Jejak Tikus Pithi di 5 Daerah, Hanya Mampu Tembus Pilkada Solo
Ilustrasi (Antara)

Solopos.com, SOLO -- Pendaftaran calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah dari jalur independen resmi ditutup, Minggu (23/2/2020) pukul 24.00 WIB. Sejumlah calon dikabarkan gagal menjadi kontestan Pilkada serentak 2020, September mendatang.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, setidaknya ada tiga pasangan calon (paslon) yang diusung oleh gerakan Tikus Pithi yang dikomandoi oleh Yayasan Surya Nuswantara. Ketiga paslon itu yakni Suroto-Suparman (Roman) di Pilkada Sragen, Didik Mardiyanto-Listyowati di Pilkada Boyolali, dan Bagyo Wahyono-FX Supardjo (Bajo) di Pilkada Solo.

Seminar Tuyul: Kisah Tuyul Dari Omongan Masyarakat Hingga Bisa Disuap

Dari ketiga calon itu, hanya di Solo, pasangan Bajo yang berhasil memenuhi syarat minimal dukungan yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Selain Bajo, di Kota Bengawan itu masih ada paslon dari jalur independen lain yakni Muhammad Ali Naharussurur (Abah Ali)-Achmad Abu Jazid (Gus Amak) atau Alam.

Sedangkan, dua paslon lain bertumbangan. Di Sragen, meski bisa menghimpun 60.000 dukungan, pasangan Roman tidak bisa mengikuti tahapan berikutnya. Sebab, kubu Roman tak menyerahkan cetakan formulir B1.1 KWK dan B2 KWK dari sistem informasi calon (Silon) KPU.

Bukan Begal, Ini Yang Paling Ditakuti Pengendara Mobil Zaman Dulu

Padahal, cetakan itu menjadi dasar KPU untuk menentukan jumlah dukungan apakah memenuhi syarat minimal atau tidak. Jika memenuhi, paslon berhak masuk ke tahap selanjutnya yakni verifikasi faktual dukungan.

Selain itu, di Boyolali, hingga Minggu malam, pasangan Didik-Listyowati hanya bisa mengunggah 52.336 dukungan. Padahal, syarat minimal dukungan untuk maju melalui jalur independen berjumlah 60.636 dukungan. Paslon ini pun batal menjadi penantang paslon PDIP dan Golkar, Mohammad Said Hidayat-Wahyu Irawan.

Kota Solo Supermacet, Inilah Beberapa Strategi Mengurai Macet Di Sejumlah Negara

Dikutip dari Solopos.com, gerakan Tikus Pithi Hanoto Baris yang digawangi Yayasan Surya Nuswantara ini menargetkan keikusertaan dalam tujuh Pilkada di Jawa Tengah, yakni Solo, Boyolali, Sragen, Demak, Blora, Kendal, dan Rembang.

Menurut Ketua Yayasan Surya Nuswantara, Tuntas Subagyo, terjunnya yayasan ke dalam politik sebagai satu cara untuk melakukan perubahan di Indonesia. Tujuannya agar Indonesia tak hanya dikuasai partai politik. “Kami ini kan benar-benar gerakan dar bawah,” ujar dia, beberapa waktu yang lalu.

Bukan Cukai Minuman Manis, Cukai Emisi Karbon Jauh Lebih Penting

Di Wonogiri, dua calon independen gagal menjadi kontestan dalam Pilkada 2020. Mereka adalah Thoyib-Totok Kusbiyanto dan Hartono-Sunarto. Paslon Thoyib-Totok mengaku kekurangan dukungan untuk memenuhi syarat minimal. Sedangkan, Hartono, berencana maju melalui kendaraan partai politik.

Ketiadaan calon independen dalam Pilkada di sejumlah daerah ini berpotensi terjadi lawan kotak kosong. Indikasinya dilihat dari perolehan suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Pileg 2019 lalu dengan jumlah lebih dari 50 persen. Daerah itu yakni Boyolali (70,98 persen), Wonogiri (55,16 persen), dan Solo (55,39 persen) sendiri jika tidak ada calon independen.

Beli Oli Pertamina, Berbagi Kebaikan Ke Seluruh Nusantara

Dilihat di atas kertas, dari tiga daerah di atas, Pilkada Solo dan Pilkada Boyolali yang dipastikan tidak ada lawan dari partai politik. Hal ini terlihat dari persentase perolehan suara partai pada Pileg 2019 dan Pilkada 2015.

Berbeda dengan di Boyolali, Bupati Seno Samodro menyatakan keyakinannya bahwa calon yang dia dukung pada Pilkada mendatang akan menghadapi kotak kosong. Artinya, dia tidak mempermasalahkan jika Said-Wahyu Irawan menghadapi kotak kosong.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho