Kompleks pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (23/2/2018). (Bisnis-Dok)

Solopos.com, SUKOHARJO — Janji PT Rayon Utama Makmur (RUM) Sukoharjo untuk memasang alat H2SO4 recovery untuk mengurangi limbah udara berbau busuk ditanggapi dingin oleh warga. Perwakilan PT RUM sering mengatakan janji itu namun realisasinya butuh waktu sangat lama.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Kamis (19/12/2019), sejumlah perwakilan warga terdampak limbah udara PT RUM bertemu dengan manajemen PT RUM yang difasilitasi Polres Sukoharjo. Pertemuan itu dihadiri beberapa tokoh warga terdampak limbah udara PT RUM seperti Tomo dan Abdullah. Sementara jajaran manajemen PT RUM dihadiri Presiden Direktur (Presdir) PT RUM, Pramono, Direktur PT RUM, Rahmad dan Manager HRD PT RUM, Hario Ngadiyono.

Dalam pertemuan itu, sejumlah perwakilan warga berdiskusi dengan Pramono untuk mengatasi bau busuk. Manajemen PT RUM berencana memasang H2SO4 recovery untuk mengurai dan mendaur ulang H2S menjadi H2SO4. Tujuannya agar bisa meminimalisasi limbah udara pabrik.

Anggap PT RUM Sukoharjo Zalim, Warga: Jangan Bikin Rayon Lagi!

Namun proses perakitan mesin H2SO4 recovery membutuhkan waktu minimal 12 bulan. Menanggapi situasi itu, tokoh masyarakat Desa Pengkol, Tomo menilai manajemen PT RUM terlambat memasang alat H2SO4 recovery.

“Semestinya alat itu dipasang saat kesepakatan di Gedung DPRD Sukoharjo pada Januari 2018, bahkan sebelum PT RUM beroperasi sehingga tak menimbulkan bau busuk yang mengganggu masyarakat,” kata Tomo.

Datangi Komnas HAM & KLH, Korban Limbah PT RUM Ingin Bertemu Jokowi

Sementara itu, Sekretaris PT RUM, Bintoro Dibyoseputro, berdalih pemasangan alat H2SO4 recovery merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk meningkatkan tata kelola lingkungan. Komitmen itu dilakukan dengan berbagai upaya keras untuk menghilangkan limbah udara.

Alat H2SO4 recovery dipasang secara dua tahap. Hal ini, klaim Bintoro, merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk meminimalisasi limbah udara.

Dahnil Buka Suara, Aktivis Akui Korban Limbah PT RUM Sukoharjo Diintimidasi

“Berdirinya PT RUM di Kecamatan Nguter bukan untuk merugikan masyarakat setempat. Justru PT RUM ingin memberi kontribusi positif kepada masyarakat. Kami tetap memegang komitmen terhadap tata kelola lingkungan,” katanya.

Sementara itu tak ada kemajuan dari sikap Pemkab Sukoharjo. Sekda Sukoharjo, Agus Santosa, menyatakan bakal berkoordinasi dengan unsur forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopinda) Sukoharjo untuk mencari solusi alternatif persoalan limbah udara. Masukan dan saran dari unsur Forkopinda Sukoharjo, katanya, menjadi referensi pembahasan persoalan itu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten