Jaringan Listrik KRL Solo–Jogja Dibangun Akhir Tahun 2019
Ilustrasi kereta rel listrik (KRL). (Rahmatullah/JIBI/Bisnis Indonesia)

Solopos.com, SOLO — Proyek fisik pembangunan jaringan Listrik Aliran Atas (LAA) kereta rel listrik (KRL) yang menghubungkan Solo–Jogja dimulai akhir tahun ini.

KRL Solo–Jogja untuk tahapan pertama bakal menggarap jalur Jogja–Klaten terlebih dahulu. Proyek KRL ini dikebut menyusul tingginya animo masyarakat untuk menggunakan transportasi kereta api Solo–Jogja.

Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daops) VI Yogyakarta, Eko Budiyanto, mengatakan pihak-pihak terkait seperti Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Tengah dan Dirjen Perkeretaapian sudah memetakan wilayah yang bakal dibangun jaringan LAA.

Mereka telah melakukan pemetaan, survei lapangan, dan mengambil foto-foto udara jalur KRL Solo–Jogja.

“Kalau rel tentunya memakai jalur yang sudah ada yang biasa digunakan KA Prambanan Ekspres [Prameks], tapi karena ini KRL jadi elektrifikasi pembangunan LAA sangat penting. Kemungkinan besar proyek fisik sudah mulai akhir tahun ini,” ujarnya, saat dihubungi solopos.com, Selasa (15/10/2019).

Eko menambahkan nantinya untuk tahapan pertama, KRL dibangun rute Jogja–Klaten terlebih dahulu atau dari Stasiun Tugu hingga Stasiun Klaten Kota.

Berdasarkan pantauan di situs LPSE Kementerian Perhubungan, Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Tengah sudah merampungkan sejumlah lelang konstruksi pembangunan LAA untuk relasi Jogja-Solo.

Tender tersebut merupakan tender ulang karena sebelumnya sudah ditawarkan.

Rencana pembangunan LAA tersebut terbagi dalam 13 paket. Paket yang ditawarkan mulai pembangunan LAA dari km 107 hingga km 154 untuk relasi Jogja-Solo. Adapun nilai paket yang ditawarkan bervariasi antara Rp36 miliar hingga Rp53 miliar.

KRL bertujuan memfasilitasi mobilitas masyarakat yang semakin meminati transportasi kereta api. Hal ini dibuktikan dengan kenaikan signifikan jumlah pengguna jasa KA lokal Prameks relasi Solo–Jogja pergi pulang (PP) dari tahun ke tahun.

Eko Budiyanto menyebut dalam satu hari trayek perjalanan KA Prameks sebanyak 21 trip melayani relasi Jogja–Solo, dan Jogja-Kutoarjo PP.

Adapun jumlah penumpang KA lokal ini untuk periode 2016 sebanyak 2.973.891 penumpang, kemudian pada 2017 meningkat menjadi 3.650.144, lalu 2018 naik lagi menjadi 3.940.671, sementara pada Januari-Agustus 2019 sudah mencapai 2.537.023 penumpang.

“Dengan jumlah empat set KA Prameks yang dioperasikan saat ini masih banyak penumpang yang tidak mendapatkan tiket sehingga harus rela menggunakan KA lain. Saat jumlah penumpang KA Prameks sudah melebihi kuota, yakni 100% duduk dan 50% berdiri,” imbuhnya.

Executive Vice President (EVP) PT KAI Daop VI Yogyakarta, Eko Purwanto, menambahkan pihaknya memperbarui empat set KA Prameks agar makin nyaman digunakan penumpang.

Sebelumnya KA lokal ini ada yang memiliki motif batik, kuning, dan merah putih. Kini KA tersebut diseragamkan dengan warna putih. Selain itu, dari sebanyak 4 set kereta, 2 di antaranya belum dipasangi AC bakal dilengkapi.

“Kami lebih mengedepankan aspek sarana dan kenyamanan pengguna jasa KA Prameks. Selain perbaikan eksterior seperti pengecatan, perbaikan komponen mesin dan alat bantu lainnya, Prameks yang belum dilengkapi AC akan dilengkapi,” paparnya.

Di sisi lain, KA Prameks yang sudah diremajakan akan menjalani uji statis terlebih dahulu sebelum dioperasikan. Menurutnya, pembaruan ini ditargetkan bisa selesai akhir tahun ini.

“Target optimistis awal Desember bisa selesai. Pada tahun baru kami punya gereget ingin menutup 2019 dengan memberikan sesuatu,” jelasnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho