Joko Anwar. (Instagram/@jokoanwar)

Solopos.com, SOLO – Sineas populer Joko Anwar menyayangkan sejumlah film Indonesia bergenre horor dibuat asal-asalan. Dia menilai kebanyakan film horor Indonesia dibuat hanya dengan unsur membuat kaget.

Menurut Joko Anwar, film horor tidak boleh dibuat sembarangan. Sebab, penonton jelas tidak akan tertarik dengan film yang digarap asal-asalan. Terbukti, dari puluhan film horor lokal yang dirilis di bioskop 2019 ini baru dua yang meraih sejuta penonton, Kuntilaknak 2 dan Danur 3: Sunyaruri.

"Saya penonton film horor. Ada banyak sekali yang saya tonton. Bahkan film horor sejelek apa pun saya tonton. Saya lalu bertanya kepada diri sendiri, film horor seperti apa yang membuat saya takut?” ungkap Joko Anwar seperti dilansir Liputan 6, Minggu (13/10/2019).

Joko Anwar berpikir ada dua hal yang menjadi masalah utama produksi film horor. Pertama skenario yang dibuat asal-asalan. Serta terlalu banyak jumpscare.

“Pertama, skenario tidak dibuat dengan baik. Merasa bahwa kalau hantu sudah muncul, itu sudah cukup. Padahal di luar sana penonton film Indonesia sudah cerdas. Orang menonton ke bioskop mencari cerita bukan hantu-hantuan,” terang dia.

Bagi Joko Anwar, memberikan efek terkejut dan ketakutan saja tidak cukup. Film harus dibuat dengan alur cerita dan penokohan yang kuat. “Bikin orang kaget saja tidak cukup. Naskah harus kuat, penokohan harus kuat. Itu kuncinya,” sambung dia.

Joko Anwar menambahkan, film Indonesia bergenre horor garapannya, Pengabdi Setan, semestinya menjadi standar terendah bagi film horor lokal lainnya. Seperti diketahui, film tersebut mendapat enam Piala Citra di Festival Film Indonesia 2017. Film horor itu juga laris-manis di pasaran dengan mengantongi 4,2 juta penonton di Indonesia serta diputar di beberapa negara lain.

Sumber: Liputan6.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten