Pengguna jalan melintas di dekat area Pasar Klewer sisi timur, Solo, Jumat (21/6/2019). (Solopos/M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SOLO -- Sudah hampir dua tahun sejak September 2017 para pedagang Pasar Klewer Timur Solo menempati kios darurat di Alun-alun Utara Keraton Solo.

Mereka harus bertahan di sana dengan kondisi yang ada sambil menunggu pasar mereka dibangun kembali. Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Klewer Timur, Sutarso, berharap pembangunan segera dimulai mengingat mereka sudah cukup lama bertahan di kawasan tersebut.

Kendati demikian ia memaklumi proses birokrasi yang rumit untuk mendapatkan dana pembangunan. Komunikasi dengan Pemkot Solo terus dijaga. Setiap waktu ia selalu melakukan pengecekan dengan menanyakan mulainya pembangunan.

Terakhir, pada Selasa (18/6/2019), perwakilan pedagang diajak Dinas Perdagangan Solo ke Semarang membahas kelanjutan rencana pembangunan pasar.

“Ya memang kami tidak henti-hentinya menanyakan kapan pembangunan segera dimulai. Kemarin tanggal 18 diundang Dinas Perdagangan untuk ke Semarang membahas ini [Pasar Klewer Timur]. Semoga setelah ini ada kabar baik. Secepatnya dibangun dan terlaksana dengan lancar,” harapnya.

Dengan terealisasinya pembangunan, Sutarso dan pedagang lain bisa kembali berjualan dengan baik. Ia kemudian bercerita bagaimana mereka bertahan dengan suasana baru saat kali pertama dipindah ke pasar darurat.

Setengah tahun pertama omzet turun hampir 25% karena ditinggal beberapa langganan. Tak mau berdiam diri, Sutarso putar otak menghubungi pelanggan lama disusul pemasangan spanduk di bekas Pasar Timur yang berisi alamat baru kiosnya.

Upaya tersebut tak sepenuhnya mempan. Namun lama-lama pembeli baru berdatangan sampai sekarang. “Ya sekarang sudah agak mendingan,” kata dia.

Sutarso mengatakan ini merupakan kali kedua ia berjualan di pasar darurat. Sekitar 1986 ia juga berjualan di lokasi serupa sembari menunggu pembangunan Pasar Klewer timur.

Waktu itu Sutarso dan ratusan pedagang lainnya biasa berjualan di pinggir jalan. Pemkot Solo kemudian menertibkan dengan mengumpulkan mereka pasar darurat di sekitar pasar induk.

Selang beberapa bulan berjualan, pembangunan selesai. Mereka diminta pindah ke Pasar Timur. “Kalau dulu cepet banget [pembangunannya] enggak tahu mungkin birokrasinya berbeda dengan sekarang,” kata dia.

Sekarang ini total pedagang di Pasar Timur ada 526 orang. Sebanyak 498 menempati alun-alun utara. Sisanya berjualan di sisi barat pasar. Pedagang lain, Rahman mengatakan hal sama.

Ia berharap pembangunan segera rampung agar penjualannya kembali stabil. Sejak pindah ke pasar darurat diakuinya omzet menurun karena beberapa pembeli lama tak tahu alamat kios barunya.

Sementara ia tak tahu nomor telepon mereka. “Semoga segera pindah dan lebih ramai lagi seperti dulu,”kata dia.



Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten