Infografis Corona (Solopos/Whisnupaksa)

Solopos.com, SOLO – Masyarakat dunia dikejutkan dengan wabah Novel Coronavirus (2019-nCov) atau yang dikenal dengan virus corona di China. Dosen sekaligus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS), Reviono, mengatakan, virus corona merupakan jenis virus baru.

Virus corona alias 2019-nCov merupakan virus baru penyebab penyakit saluran pernafasan. Virus ini memiliki kedekatan dengan virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome).

Reviono menyampaikan, virus corona menular sangat cepat, sehingga masyarakat harus mengetahui gejala apa saja yang dirasakan jika terkena virus tersebut. Adapun gejalanya meliputi batuk, demam, hingga kesulitan bernapas.

Orang yang punya riwayat kontak dengan pasien positif terjangkit virus corona atau yang bersangkutan bepergian ke luar negeri juga harus diwaspadai.

“Jika ada yang mengalami gejala seperti itu, maka segera periksakan diri ke pelayanan kesehatan atau rumah sakit supaya bisa segera di cek dan memperoleh tindakan medis,” kata Reviono, Senin (27/1/2020).

Meski demikian, masyarakat tidak perlu panik. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan virus corona. Di antaranya yaitu sering mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker, dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mengonsumsi sayur dan buah, menjaga kebugaran tubuh, menghindari sumber infeksi, rajin olahraga, istirahat cukup, menghindari konsumsi daging yang tidak dimasak dan jika sedang flu, dan jangan keluar rumah supaya tidak jadi sumber infeksi.

“Selalu cuci tangan ketika habis bepergian itu sangat penting. Karena tangan kita sering menyentuh pegangan pintu, pegangan tangga, dan lainnya dikhawatirkan tangan kita terkena virus,” katanya.

Sampai saat ini belum ada orang Indonesia yang terjangkit virus corona. Pemerintah telah siaga dalam menyikapi hadirnya virus corona ini. Yaitu dengan menutup penerbangan dari dan ke China serta memasang alat detektor panas tubuh di berbagai bandara.

“Jadi kalau ada yang terkena virus corona, maka suhu tubuhnya meningkat. Sehingga di beberapa bandara memasang alat ini untuk mendeteksi yang terinfeksi virus corona,” ujar Reviono.

Reviono menambahkan, virus corona di Wuhan, China, telah menelan puluhan korban jiwa. Kebanyakan korban merupakan orang tua dengan penyakit peryerta.

Sedangkan 80 persen penderita virus corona sembuh karena tidak ada penyakit penyerta dan usia tergolong masih muda. Jadi, masyarakat diimbau tidak panik menyikapi wabah penyakit tersebut.

“80 persen pasien di China ini sembuh dengan sendirinya karena memang belum ada vaksin khusus virus corona. Sebagai contoh jika kita terkena flu, tidak minum obat pun bisa sembuh karena virus dengan umurnya bisa mati sendiri,” sambung dia.

Reviono menambahkan, tubuh manusia punya mekanisme melemahkan virus. Jadi, menjaga kondisi tubuh tetap fit menjadi kunci melawan virus apapun, termasuk virus corona.

“Di dalam tubuh manusia terdapat interferon yaitu berupa protein alami yang diproduksi tubuh sebagai respons tubuh dalam melawan senyawa berbahaya, seperti virus. Kalau produksi interferon cukup maka virus bisa terkendali pertumbuhannya dan mati sendiri. Namun kalau sudah berusia tua dan ada penyakit yang disertai, produksi interferon tidak cukup dan virus bisa tumbuh terus,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten