Jangan Garing, Harus Dher
Ki Sugeng Subagya (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Garing dalam industri seni pertunjukan dipergunakan untuk menggambarkan pertunjukan tidak mendapat respons positif dari penonton. Pentas lawak atau dagelan yang tidak mampu mengangkat penonton untuk tertawa adalah contoh yang paling simpel. Karya sastra yang tidak direspons pembaca itulah karya sastra yang garing.

Kata garing merupakan kosa kata bahasa Jawa yang artinya kering. Ada kemungkinan garing yang dimaksud dalam terminologi bahasa Indonesia diambil dari kata bahasa Jawa garingan. Maknanya pertunjukan seni yang dipentaskan tanpa iringan apa pun. Jika ada iringan, instrumennya berasal dari personal yang pentas itu sendiri.

Wayang Dalang Jemblung dari Jawa Tengah dan Wayang Garing dari Banten adalah contohnya. Antonim garing adalah dher atau jedher. Maksudnya, ketika suatu pertunjukan seni direspons positif penonton maka itulah pertunjukan yang dher. Mungkin yang dimaksud dengan dher adalah menggelegar atau membahana, bahkan spektakuler.

Jika ini konsepnya, ukuran pertunjukan seni yang sukses ialah yang memperoleh apresiasi penonton yang banyak jumlahnya dan mereka menjadi tuman dan ketagihan. Jika terminologi dher sebagai antonim garing yang diambil untuk mewakili gagasan respons penonton dalam suatu pertunjukan, garing yang dimaksud adalah kering.

Bisa jadi kering respons penonton karena kering kreativitas, padahal kreativitas merupakan roh karya seni itu. Sesuatu yang layak ketika pertunjukan yang kering kreativitas memperoleh balasan setimpal dalam bentuk apresiasi penonton yang sangat minim.

Akhir-akhir ini di media sosial dan peranti dalam jaringan atau daring (online) lainnya merebak pertunjukan seni garingan atau setidaknya dengan pembatasan jumlah personel pemain maupun pengiring. Pertunjukan semacam ini dipastikan tanpa dihadiri penonton secara live show.

Beberapa pertunjukan daring dapat dikategorikan spektakuler. Pertunjukan ditata dan dikelola dengan sangat rapi, detail, dan profesional sehingga  menarik dan enak ditonton.  Ada wayang climen, wayang online, wayang kulit ringkes, ketoprak gembrotan, ketoprak live streaming, klenengan ala caganaga (cah gaul nabuh gamelan) streaming, wayang orang live streaming, campursari ringkes guyon lagon live streaming, #pentasdaringseni, dan sebagainya.

Tidak dimungkiri terdapat banyak pertunjukan daring yang masuk dalam kategori kering. Kering kreativitas dan kering pula manajemennya. Jangankan dher, disukai (like) penonton saja tidak. Masih beruntung tidak mendapat tanda tidak suka atau dislike. Jumlah penonton yang minim merupakan indikator pertunjukan yang disajikan belum mampu menarik perhatian penonton.

Menyajikan pertunjukan daring yang dher sangat berat tantangannya. Hal ini bukan berarti menyajikan pertunjukan luring (live show/offline) itu ringan. Kaidah-kaidah ruang, waktu, pemain, dan penonton yang meliputi alur cerita, peran, tata panggung, penataan penonton, dan penyutradaraan harus dipenuhi.

Selain itu,  harus dipenuhi unsur-unsur tema, plot, penokohan, dialog, bahasa, pesan, dan latar. Mengemas kaidah-kaidah seni pertunjukan dalam sajian daring inilah yang tidak mudah. Terlebih ketika harus tersaji tanpa penonton real time dalam satu ruang dan waktu yang sama.

Pertunjukan seni daring membutuhkan ahli multimedia berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Dalam hal yang paling elementer, misalnya, kamera penangkap video dan audio adalah mewakili mata dan telinga penonton. Bukan hanya seorang penonton, tetapi seluruh penonton dengan berbagai latar belakang minat, perhatian, unsur, genre, usia, tingkat pendidikan, profesi, dan sebagainya yang beragam.

Keahlian Teknologi

Di seluruh Indonesia saat ini tercatat lebih dari 40.000 seniman dan pekerja seni terdampak pandemi Covid-19. Tampaknya data tersebut akan terus bergerak naik. Potensi kehilangan pendapatan para seniman dan pekerja seni diprediksi dapat menyentuh angka puluhan miliar rupiah sampai ratusan miliar rupiah.

Selain kehilangan pendapatan, mereka juga kehilangan mata pencarian dan karier. Para seniman dan pekerja seni harus bekerja ekstrakeras menyiapkan migrasi besar-besaran dari dimensi pertunjukan luring menuju daring dalam konteks live show di berbagai lini. Tantangannya semakin berat ketika pertunjukan daring harus dher.

Seberat apa pun, itulah pilihannya. Orang bijak berkata lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan (Confucius). Para seniman pertunjukan dengan daya upaya yang dimiliki telah menyalakan lilin dan berusaha untuk tidak mengutuk kegelapan. Menyajikan pentas daring selain dalam rangka untuk bertahan hidup juga menjaga agar aura kreativitas yang menjadi roh para seniman tidak menguap entah ke mana.

Tentu yang demikian patut diapresiasi. Tidak sedikit seniman pertunjukan yang dalam keterbatasan penguasaan multimedia harus berjibaku menyajikan pentas daring. Ketika hasil kreativitasnya belum maksimal, tenti ini sesuatu hal yang dapat dimaklumi. Peralatan elektronik multimedia siaran daring yang kualitasnya baik berharga mahal dan memerlukan kapasitas sumber daya manusia operator level ahli.

Belum lagi mengemas pentas daring yang membutuhkan manajemen terpadu banyak keahlian. Kini saatnya para pemangku kepentingan dalam kapasitas pembina tampil menjadi ”suh” banyak pihak agar pentas daring para seniman pertunjukan tidak garing tetapi dher.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom