Teluk Bintuni (Istimewa)

Solopos.com, SOLO -- Siapa sangka, kabupaten termakmur ada di Pulau Papua. Kabupaten itu adalah Teluk Bintuni. Daerah ini menjadi kabupaten termakmur di Indonesia termasuk mengalahkan berbagai kabupaten di Pulau Jawa.

Kabupaten ini berada berada di urutan ke-2 dari 20 kabupaten/kota paling makmur di Indonesia. Teluk Bintuni di Papua hanya kalah dari jantung ekonomi dan pemerintahan Indonesia yaitu Kota Jakarta Pusat.

Parameter kota/kabupaten termakmur itu diukur dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh BPS pada 2018. Tingkat kemakmuran kota atau kabupaten diukur lewat indikator pendapatan per kapita, yang dihitung dari produk domestik regional bruto (PDRB) dibagi jumlah penduduk.

Dari parameter itu, Teluk Bintuni menjadi kabupaten paling makmur di Tanah Air. Kabupaten itu memiliki pendapatan per kapita Rp328,48 juta/tahun, hanya kalah dari Jakarta Pusat dengan Rp370,41 juta per tahun.

Kota/kabupaten paling makmur ini tidak berarti berarti seluruh penduduk menjadi makmur. Sebab pendapatan per kapita tidak menunjukkan pembagian pendapatan yang merata.

Bisa jadi kemakmuran ini terpusat pada satu lapisan kecil dari populasi masyarakat karena mereka menguasai sumber-sumber ekonomi di daerah tersebut.

Teluk Bintuni adalah kabupaten yang berada di kawasan kepala burung, Pulau Papua. Kabupaten ini berada di dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 0-100 meter di atas permukaan laut. Kabupaten ini seluas 18.637,00 km persegi.

Kabupaten yang terdiri atas 24 distrik ini dihuni 63.091 jiwa. BPS Teluk Bintuni mencatat tingkat pengangguran di kabupaten itu sekitar 5,93% pada 2018 lalu. Kemudian tingkat partisipasi angkatan kerja sekitar 71%.

Untuk urusan pendidikan, 97,56% penduduk di kabupaten termakmur ini sudah bsia baca tulis. Mayoritas penduduk Teluk Bintuni juga memiliki rumah sendiri. Data BPS menyebutkan 63,88% rumah berstatus milik sendiri.

Fasilitas rumahnya juga mayoritas menggunakan kloset leher angsa serta pembuangan akhir memiliki septic tank.

Pengeluaran Penduduk

Berapa pengeluaran rata-rata warga di kabupaten termakmur ini? Penduduk yang berada di kalangan atas atau kelompok 20% teratas memiliki pengeluaran rata-rata Rp3,1 juta/orang/bulan. Sedangkan kelas menengahnya adalah Rp1,5 juta orang/bulan, dan warga miskin sekitar Rp626.127/orang/bulan.

Lantas apa rahasia Teluk Bintuni menjadi kabupaten termakmur? Perekonomian di kabupaten ini ditopang sektor industri pengolahan dan dan pertambangan. Dua sektor ini yang paling dominan di PDRB.

Kabupaten ini memang menyimpan segudang kekayaan alam, dari pemandangan indah, hingga hasil bumi. Bupati Teluk Bintuni Petrus Kasihiw menyebutkan wilayah yang dipimpinnya dianugerahi pemandangan yang indah serta pertambangan yang menjanjikan.

Kawasan ini kaya minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Saat ini, potensi gas alam mencapai 30 triliun cubic feed per day. Petru menyatakan terus mengembangkan potensi gas alam ini melalui LNG Tangguh yang sudah memasuki pembangunan train 3.

Tak hanya itu, ada pembangunan kawasan industri Desa Onar untuk pengembangan pupuk dan petrokimia, serta konsesi Blok Kasuri yang dikembangkan oleh Genting Oil. Selain kekayaan tambang, wilayah Teluk Bintuni juga menghasilkan udang dan kepiting.

"Udang dan kepiting dari Teluk Bintuni ini cukup besar, kita menyuplai 2 juta ton ke Jakarta. Selain itu, kita juga mengekspor ke mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, China, dan Jepang," jelas dia sebagaimana dikutip dari Liputan6.com.

Teluk Bintuni
Kawasan mangrove Teluk Bintuni

Di sektor kehutanan, ada kawasan mangrove yang merupakan cagar alam terbesar setelah Arizona di Brasil. Petrus Kasihiw mengaku selain mengembangkan berbagai potensi alam, pihaknya juga terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Salah satu contohnya melalui pusat pelatihan teknik industri dan migas. ”Hari ini sudah menghasilkan 300 tenaga kerja siap pakai. Satu tahun kita bisa menghasilkan 400 tenaga kerja siap pakai. Dan lulusannya sudah mendapatkan tempat kerja di industri-industri yang ada di Teluk Bintuni.”

Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga memberdayakan perempuan di Teluk Bintuni untuk meningkatkan pendapatan, tidak hanya rumah tangganya, tetapi juga daerah.

"Dengan pengembangan agribisnis dan agrowisata bisa menyerap tenaga kerja. Mama-mama di kampung yang tadinya di rumah saja, sekarang bisa turun ke kebun, kita berikan bantuan lahan, bibit, edukasi, dan lain-lain," kata dia.

Kabupaten termakmur ini juga tengah menggenjot peningkatan kualitas SDM serta pengembangan alat pertanian dari yang tradisional menjadi modern.

Di sektor kesehatan, sistem Early Detection and Treatment (EDAT) yang dikembangkan untuk mengeliminasi malaria dan sudah diakui PBB. Kisah Teluk Bintuni yang menjadi kabupaten termakmur ini menjadi potret pengembangan daerah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten