Bacharuddin Jusuf Habibie saat mengunjungi PT Inka. (Istimewa/Dok. PT Inka)

Madiunpos.com, MADIUN -- Presiden ketiga Indonesia Bacharuddin Jusuf (B.J.) Habibie merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam pendirian PT Industri Kereta Api (Inka). Melalui PT Inka, Habibie ingin menghentikan ketergantungan Indonesia terhadap produk kereta api luar negeri.

Perusahaan milik negara yang fokus pada pembuatan kereta api itu kini bukan hanya menyiapkan kereta api untuk kebutuhan dalam negeri. Tetapi juga sudah sanggup mengekspor kereta api ke sejumlah negara seperti Bangladesh, Filipina, Sri Lanka, dan beberapa negara di Afrika.

Semua mimpi-mimpi itu berawal dari mimpi Habibie, yang wafat pada Rabu (11/9/2019). Bahkan Direktur Utama PT Inka, Budi Noviantoro, menyebut mungkin tidak akan ada PT Inka, bila tidak ada Habibie.

Budi menuturkan pada 1980-an, Indonesia masih menjadi negara yang pengimpor kereta api. Kala itu, pemerintah Indonesia mendatangkan 63 unit lokomotif diesel, 3 unit lokomotif diesel elektrik, serta 5 set diesel KRD dan KRL dari luar negeri.

Karena ketergantungan produk impor itu, pemerintah mengambil kebijakan subtitusi impor dan alih teknologi yang digagas oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Kementerian Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (UP3DN). Kebijakan tersebut berisi setiap pengadaan sarana kereta api seperti lokomotif, kereta penumpang, dan gerbong barang oleh PJKA harus dikaitkan dengan impor dalam bentuk terurai untuk dirakit di dalam negeri.

Saat itu, Habibie yang menjabat sebagai Menristek kemudian menajamkan program itu menjadi strategi transformasi industri dan alih teknologi. "Beliau ingin sumber daya manusia nasional tidak hanya pintar menjahit. Tetapi juga harus memiliki kemampuan berkreasi dan berinovasi dalam teknologi perkeretaapian," kata dia di gedung Kantor PT Inka Madiun, Kamis (12/9/2019).

Atas inisiasi yang dilakukan Habibie ini, pemerintah Indonesia akhirnya mendirikan PT Inka. Tujuannya supaya industri kereta api nasional yang mandiri dan lepas dari ketergantungan luar negeri.

Untuk mewujudkan industri kereta api tersebut, pemerintah mengubah fungsi Balai Yasa Madiun sebagai tempat pembuatan komponen sarana kereta api. Balai Yasa Madiun ini sebelumnya digunakan sebagai bengkel lokomotif uap. Namun, karena lokomotif uap berhenti beroperasi sekitar tahun 1977. Akhirnya ada alih fungsi gedung tersebut.

"Kala itu Habibie yakin orang-orang di Balai Yasa Madiun siap mendharmabaktikan komitmen, dedikasi, dan integritas mereka bagi perusahaan kereta nasional. Hingga akhirnya dibangun pabrik kereta api yang berlokasi di eks Balai Yasa PJKA Madiun," jelasnya.

Budi secara khusus menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya presiden ketiga RI dan bapak pendiri PT Inka itu. Habibie merupakan salah satu putra terbaik bangsa.

"Semoga almarhum husnul khatimah dan yang ditinggalkan mendapatkan tambahan kekuatan iman," katanya.

Dia beserta seluruh karyawan PT Inka berkomitmen unrtuk melanjutkan apa yang telah dirintis Habibie selama ini. Atas pemikirannya lah PT Inka bisa berdiri.

"Beliau punya ide cemerlang harus buat kereta api sendiri, jangan tergantung orang lain supaya kita bisa mandiri. Maka dibentuklah industru strategis. Salah satunya Inka," kata Budi. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten