Jelang Hari Rabies, DMFI Persoalkan Lagi Perdagangan Daging Anjing
Konsumsi daging anjing di Kota Solo (Mahfud B/Whisnu Paksa/JIBI/Solopos)

Solopos.com, JOGJA — Perdagangan daging anjing untuk konsumsi manusia dianggap merugikan pemerintah karena memperburuk penularan rabies yang mematikan dan penyakit zoonosis lainnya. Padahal, di tengah pandemi Covid-19 saat ini, perdagangan daging anjing tetap berjalan normal di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Solo dan Jogja.

Menjelang 28 Desember yang diperingati sebagai Hari Rabies Sedunia, juru kampanye nasional dan internasional Dog Meat-Free Indonesia (DMFI) telah menyerukan agar pihak berwenang di Indonesia segera mengambil tindakan yang tegas untuk mengatasi ancaman serius rabies. Ia mengaitkan persebaran penyakit itu dengan aktivitas perdagangan daging anjing yang lazim dilakukan di Indonesia.

Penelitian Ahli Brasil Ungkap Efek Virus Corona di Otak…

Ia menyebut jual-beli daging anjing secara tradisional di antara warga Indonesia itu sebagai perilaku brutal dan ilegal dan mempengaruhi setidaknya satu juta ekor anjing setiap tahunnya.

Program Manager Animal Friend Jogja, Angelina Pane, menuturkan pada 2018, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Republik Indonesia menggambarkan perdagangan ini sebagai ‘kekejaman pada hewan’ setelah meninjau rekaman investigasi DMFI.

Tak Dianggap Makanan

“Pemerintah pusat pun telah menyatakan secara terbuka bahwa anjing tidak dianggap sebagai makanan di Indonesia. Namun hingga saat ini kami masih menunggu kementerian untuk bertindak, dan sebagian pemerintah provinsi gagal menanggapi secara serius resiko rabies dan kekejaman hewan yang luar biasa dari perdagangan ini,” ujarnya, Senin (28/9).

Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia telah menandai pemberantasan rabies sebagai prioritas kesehatan global, serta para menteri kesehatan dari berbagai belahan dunia telah berjanji untuk memberantas penyakit zoonosis ini pada tahun 2030, sampai hari ini masih ada setidaknya 70,000 orang yang meninggal karena rabies setiap tahun, dengan kerugian global mencapai US$8,6 miliar.

Tuding Najwa Shihab Memprovokasi, Luhut Pandjaitan Viral

Asia masih terus menanggung beban terbesar dari penyakit yang–meskipun fatal–dapat dicegah dengan vaksin ini, dan menyumbang 45% dari angka kematian rabies global. Para pemuka dan ahli kesehatan hewan dan manusia serta organisasi antarpemerintah, menetapkan vaksinasi anjing massal dan pembatasan pergerakan anjing sebagai syarat minimum untuk mengendalikan dan memberantas penyakit ini.

WHO secara eksplisit menyoroti perdagangan anjing untuk konsumsi manusia sebagai faktor pendukung penyebaran rabies di Indonesia. Namun terlepas dari pernyataan WHO, ataupun ketersediaan protokol pemberantasan rabies yang mapan dan sukses dilaksanakan di berbagai negara, perdagangan daging anjing di Indonesia terus meningkat tanpa bisa dihentikan.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Sumber: Harian Jogja



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom