Jembatan Gantung Kliwonan Pilang Sragen Segera Dipensiunkan
Warga melintasi jembatan gantung Kliwonan melewati Sungai Bengawan Solo di Dusun Kuyang, Desa Kliwonan, Masaran, Sragen, Kamis (6/12/2018). (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sragen merencanakan proyek pembangunan jembatan yang melintasi Sungai Bengawan Solo di Desa Pilang senilai Rp45 miliar. Jembatan itu diproyeksikan sebagai pengganti jembatan gantung Kliwonan yang dinilai kurang layak seiring bertambahnya usia.

Jembatan gantung Kliwonan hingga kini masih dipakai oleh pengendara motor, pengendara sepeda angin dan pejalan kaki. Jembatan gantung yang diresmikan pada 4 Juli 2002 oleh Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto, itu sudah beberapa kali direnovasi. Terakhir, renovasi dilakukan dengan mengganti permukaan jembatan dari bahan kayu menjadi bahan seng besi pada Mei 2018 lalu.

Kepala DPUPR Sragen Marija mengatakan jembatan gantung Kliwonan sudah saatnya dipensiunkan karena semakin lapuk dimakan usia. Pemkab Sragen memahami arti penting jembatan gantung itu bagi penunjang mobilitas warga di dua kecamatan yakni Masaran dan Plupuh. Apalagi, jembatan gantung itu merupakan akses yang menghubungkan desa wisata batik Desa Pilang dan Kliwonan di Masaran serta Desa Gedongan, Pungsari, Kecamatan Plupuh. Jembatan itu juga biasa diakses oleh kalangan pelajar dan buruh pabrik. Atas dasar itu, Pemkab Sragen berencana membangun jembatan permanen sebagai ganti jembatan gantung Kliwonan.

"Lokasi jembatan permanen itu berada tak jauh dari jembatan gantung. Jaraknya sekitar 200 meter. Bila sudah dibangun, jembatan gantung tidak akan dipakai lagi sebagai akses kendaraan roda dua. Tapi, jembatan gantung masih bisa dipakai untuk sekadar berfoto selfie," papar Marija kepada Solopos.com, Kamis (13/12/2018).

Sebagai bukti keseriusan dalam membangun jembatan itu, DPUPR Sragen sudah menyusun detailed angineering design (DED). Setelah DED jadi, tahapan berikutnya adalah membebaskan lahan penghubung badan jembatan dengan badan jalan yang sudah ada. Saat ini, sebagian lahan yang akan dijadikan akses menuju jembatan sudah dibangun rumah-rumah penduduk.

"Nanti akan kami identifikasi dulu. Ada batas-batasnya. Ada yang masih menjadi bantaran sungai, tapi ada pula yang sudah menjadi milik perorangan," jelas Marija.

Marija belum bisa mematikan sumber dana yang bisa dipakai untuk membangun jembatan senilai sekitar Rp45 miliar itu. Dia berharap dana itu berasal dari dana alokasi khusus (DAK) dari pemerintah pusat maupun bantuan keuangan dari Provinsi Jawa Tengah. Dia juga belum bisa memastikan apakah proyek ini bisa dimulai pada 2019 mendatang.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya


Kolom