Tutup Iklan
Ilustrasi ulama (Solopos/Whisnupaksa)

Solopos.com, SOLO – Pergolakan di Mekah, Arab Saudi terjadi awal abad ke-20, tepatnya pada 1926. Kala itu, Sultan Abdul Aziz bin Ibnu Saud mengambil alih kekuasaan pemerintahan Raja Syarif Husain. Akibatnya, banyak ulama besar dari kelompok ahlul bait yang ditangkap dan dipenjara karena dianggap menentang pemerintahan Wahabi.

Akhirnya, sejumlah ulama dari golongan ahlul bait berhaluan ahlussunnah waljamaah meninggalkan Tanah Mekah. Mereka menyebar ke penjuru dunia, termasuk ke Nusantara. Seperti Sayid Syekh Umar Al Yamani yang berkiprah di Parepare, Assayyid Syekh Muhammad Al Akhdal mengajar di Pinrang dan Mandar, serta Sayyid Syekh Mahmud Al Jawab Al Madani.

Selain berkebangsaan Arab, ada pula sejumlah ulama keturunan Bugis-Makassar yang kembali ke Tanah Air. Merekalah yang berperan besar mengembangkan pendidikan Islam baik secara formal maupun nonformal.

Dalam penelitian yang dipublikasikan Badan Diklat dan Litbang https://solopos.com/topic/3458/kementerian-agama-RI">Kementerian Agama RI, ada dua permasalahan yang diteliti.Yakni bagaimana jaringan keilmuan ulama awal abad XX terbentuk dan apa peran-peran ulama dalam pembentukan jaringan tersebut. Ini merupakan rangkaian penelitian yang telah dilakukan pada 2017 di Sulawesi Selatan dan dilanjutkan pada 2018.

Ulama di Gowa dan Takalar

Gowa dan Takalar pernah menjadi sentra pembentukan jaringan intelektual ulama pada pertengahan abad ke-17. Namun sentra kaderisasi angngaji kitta yang membanggakan mengalami kemerosotan. Misalnya, Bontoala sebagai basis pengembangan https://solopos.com/topic/3458/kementerian-agama-RI">Islam hancur karena perang Rompegading (1824).

Begitu pun dengan kehadiran Syekh Djaluddin Al-Aidid yang mendirikan pusat halakah di Cikoang-Laikang-Takalar yang sangat terkenal pada zamannya. Namun mengalami kemunduran. Perkembangan selanjutnya mulai didirikan kembali sentra tempat belajar yang baru, utamanya pada awal abad ke-20. Misalnya di Cikoang, angngaji kitta digalakkan oleh Anrongguru Arunda Tuan Ngaru dan Abubakar Tuan Panawang luaran halakah yang diasuh oleh [KH] Ahmad Bone.

Di daerah pedalaman/pegunungan, angngaji kitta digalakkan oleh ulama tradisional yang bernama [K.H.] Saidi di daerah Malakaji-Gowa; Ramli, Puang H. Makka, [K.H.] Ramli, Puang Ramma, dan seorang ulama Jepang alumni Al-Azhar yang mendedikasikan dirinya di Indonesia timur.

Corak dan karakteristik ulama yang melakukan dinamisasi perkembangan Islam di Jeneponto dan Bantaeng dapat diklasifikasi dalam tiga kelompok besar. Pertama, ulama yang tidak berafiliasi dengan kekuatan politik mana pun. Mereka menjaga jarak dari rezim dan memusatkan perhatian ke dakwah dan tarbiah.

Kedua, ulama yang membangun afiliasi dan bersinergi dengan kekuatan politik lokal. Mereka disebut sebagai pihak yang akomodasionis. Ketiga, ulama yang memilih jalan dakwah melalui pengembangan pranata kelembagaan berbasis masjid dan pendidikan pondok pesantren.

Ulama di Bulukumba dan Selayar

Ulama di Bulukumba dan Selayar serta jaringannya meliputi cakupan kehidupan yang sangat luas, tidak hanya dalam mengajar agama dan mengkaji Alquran dan hadis. Tetapi juga upaya mewujudkan masyarakat Islami.

Mereka mengajarkan agama di rumahnya, tetangganya, masjid, pondok pesantren, bahkan di tanah lapang. Masyarakat Islami tidak hanya diwujudkan lewat ritual keagamaan, tetapi juga mendirikan perkumpulan sosial keagamaan, ekonomi, lembaga pendidikan bahkan organisasi politik.

Bone, Wajo, dan Soppeng

Terdapat fleksibilitas jaringan ulama di daerah Bone, Wajo, dan Soppeng dalam merespons dan menjawab perubahan sosial politik dalam konteks lebih luas. Pada awal abad ke-20, ketika kontrol pemerintah Hindia Belanda menguat, transmisi keilmuan https://solopos.com/topic/3458/kementerian-agama-RI">Islam yang diperankan oleh ulama bekerja secara nonformal melalui pengajian di masjid.

Pada periode ini, imam masjid memiliki peran yang sangat signifikan dalam mentransmisikan ajaran Islam. Ketika politik etis Hindia Belanda mulai menghasilkan elite baru yang terdidik, jaringan ulama pun dengan dukungan otoritas lokal merespons dengan membangun basis pendidikan yang lebih modern.

Enrekang dan Palopo

Jaringan ulama di Enrekang dan Palopo berkutat di kerajaan yang menjabat sebagai qadhi atau disebut puang kali. Mereka memiliki kemampuan dan pemahaman agama yang mumpuni sebagai hasil belajar dari Mekah.

Pinrang

Jaringan intelektual yang dilakukan oleh para ulama di Kabupaten Pinrang pada awal abad ke-20 memperkuat basis intelektualnya melalui mangaji tudang. Sistem pendidikan mangaji tudang memperkuat akar kultur pada pada karakter anak didik yang berbasis budaya moral.

Hal tersebut telah dicontohkan oleh para santri ketika menimba ilmu maupun transmisi keilmuan yang berlangsung penuh keikhlasan tanpa tendensi material. Hasilnya terlihat dalam tata aturan moral yang begitu menggambarkan nilai kesopanan sebagai budaya Timur.

Polewali Mandar

Hasil penelitian di Polewali Mandar tersebar di dua titik sentral. Pertama, Campalagian yang berpusat di Masjid Raya Campalagian. Kedua, Pambusuang yang berpusat di Masjid At-Taqwa.

Majene

Jaringan ulama di Majene dijabarkan dalam tiga poin. Pertama, jaringan keilmuan ulama di Majene terbentuk berkat peran serta beberapa ulama yang memiliki jaringan ke beberapa lokasi. Ada yang berjejaring ke Mekah, Sumatra, Jakarta, Mangkoso, Salemo, dan jaringan lokal seperti Campalagian, Pambusuang, dan Tinambung.

Kedua, peran ulama dalam pembentukan jaringan di Kabupaten Majene lebih condong sebagai seorang guru yang melahirkan generasi selanjutnya. Selebihnya, ada yang membangun pesantren, masjid, sebagai pusat kaderisasi ulama.

Ketiga, adapun dampak lebih jauhnya dari keberadaan para ulama tersebut hingga kini. Seperti pesantren Ihyaul Ulum DDI Baruga yang tetap eksis membina santri. Ada juga beberapa masjid rintisan ulama yang hingga kini menjadi salah satu pembinaan keagamaan di Kabupaten Majene.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten