Es dawet selasih khas Solo. (Pictagram)

Solopos.com, SOLO – Solo bukan saja terkenal dengan makanannya. Minuman-minuman khas yang bisa ditemui di pasar tradisional pun tak kalah menarik untuk dicoba.

Siapa yang belum mencoba kuliner Solo berupa dawet selasih di Pasar Gede? Dawet dengan beragam isi yang nikmat dinikmati di siang hari. Ada banyak lapak dawet selasih di pasar tersebut. Salah satunya lapak dawet selasih Bu Siti.

Lapak dawet tersebut berada di dalam Pasar Gede sisi timur. Tepatnya di jalur utama sisi tengah pasar. Kushendrati, penjual dawet di lapak tersebut, selalu sigap menghidangkan dawet ketika ada pelanggan datang.

Seporsi dawet selasih Bu Siti terdiri ketan hitam, selasih, tape, cendol, tepung beras yang sudah dibuat seperti bubur, irisan buah nangka, gula pasir, dan santan. Semua bahan dicampur dan disajikan bersama es batu pada mangkuk putih.

Dari bahan-bahan yang digunakan, sudah dapat dibayangkan kesegaran dan kenikmatan rasanya. Bubur tepung beras berwarna putih bertekstur lembut dengan rasa gurih. Begitu juga dengan ketan hitam dan cendol.

Sedangkan tape ketan memiliki rasa manis. Buah nangka yang diiris kecil-kecil, selain warnanya yang menyegarkan juga menghasilkan aroma harum yang menggugah selera. Biji selasih berwarna hitam dengan permukaannya putih bening menimbulkan sensasi tersendiri saat dikunyah.

Kushendrati mengatakan cendol dawet banyak disukai pengunjung pasar baik dari dalam kota maupun luar kota. "Biasanya kalau musim liburan. Ini sebentar lagi momentum liburan, ada Natal, Tahun Baru nanti juga ada Imlek," kata Kushendrati, kepada Solopos.com, Jumat (13/12/2019).

Ada beberapa penjual cendol dawet selasih di Pasar Gede Solo. Mulai dari pintu masuk utama sisi barat di tengah, hingga di los di dekat pintu masuk sisi utara. Cendol dawet selasih bisa dinikmati dengan harga antara Rp7.000-Rp10.000 per porsi.

Selian cendol dawet selasih, ada juga gempol pleret. Minuman ini juga cukup melegenda di Solo. Salah satu lapak yang menyediakan gempol pleret yakni lapak Bu Yami. Lokasinya berada di muka gerbang pasar sisi barat.

Seperti namanya, minuman tersebut terdiri dari santan, gula merah dan es dengan isian gempol dan pleret. Baik gempol maupun pleret terbuat dari adonan tepung beras, kelapa dan garam yang dibentuk bulatan berwarna pulih dan lembaran, seperti kulit pangsit. Harga per porsinya cukup murah, yakni Rp7.000 saja.

"Kalau yang cokelat itu karena ditambah gula jawa," kata nya.

Selain di Pasar Gede, di pasar lain juga ada minuman-minuman sejenis dawet yang biasanya menjadi jujukan para pengunjung pasar tersebut. Jika mengunjungi Pasar Sibela, Mojosongo misalnya, bisa mencoba jajanan pasar berupa dawet jenang sumsum.

Disebut demikian karena di dalam dawet tersebut juga terdapat jenang sumsum. Sepintas, tampilan dawet jenang sumsum hampir sama dengan dawet selasih di Pasar Gede. Hanya saja dawet jenang sumsum tidak dilengkapi dengan ketan hitam, selasih dan nangka.

Dawet jenang sumsum juga hampir sama seperti dawet angkring atau dawet ndeso yang ada di Pasar Tanggul. Hanya saja dawet angkring disajikan tanpa jenang sumsum. Dawet angkring merupakan perpaduan antara santan, cendol dari tepung tapioka, gula dan es batu, yang disajikan dalam sebuah mangkuk.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten