Ilustrasi money politics (Solopos-Whisnupaksa Kridhangkara)

Solopos.com, BOYOLALI -- Aksi bagi-bagi uang terjadi dua hari menjelang pemilihan kepala desa (pilkades) serentak Boyolali, Kamis (27/6/2019).

Belasan warga Desa Sempulur, Kecamatan Karanggede, Boyolali, mengaku menerima amplop berisi uang Rp50.000 seusai menunaikan Salat Zuhur di masjid Barokah, Dukuh Tempel, Desa Sempulur, Kamis siang.

Salah satu warga Sempulur, JN, mengatakan seusai salat berjamaah, seorang laki-laki mendatanginya dan memberi amplop. Setelah dibuka ternyata amplop berwarna putih tersebut berisi uang. JN mengatakan si pemberi uang tidak asing baginya.

“Mungkin warga Sempulur tapi berbeda dukuh,” ujar DN ketika ditemui Solopos.com di desa, Jumat (28/6/2019).

Meski laki-laki itu sebelumnya juga ikut salat berjamaah di masjid itu, JN menambahkan laki-laki tersebut tidak rutin salat di masjid tersebut. JN menuturkan sambil memberi amplop, laki-laki itu juga berpesan agar dirinya menggunakan hak pilih dalam pilkades Sabtu (29/6/2019) dan mencoblos cakades nomor urut 3 bernama Sugiarto.

Keterangan JN dibenarkan warga lainnya, DH, yang juga menerima amplop di lokasi yang sama. Sementara itu berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com dari sejumlah warga, wilayah Tempel sebenarnya bukan menjadi basis pendukung Sugiarto.

Secara geografis, wilayah Sempulur yang dialiri satu sungai kecil di tengahnya, terbagi menjadi dua, yaitu sisi utara sungai dan sisi selatan sungai. Basis pendukung Sugiarto berada di sisi utara sungai, berdekatan dengan tempat tinggalnya.

Sementara sisi selatan sungai, termasuk Dukuh Tempel menjadi basis pendukung dua cakades lain yaitu petahana Suhirman dan satu penantang lain, Ahmad Yani.

Dugaan bahwa amplop itu dari Sugiarto juga didasari fakta salah satu pendukungnya merupakan pengusaha borongan (tukang bangunan) yang memiliki CV. Namun demukian, saat dimintai konfirmasi Sugiarto mengatakan tidak mengetahui adanya pembagian uang di masjid Barokah.

“Saya tidak tahu-menahu ada uang itu,” ujar Sugiarto saat ditemui di Kantor Desa Sempulur.

Sebelumnya, saat pengambilan nomor urut, Rabu (25/6/2019) lalu, Sugiarto datang membawa dua peti. Peti tersebut ditujukan untuk dirinya sendiri dan perangkat desa jika terbukti melakukan tindakan penyelewengan dana maupun amanah masyarakat.

“Dari janji itu saya tidak mungkin melakukan money politics, itu untuk pengingat saya sendiri, lagipula tidak ada bukti yang mengarah ke saya,” kata dia.

Sementara itu, Pj. Kepala Desa Sempulur, Widodo, menyebutkan selama ini tahapan pilkades di desanya berjalan aman dan tertib. “Tidak ada kerawanan dalam masyarakat,” imbuh Widodo.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten