Jamal Khashoggi Diduga Disuntik Cairan Misterius, Lalu Dimutilasi Hidup-Hidup
Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, saat menjadi pembicara dalam sebuah acara yang digelar Middle East Monitor di London, Inggris 29 September 2018. (Reuters / Middle East Monitor)

Solopos.com, JAKARTA — Kemungkinan cairan asam digunakan untuk melenyapkan wartawan Washinton Post asal Arab Saudi, Jamal Khashoggi, mencuat dalam penyelidikan yang tengah berlangsung. Hal itu diungkapkan oleh seorang sumber yang terkait penyelidikan kasus pembunuhan itu.

Koresponden khusus SkyNews, Alex Crawford, mengatakan di Istanbul bahwa dia diberitahu oleh seseorang yang sangat dekat dengan penyelidikan kasus hilangnya wartawan yang dianggap pembangkang Kerajaan Arab Saudi tersebut. Khashoggi diduga dihilangkan secara cepat dengan menggunakan bahan kimia pada 2 Oktober 2018 lalu di dalam gedung Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, sebagimana dikutip SkyNews.com, Kamis (18/10/2018).

SkyNews melaporkan bahwa sumber berita yang tidak mau disebutkan namanya itu menyatakan pelaku kejahatan tersebut memasukkan potongan tubuh ke dalam 15 kantong plastik. Selanjutnya, potongan tersebut dihancurkan menggunakan cairan asam yang bereaksi cepat dan disembunyikan di dekat rumah Konsulat Jenderal Arab Saudi Mohammed al-Otaibi.

Sementara itu, media Turki Yeni Safak memberitakan terjadi percakapan antara Otaibi dan Khashoggi sebelum si jurnalis itu berhadapan dengan 15 orang terduga pelaku. Dari rekaman pembunuhan yang didapat, kontributor media AS itu diduga diseret di sebuah ruangan. Di sana, Khashoggi disiksa sehingga teriakannya terdengar staf konsulat.

"Lakukan ini di luar. Kalian bisa membuatku terkena masalah," kata Otaibi dalam rekaman. "Diam jika Anda masih ingin hidup ketika kembali ke Saudi," jawab salah satu pelaku kepada Otaibi.

Rekaman itu memperdengarkan Khashoggi sempat disiksa. Setelah itu, dia disuntik cairan misterius agar tak berteriak, dan para pelaku mulai memutilasinya dalam keadaan hidup-hidup.

Pada Rabu (17/10/2018) malam waktu setempat, polisi Turki menuju kediaman Otaibi dan melakukan pencarian setelah mencapai kesepakatan dengan pemerintah Arab Saudi di Riyadh. Puluhan petugas forensik menyebar dan mencari petunjuk baik di area kebun maupun dalam rumah.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom