sukrisno.

PDIP Solo Bantah Tudingan Sapu Bersih Pendukung Gibran

Kebun itu dekat dengan kandang kuda dan kandang ayam. Di kolam itu, Sukrisno membudidayakan aneka jenis ikan, mulai dari tombro, gurami, dan koi. Air kolam digunakan untuk menyiram aneka sayuran, seperti sawi, bawang merah, Lombok, terong, tomat, papaya, singkong, seledri, dan sayuran lainnya.

Kebun didesain untuk mengintegrasikan pertanian, perikanan, dan peternakan dalam satu ruang lingkup kecil. Kebun itu juga berfungsi sebagai laboratotium uji coba sebelum ada gerakan massal satu desa.

Molor, Begini Nasib Penyediaan Internet Murah di Area Blank Spot Wonogiri

Menambahkan Bidang Pariwisata

Model perkebunan terintegrasi itulah yang dikembangkan desa di Sragen tersebut sebagai strategi untuk pengentasan kemiskinan. Selain tiga bidang itu, ia ingin menambahkan satu bidang lainnya, yakni pariwisata. Integrasi pertanian, perikanan, peternakan, itu berpotensi sebagai destinasi wisata alternatif.

“Kami mengawali dari sesuatu yang kecil. Saya memberi contoh dulu kepada warga. Prinsipnya kami tanam apa yang kami makan dan kami makan dari apa yang kami tanam. Artinya, ekonomi desa akan berputar di desa itu pula. Modelnya seperti sirkular ekonomi. Pendekatan ini yang memungkinkan untuk pemberdayaan keluarga miskin di Sukorejo yang masih masuk zona merah kemiskinan,” ujar Sukrisno, Minggu (9/8/2020).

Walah! Penganiayaan Ibu-Anak oleh Sopir di Sulsel Ternyata Rekayasa

Ia bermimpi semua masyarakat di desa di Sragen itu bersama-sama mengembangkan konsep intergasi empat bidang tersebut supaya masyarakat berdaya dan mandiri.

Dalam pemasaran produk sayurannya pun, Sukrisno akan mengoptimalkan peran badan usaha milik desa (BUMDesa). Ia mendukung ketika pengelola BUMDesa berinisiatif menghidupkan pasar sore di Pasar Bembem untuk memperdagangkan komoditas sayuran hasil produksi warga desa di Sragen tersebut.

“BUMDesa ini membidik para bakul sayuran yang biasa mangkal di Pasar Jambeyan dan Pasar Sine, Jawa Timur. Bila pasar sore itu jalan maka Pasar Bembem itu bisa menjadi pusat kulakan sayuran yang berasal dari produk warga Sukorejo. Untuk awalan, BUMDesa baru mendekati para pedagang sayur keliling dukuh di lingkungan Sukoarejo karena produksi sayurannya belum temata [optimal],” terangnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom