Jejak Pantai Purba di Daratan Miri Sragen

Selain ditemukan batu karang, di daratan Miri, Sragen, juga banyak ditemukan bebatuan hitam dengan permukaan kasar mirip bebatuan yang ada di bibir Pantai Krakal, Gunung Kidul. Mengingat banyaknya fosil hewan lain yang ditemukan, ilmuwan menyebut Daratan Miri adalah sebuah pantai lebih dari satu juta tahun lalu.

 Dinding batu dengan bentuk menyerupai batu karang menjadi pemandangan yang bisa disaksikan di Kedung Grujug, Miri, Sragen. (Moh. Khodiq Duhri/Solopos.com)

SOLOPOS.COM - Dinding batu dengan bentuk menyerupai batu karang menjadi pemandangan yang bisa disaksikan di Kedung Grujug, Miri, Sragen. (Moh. Khodiq Duhri/Solopos.com)

Solopos.com, SRAGEN — Suara derau air terdengar dari kejauhan ketika sejumlah pengunjung menginjakkan kaki di Dusun Pungkruk, Desa Doyong, Kecamatan Miri, Sragen. Setelah menuruni jalan setapak dan berkelok-kelok sepanjang sekitar 500 meter, sumber suara derau air itu akhirnya berada di depan mata.

Di sini lah letak air terjun nan eksotis bernama Kedung Grujug. Secara etimologi bahasa, kedung berarti lubuk sungai yang dalam, sementara grujug berarti air jatuh. Air terjun Kedung Grujug baru populer pada 2015 silam. Air terjun yang hanya setinggi sekitar 5 meter memang tidak bisa disandingkan dengan air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu atau Jumog di Ngargoyoso.

Kedung Grujug di Miri, Sragen. (Moh. Khodiq Duhri/Solopos.com)

Kendati begitu, air terjun Kedung memiliki nilai lebih yang tidak dimiliki oleh Grojogan Sewu atau Jumog. Nilai eksotisme dari air terjun ini terletak pada dinding batu karang yang menghiasai kanan dan kirinya. Dinding batu karang itu membentuk motif garis-garis mendatar. Motif garis-garis itu terbentuk karena adanya gerusan air secara terus menerus selama jutaan tahun lalu. Pertanyaan yang kerap muncul di benak masyarakat adalah mengapa di Kedung Grujug terdapat batu karang layaknya di pinggir pantai?

Espos Plus

Gas Air Mata Penyebab Asfiksia, Mati Lemas Kurang Oksigen di Tragedi Kanjuruhan

+ PLUS Gas Air Mata Penyebab Asfiksia, Mati Lemas Kurang Oksigen di Tragedi Kanjuruhan

Gas air mata hingga mengakibatkan penghirupnya mengalami asfiksia diduga menjadi penyebab utama jatuhnya ratusan korban jiwa pada tragedi di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022) malam.

Espos Plus Lainnya

+ PLUS Temuan Situs Perbengkelan Purba di Dasar Waduk Gajah Mungkur

Sebuah penelitian pada 1980 menemukan situs perbengkelan purba yang kini sebagian telah tergenang bendungan serbaguna Wonogiri yang lebih dikenal dengan Waduk Gajah Mungkur.

+ PLUS Menanti Wajah Baru Gemolong

Wajah baru Gemolong layak dinanti. Selain akan berdiri factory sharing atau rumah produksi bersama mebel dan furnitur unggulan Sragen, di Gemolong juga bakal dibangun sebuah kampus Politeknik Pariwisata (Poltekpar) yang diyakini akan memberi multiplier effects di sektor ekonomi,

+ PLUS 44 Jembatan Penyeberangan Perahu di 600 Kilometer Sungai Bengawan Solo

Sebelum berdiri jembatan megah yang melintang di sepanjang hampir 600 kilometer Sungai Bengawan Solo di Pulau Jawa, masyarakat masa kuno menggunakan 44 perahu penyeberangan atau tambangan.

+ PLUS Akulturasi Budaya Arab dan China Lahirkan Kebaya, Lambang Emansipasi Wanita

Kebaya berasal dari bahasa Arab yakni kaba yang berarti pakaian dan diperkenalkan lewat bahasa Portugis ketika mereka mendarat di Asia Tenggara. Sementara versi lain mengatakan kebaya ada kaitannya dengan pakaian tunik perempuan pada masa Kekasiran Ming di China.

+ PLUS Garam Langka Jono dari Sumur Air Laut Selat Muria

Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan menghasilkan garam langka bersumber dari air sumur yang konon asin karena berasal dari air laut Selat Muria yang terperangkap.

