Jangan Panik! Begini Teknik Memadamkan Api Pakai Kain Basah
Anggota Linmas Kota Madiun menggunakan kain basah untuk memadamkan api saat pelatihan pemadaman kebakaran di Lapangan Pilangbango Madiun, Selasa (20/2/2018). (Istimewa/Pemkot Madiun)

Sebanyak 186 anggota Linmas Kota Madiun mengikuti pelatihan pemadaman kebakaran.

Solopos.com, MADIUN -- Sebanyak 186 anggota perlindungan masyarakat (linmas) di Kota Madiun mengikuti pelatihan pemadaman kebakaran Satlinmas yang digelar Satpol PP setempat di Lapangan Pilangbango Madiun, Selasa (20/2/2018). Anggota linmas dilatih memadamkan api dengan berbagai alat sederhana yang biasa ada di rumah.

Ada berbagai teknik pemadaman api yang bisa dilakukan masyarakat. Pemadaman api juga bisa menggunakan alat-alat sederhana seperti karung goni, kain sarung, hingga pasir.

Komandan Regu III Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kota Madiun, Suyanto, mengatakan masyarakat sebenarnya sudah dibekali dengan berbagai alat pemadam tradisional di lingkungan mereka. Namun, masih banyak warga belum mengetahui penggunaannya.

"Berbagai alat pemadam tradisional itu di antaranya karung goni, kain sarung, dan pasir. Penggunaan alat ini harus tepat," kata Suyanto.

Dia menyampaikan ada beberapa langkah pemadaman api menggunakan kain, yaitu mulai cara memegang hingga meletakkannya.

Kain yang akan digunakan untuk memadamkan api harus dibasahi terlebih dahulu. Setelah basah, pegang bagian ujung dan putar tangan hingga kain penutupi bagian jari hingga lengan.

‘’Prinsip utama pemadaman jangan sampai melukai diri sendiri. Posisikan tahan dan tubuh terlindungi kain yang digunakan untuk memadamkan [api],’’ terang dia.

Kain yang basah itu diangkat setinggi wajah, namun tidak menutupi pandangan. Pemadaman dengan cara ini harus dekat dengan sumber api. Teknik mendekatnya dengan cara berjalan menyamping dan bagian kain terus menghadap ke sumber api. Pemadaman juga harus memperhatikan arah angin dan tidak melawan arus angin.

Setelah berada di titik api, kain basah tadi langsung dijatuhkan atau dilempar ke sumber api. "Meletakkan kain juga harus secara perlahan. Angin dari embusan kain saat dijatuhkan bisa memicu api membesar sebelum padam. Teknik pemadaman ini hanya untuk kebakaran skala kecil," jelas dia.

Jika kain sudah diletakkan di sumber api jangan langsung diangkat. Tunggu hingga asap mengepul dan kalau masih ada api lagi ditutup lagi dengan kain.

‘’Posisikan kain juga untuk perlindungan. Karena tidak tahu apakah sudah benar-benar padam,’’ jelas Suyanto.

Dia menyarankan tidak memadamkan api menggunakan air. Apalagi di sekitar titik api ada unsur minyaknya. Penyiraman air dapat memunculkan titik api baru. Itu karena aifat air dan minyak tidak dapat bersatu.

"Pemadaman juga bisa menggunakan kain goni. Kalau ga ada bisa menggunakan handuk, sarung, karpet atau kain lain yang tidak berongga," jelas dia.

Anggota Linmas ini juga mendapatkan pelatihan penggunaan alat pemadan api ringan (APAR). Sebelum menggunakan alat ini sebaiknya periksa terlebih dahulu kandungan bahan dalam tabung APAR.

‘’Jadi tidak asal menyemprotkannya. Lihat dulu kandungannya. Untuk titik api yang berasal dari benda padat baiknya menggunakan APAR dengan bahan powder. Kalau api berasal dari korsleting listrik baiknya yang berbahan CO2,’’ terang Suyanto.

Penyemprotan menggunakan APAR juga harus mendahulukan bagian bunga api. Sehingga jangan langsung menyemprotkan pada titik api. Ini bertujuan untuk mengurangi kandungan oksigen di sekitar api.

‘’Jika api membesar. Baiknya tunggu petugas damkar datang. Penanganan butuh alat dan petugas khusus. Salah satunya, menggunakan mobil damkar,’’ katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho