Petani di Kabupaten Kudus, Jateng menunjukkan Kartu Tani. (Antara-Akhmad Nazaruddin Lathif)

Solopos.com, SEMARANG — Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah (Jateng) menyatakan dari 2,8 juta petani yang ada di wilayahnya, hanya tinggal 300.000 petani yang saat ini belum terdata atau masuk dalam big data Kartu Tani.

Kepala Distanbun Jateng, Suryo Banendro, mengatakan dari total 2,8 juta petani yang ada di Jateng, sudah ada sekitar 2,5 juta petani yang telah terdata dengan kepemilikan Kartu Tani.

“Kami terus mengebut pendataan dengan mempercepat program Kartu Tani. Saat ini hanya kurang 300.000 petani saja yang belum menerima Kartu Tani. Bulan ini, sudah ada 194.871 kartu yang dalam proses pembagian,” kata Suryo dikutip laman Internet resmi Pemprov Jateng, Kamis (12/9/2019).

Suryo menerangkan, Kartu Tani selain untuk memastikan pemberian subsidi pada petani tepat sasaran, juga merupakan data real petani, seperti jenis cocok tanaman, luas lahan, dan lokasinya. Hal itu berguna untuk memantau produksi pertanian Jateng dengan baik.

“Sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil akan sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” tambahnya.

Pihaknya menargetkan dalam waktu yang tidak lama, semua petani di Jateng sudah mendapatkan Kartu Tani. Pihaknya juga akan terus menyosialisasikan tentang penggunaan dan manfaat dari kartu tersebut.

Di lain sisi, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengatakan program Kartu Tani yang diluncurkan pada 2015 lalu sebenarnya tidak hanya bicara soal pembagian pupuk bersubsidi. Namun lebih dari itu, program itu adalah upaya pendataan petani di Jawa Tengah sesuai kondisi di lapangan.

“Meskipun awalnya program ini diperdebatkan, masyarakat tidak sadar bahwa ini adalah awal untuk pendataan. Saat ini, hanya Jateng yang memiliki data pertanian terlengkap. Dari data itu, siapa petaninya, dia tanam apa, berapa luasannya, maka akan dapat diperoleh data valid sehingga mempengaruhi kebijakan selanjutnya, baik soal pupuk, pemasaran, asuransi petani dan lain sebagainya,” tegasnya.

Ganjar menerangkan, saat ini pihaknya terus meningkatkan kualitas dari pertanian Jateng. Setelah proses pendataan selesai melalui Kartu Tani, pihaknya juga telah menyiapkan wadah lain berupa Sihati, Rego Pantes, dan program lainnya.

“Kami juga sudah menyiapkan program sistem logistik daerah (Sislogda) sebagai upaya optimalisasi produk pangan di Jateng dari hulu ke hilir. Kalau datanya sudah baik melalui Kartu Tani, kemudian pemasaran produk baik menggunakan Sihati dan Rego Pantes dan kemudian Sislogda berjalan, maka ketahanan pangan Jateng dipastikan aman,” terangnya.

Sislogda lanjut dia, akan dipadukan dengan Kartu Tani sebagai basis data. Dengan Sislogda ini, maka akan ada desain tentang kebijakan publik dalam politik pangan nasional.

“Kalau dahulu dikenal dengan lumbung pangan, sekarang namanya Sislogda. Program ini akan kami dorong sampai ke daerah untuk memetakan produksi pangan,” ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten