A. Windarto/Dokumen Solopos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (1/7/2019). Esai ini karya A. Windarto, peneliti di Lembaga Studi Realino Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah winddarto@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Esai karya Christanto Dedy Setyawan berjudul Sanitasi dalam Pusaran Sejarah yang terbit di Harian Solopos edisi 14 Juni 2019 yang secara khusus membahas masalah sanitasi, toilet, atau sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK) menarik untuk ditelaah lebih lanjut.

Dalam pemaknaan saya, masalah itu tidak hanya terkait dengan soal pencemaran dan penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh pembuangan limbah domestik, termasuk tinja, secara sembarangan, tetapi juga ada korelasi yang cukup signifikan dengan ideologi.

Dalam sejarah Indonesia, masalah sanitasi (assainering) atau kebersihan kampung telah menjadi pokok perbincangan rutin dan amat serius sejak awal abad ke-20 dan sepanjang akhir masa penjajahan Belanda. Tak mengherankan masalah itu kerap ditulis sebagai bagian dari revolusi dalam pembangunan (revolutiebouw) yang menarik minat berbagai ahli, terutama para arsitek dan ahli perencanaan kota.

Sebagaimana dilaporkan dalam suatu studi maupun majalah di Hindia Belanda, masalah tersebut tidak pernah terselesaikan, meski telah direncanakan dan diatur dengan sistem yang sesempurna mungkin. Kendati telah dipamerkan melalui beragam stan dan panel tentang ”kebersihan kota”, masalah seperti itu tampak dibiarkan mencolok dan menandakan bencana dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks ini, kajian hermeneutika Slavoj Zizek dapat memberi pemaknaan yang lebih mendalam. Menurut Zizek, bentuk jamban yang ada di Prancis, Inggris, dan Jerman mencerminkan bukan hanya cara kerja pembuangan feses, tetapi juga ekspresi segenap perasaaan yang ditanamkan di dalamnya.

Bentuk jamban di Prancis yang lubangnya berada di belakang membuat feses segera menghilang dan hal itu sejalan dengan ideologi revolusioner yang dihidupi masyarakat di sana. Sementara di Jerman, dengan bentuk jamban yang lubangnya ada di depan sehingga fesesnya mengendap dahulu dalam air dan tidak berbau sebelum disiram, menggambarkan konservatisme masyarakatnya.

Ekspresi Perasaan

Sedangkan di Inggris yang bentuk jambannya merupakan perpaduan di antara keduanya, memperlihatkan gaya liberal yang pragmatis sekaligus rasional. Tentu apa yang dikaji Zizek itu  hanyalah sebuah cara pandang yang longgar dan lintas disiplin ilmu.

Dari sana dapat dilihat dan dibaca bagaimana ideologi dan ekspresi perasaan yang dibentuk dalam masyarakat dipengaruhi dan ditentukan pula oleh para insinyur kebersihan atau “insinyur kesehatan” (Mrázek, 2002/2006).

Merekalah yang sesungguhnya berperan cukup penting sebagai pengamat yang melalui beragam argumen mampu menumbuhkan, dan lebih jauh lagi menginspirasikan, sebuah paradigma kebersihan, kesehatan, kerapian, keindahan, dan sejenisnya yang ampuh.

Dengan kata lain, melalui segenap impian dan rencananya, masyarakat dapat dibentuk secara mekanis dan hal itu menolong melonggarkan ikatan-ikatan antara sehat dan sakit, antara bersih dan kotor, dan bahkan antara kata dan perbuatan.

Maka masuk akal jika segala sesuatu yang dikenal sejauh dan sebaik sebagaimana dipetakan, seperti jumlah korban tuberkolosis, kolera, dan pes, hanya merupakan satu makna pengetahuan yang amat khusus. Jumlah-jumlah itu dengan segala peta dan pernik-pernik teknologi pengamatannya dipamerkan secara luas, namun masalahnya tidak pernah disentuh.

Itulah mengapa Mas Marco Kartodikromo yang menjadi jurnalis awal di Indonesia menulis di Majalah Doenia Bergerak bahwa cara orang Belanda menangani penyakit secara ilmiah justru menimbulkan korban rakyat Indonesia yang lebih besar daripada korban yang diakibatkan oleh penyakit itu sendiri.

Diskriminasi

Koran Soeloeh Indonesia memberitakan masih ada jamban-jamban yang dibuat secara khusus dan diskriminatif seperti jamban untuk orang Eropa, orang Asia biasa, dan orang Asia kelas tinggi. Tak mengherankan jika di pintu-pintu jamban-jamban di sebuah bank tergantung empat papan bertuliskan: 1. Pimpinan; 2. Staf (kulit putih); 3. Orang Asia; 4. Juru tulis dan orang-orang lain.

Memang masalah yang belum terpecahkan dan menjadi ciri khas dari seluruh sistem dari masa lalu itu sudah tidak tampak lagi pada masa kini, tetapi bayang-bayang ideologi dari masalah sistematis itu masih menghantui masyarakat ketika tuntutan untuk menjadi higienis hanya dipusatkan pada impian dan rencana mengenai jamban yang layak.

Itu artinya, tuntutan seperti itu tampaknya sekadar menggiring masyarakat untuk tunduk tanpa syarat pada gaya hidup yang disebut modern. Sebuah gaya hidup yang di mata Ki Hajar Dewantara telah kehilangan roh kebangsaan dan kemerdekaannya sebab mereka tak ubahnya hidup seolah-olah menginap di hotel milik orang lain dan sekadar puas makan makanan enak serta dapat tidur pulas.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten