Jangan Mendadak "Bagong"

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 6 Mei 2021. Esai ini karya Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Badan Ketahanan Pangan Kementeria Pertanian.

 Agung S.S. Raharjo (Istimewa/Dokumen pribadi).

SOLOPOS.COM - Agung S.S. Raharjo (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO — Badan Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 2016 merilis data dan fakta yang menurut saya cukup membikin miris. Hampir sepertiga jumlah pangan yang diproduksi dunia menjadi food loss (hilang) dan food waste (terbuang).

Tercatat jumlah pangan yang hilang dan terbuang tersebut  mencapai 1,3 miliar ton  atau setara nilai US$1 triliun setiap tahun. Menurut FAO (2018), sumber dari persoalan pangan yang terjadi di negara berkembang lebih banyak pada tahap preconsumption, sementara di negara maju lebih banyak terjadi pada tahap consumption.

Economist Intelligence Unit pada tahun 2016 memberitakan hal serupa tentang food waste. Berdasar informasi yang dipublikasikan menunjukkan fakta orang Indonesia rata-rata menghasilkan sampah makanan hingga 300 kilogram per orang tiap tahun. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai runner-up pemborosan makanan setelah Arab Saudi dengan rata-rata angka sebesar 427 kilogram makanan per orang per tahun.

Tentu hal ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat agar mencegah pemborosan dan pembuangan pangan terus terjadi. Fenomena pemborosan pangan di negeri ini telah mengundang rasa miris tersendiri.

Dalam tata nilai sosial dan religi perilaku tersebut sama sekali tidak bisa dibenarkan. Terlebih kemudian dihadapkan pada peristiwa kehidupan lain yang menimbulkan paradoks, yaitu kemiskinan dan kelaparan.

Dalam laporan Global Hunger Indeks (GHI) tahun 2020, Indonesia mencatatkan pencapaian sejarah lolos dari level ”serius” dan masuk dalam kategori moderat. Indonesia meraih skor 19,1 dan berada pada urutan ke-70 dari total 107 negara. Posisi peringkat Indonesia terhitung lebih baik daripada Kamboja, Myanmar, dan India.

Indonesia masih tertinggal dari Thailand, Malaysia, dan Filipina,  bahkan juga tertinggal dari Vietnam. Pencapaian ini pada satu sisi perlu mendapat apresiasi dan pada isaat yang sama menjadi titik tolak evaluasi atas pola konsumsi yang telah menjadi kebiasaan bahkan membudaya di negeri ini.

Food waste, menurut Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), didefinisikan sebagai makanan yang siap dikonsumsi namun dibuang tanpa alasan atau makanan tersebut telah mendekati masa kedaluwarsa.

Kesia-siaan Makanan

Sedangkan  istilah  food loss berarti kondisi hilangnya sejumlah pangan di antara rantai pasok produsen dan pasar. Food loss disebabkan oleh banyak faktor, misalnya pada proses pra-panen, permasalahan dalam penyimpanan, penanganan, dan lainnya.

Berfokus pada persoalan pemborosan pangan (food waste) di negeri ini ada fenomena klasik yang masih saja kita temui pada momentum Ramadan. Bulan puasa ketika umat Islam yang memenuhi syarat menerima kewajiban berpuasa, bersabar menahan lapar dan dahaga, ternyata tidak selalu demikian adanya ketika menjelang berbuka.

Dapat kita temui sebagian di antara kita yang begitu antusias menyiapkan menu berbuka hingga terkadang tidak sadar penyiapakan menu itu sudah terlalu berlebihan. Obsesi untuk menikmati beragam menu berujung pada pemborosan dan kesia-sian.

Sedangkan kapasitas perut sangat terbatas untuk menampung unsur makanan, minuman, dan udara.  Akibat kerakusan sesaat tersebut tiba-tiba fisiologi perut sebagian di antara kita bertansformasi menjadi perut ”bagong” akibat kekenyangan.  Alih-alih akan menjadi sehat, yang terjadi justru membawa potensi penyakit tersendiri.

Imam Syafi’i pernah berkata, dalam Syiar A’lam An-Nubala, karena kekenyangan (memuaskan nafsu perut dan mulut) membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur, dan lemah untuk beribadah.

Puasa Ramadan yang semestinya mampu menjadi kontrol atas konsumsi pangan yang sering kali berlebihan ternyata tidak demikian adanya. Konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang pemborosan makanan yang cukup besar pada bulan Ramadan.

Ini menjadi problem klasik yang  terus saja terjadi berulang kali. Bantargebang Integrated Waste Treatment Site berdasarkan data mencatat peningkatan sampah makanan hingga 10% selama bulan Ramadan. Pernah ditemui kondisi pada hari pertama puasa tercatat ada tambahan sampah sebanyak 864 ton.

Kesadaran Diri

Ibadah pada Ramadan bertujuan membentuk insan bertakwa (la’allakum tattaqun). Esensi ketakwaan salah satunya adalah menjadi insan yang tidak berlebihan (tabzir) dalam berperilaku.  Menjadi orang yang berperilaku boros, mubazir, dalam segala sesuatu tidak dibenarkan dalam Islam, tak terkecuali persoalan pangan.

Larangan bersikap boros memberikan pelajaran pentingnya bersikap adil terhadap diri sendiri dan orang lain. Pangan adalah kebutuhan setiap manusia dan pemenuhannya merupakan hak asasi yang tidak boleh diganggu.

Negara harus memberikan jaminan atas pemenuhan, ketersediaan, dan keterjangkauan pangan sampai pada tingkat individu. Oleh karena itulah, perilaku berbuah food waste yang masih sering terjadi, bahkan sering dianggap hal lumrah, harus dikurangi sedemikian rupa.

Kesalehan pribadi harus beriring dengan kesalehan sosial. Ramadan menjadi momentum bagi setiap rumah tangga dan individu untuk kembali merefleksikan kesadaran-kesadaran religius yang bernilai universal.

Di mana letak kepekaan kita pada saat banyak orang begitu sulit mencari makanan sedangkan kita ”berpesta” makanan sampai kekenyangan? Begitu indah terasa jika mampu menahan diri dan  memberikan peran bagi penguatan ketahanan pangan di negeri sendiri.

Ramadan adalah jalan membangun rasa kepedulian. Stop food waste dan mulailah berlaku adil memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Keadilan bagi diri sendiri dalam mencukupi kebutuhan pangan akan berbuah kesehatan sekaligus empati kepada orang lain yang kekurangan pangan. Pangan bagi diri sendiri dan keluarga secukupnya, tidak perlu berlebihan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Berita Terkini

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.

Sepekan Penuh Kejutan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 6 Agustus 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pidana Sumbangan Rp2 Tiliun dan Hoax yang Difasilitasi

Opini ini ditulis Ahmadi H. Dardiri M.H., Sekjen Pusat Studi Peraturan Perundang-undangan (PSPP) IAIN Salatiga dan Dosen Fakulutas Syariah IAIN Salatiga