+ PLUS Jejak Batik dari Zaman Majapahit hingga Dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunia

Pada Oktober 2009, batik dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Unesco. Jauh sebelum mendapat pengakuan internasional, tradisi membatik sudah jadi bagian dari budaya Kerajaan Majapahit.

+ PLUS Sebelum jadi Alat Pengendali Massa, Gas Air Mata Dipakai dalam Perang Dunia I

Dewasa ini gas air mata dipakai aparat untuk membubarkan massa yang berpotensi menimbulkan keributan seperti saat terjadi demonstrasi. Jauh sebelum itu, gas air mata pernah dipakai sebagai salah satu kelengkapan persenjataan dalam Perang Dunia I.

+ PLUS Gas Air Mata, Penyebab Tragedi Stadion Nasional Peru, Kini Kanjuruhan

Tragedi penembakan gas air mata yang menyebabkan jatuhnya ratusan korban jiwa di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022), pernah terjadi di Lima, Peru yang mengakibatkan 328 orang tewas.

+ PLUS Ujung Tanduk Nasib Piala Dunia U-20 setelah Tragedi Kanjuruhan

Nasib sepak bola Indonesia berada di ujung tanduk. Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 153 orang berpotensi mengganjal Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2023. Indonesia pun terancam mendapat sanksi berat lainnya dari FIFA.

+ PLUS Mencari Jodoh Cara Jawa, Menimbang Bibit Bebet Bobotnya

Bibit, bebet, dan bobot masih digunakan sebagian masyarakat Jawa dalam mencari jodoh.

+ PLUS Pernah Terkubur Tanah, Primbon Imam Tabbri Khasanah Perjuangan Islam

Kitab Primbon Haji Syekh Imam Tabbri yang khasanah perjuangan Islam sudah sedikit rapuh lantaran pernah terkubur dalam tanah.

+ PLUS Belajar dari Rizky Billar, Awas Jejak Digital Bisa Bikin Sial

Aktivitas aktor Rizki Billar di media sosial yang meninggalkan jejak digital jadi perbincangan beberapa hari terakhir.

+ PLUS Menakar Untung Rugi Cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan

Pengenaan cukai untuk minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) ini memiliki dua tujuan mulia yaitu untuk tujuan menjaga kesehatan penduduk Indonesia serta memberi tambahan pemasukan negara.

+ PLUS Jutaan Masyarakat Indonesia Bakal Jatuh Miskin karena Garis Kemiskinan

Sebanyak 13 juta warga negara Indonesia (WNI) terancam jatuh miskin akibat Bank Dunia (World Bank) mengubah standar garis kemiskinan baru.

+ PLUS Meretas Mitos Pulung Gantung di Gunungkidul

Mitos pulung gantug di Gunungkidul menyebutkan apabila pulung yang berupa bola api berpijar merah dan berekor jatuh dari langit, maka diyakini sekitar tempat jatuhnya pulung akan ada warga yang gantung diri.

+ PLUS Jamu Jampi Usodo, Warisan Nusantara Menyehatkan Dunia

Jamu, dari bahasa Jawa kuno jampi atau usodo sebagai salah satu minuman tradisional Indonesia, telah diajukan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nusantara yang menyehatkan dunia.

+ PLUS Nazar Raja Medang Lahirkan Akses Penyeberangan Kuno Sungai Bengawan Solo

Bukti adanya akses penyeberangan kuno Sungai Bengawan Solo yang dibangun pada masa Kerajaan Medang atau Mataram Kuno tertuang dalam Prasasti Telang yang ditulis pada 6 Poroterang bulan Posya tahun 825 Saka (11 Januari 903 M).

+ PLUS Srintil Sang Primadona, Mahal dan Satu-Satunya di Dunia

Srintil adalah nama tembakau khas dan satu-satunya di dunia yang berasal dari Temanggung yang harga per kilogramnya hampir setara dengan emas 24 karat.

+ PLUS Lesti Kejora dan Sindrom Tawanan yang Bikin KDRT bak Fenomena Gunung Es

KDRT terjadi dalam lingkup personal yang penuh muatan relasi emosi sehingga penyelesaiannya tidak segampang kasus-kasus kriminal lain. Kasus KDRT sendiri bak fenomena gunung es yang lebih banyak terpendam daripada yang terlihat.

+ PLUS Tragis Nasib Suali, Bupati Boyolali yang Dieksekusi Mati karena PKI

Nasib tragis menimpa Bupati Boyolali periode 1958-1965, Suali Dwijosukanto yang dieksekusi mati pasca-Gerakan 30 September 1965.