SOLOPOS.COM - Baju kotak-kotak Jokowi-Ahok (Dok/JIBI/Solopos)

Jokowi-Ahok

JAKARTA–Jokowi-Ahok boleh dibilang fenomenal. Komite Nasional Pemuda Indonesia menyoroti pasangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai refleksi kepemudaan 2012.

Promosi BI Rate Naik, BRI Tetap Optimistis Penyaluran Kredit Tumbuh Double Digit

Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Taufan EN Rotorasiko di Jakarta, Kamis, dalam refleksi akhir tahunnya menyebutkan berbagai peristiwa setahun ini memengaruhi pergerakan pemuda Indonesia.

Ia menyebut salah satu peristiwa yang menyita perhatian pada tahun 2012 adalah terpilihnya pasangan Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi (50 tahun), merupakan kandidat termuda dibanding lima calon gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta yang telah berlangsung tahun ini sedangkan Ahok (45 tahun), adalah kandidat kedua termuda dari lima kandidat calon wakil gubernur.

“Praktis kemenangan Jokowi-Ahok merupakan kemenangan bagi kaum muda atau mereka yang tengah memperjuangkan gerakan saatnya yang muda yang memimpin. Fenomena Jokowi-Ahok juga membangkitkan pergerakan politik pemuda,” kata Taufan. Ia menambahkan fenomena Jokowi-Ahok juga membuktikan bahwa orang dari daerah tidak selalu kalah kualitas dari orang Jakarta. “Kesederhanaan penampilan pasangan ini juga bisa menjadi pelajaran generasi muda yang ingin berkompetisi di panggung politik,” katanya.

Selain itu dunia kepemudaan pada 2012 diwarnai oleh pengunduran diri Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng karena menjadi tersangka kasus korupsi serta menjadi peristiwa pertama kali dalam sejarah Indonesia pascareformasi dan setelah ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Dua peristiwa itu bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda yang akan menjadikan 2013 sebagai tahun mempersiapkan diri menghadapi Pemilu 2014. Sportif dalam segala aktivitas, berkompetisi secara sehat, siap meraih kemenangan, berlapang dada dengan kekalahan, serta segera bekerja bila terpilih dan berani mundur bila ternyata tidak mampu,” kata Taufan.

Sportivitas menjadi sorotan bagi bangsa Indonesia apalagi dalam Olimpiade 2012 di London, wajah bangsa Indonesia tercoreng dengan dengan adanya atlet bulu tangkis yang didiskualifikasi karena dinilai tidak serius bermain, agar bisa memilih lawan di babak selanjutnya.

Ketika rasa kebangsaan di Tanah Air mengalami erosi dan memerlukan rekonstruksi, angin segar justru berhembus dari luar negeri tatkala keturunan bangsa Indonesia yang berdomisili di berbagai negara di dunia mengadakan Kongres I Diaspora Indonesia pada 6-8 Juli 2012 di Los Angeles, AS.

“Inilah reaktualisasi semangat Sumpah Pemuda dalam skala global,” kata Taufan. Hal yang perlu dirumuskan lebih lanjut adalah bagaimana kepedulian diaspora Indonesia bisa dioptimalkan untuk kemajuan bangsa dan negara seperti mempercepat alih teknologi dari negara tempat domisili ke Tanah Air, katanya.

Menyongsong 2013, katanya, pemuda Indonesia harus meningkatkan kemandirian dan kepedulian terhadap negara serta menciptakan ruang-ruang untuk tumbuh dalam koridor kebhinekaan dan kerakyatan.

Ia berharap karya-karya dari pemuda muncul kepermukaan baik dari bidang politik maupun dalam bidang kewirausahaan untuk menopang masa depan bangsa Indonesia kedalam satu atap rumah berbangsa dan bertanah air.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya