Pengendara melintasi jalan Baturetno-Eromoko di Dusun Puthuk, Desa Glesungrejo, Kecamatan Baturetno, Wonogiri, Rabu (11/9/2019). Jalan itu muncul setelah Waduk Gajah Mungkur menyusut. (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Solopos.com, WONOGIRI -- Jalan yang menghubungkan Baturetno-Eromoko di Kabupaten Wonogiri kembali bisa dilalui setelah Waduk Gajah Mungkur (WGM) menyusut kala musim kemarau ini. Keberadaan jalan itu mempersingkat jarak perjalanan darat hingga 15-20 km dibandingkan melalui jalan Wonogiri-Pacitan.

Jalan itu merupakan dasar WGM yang mengering. Lokasi jalan sepanjang sekitar 3 km itu mulai Dusun Puthuk, Desa Glesungrejo, Baturetno hingga Desa Tegalharjo, Eromoko. Jika penuh air, daerah itu tetap terhubung dengan perahu yang beroperasi setiap hari.

Jalan itu bukanlah jalan baru. Jauh sebelum ada WGM, jalan itu beraspal dengan lebar sekitar 6 meter. Jalan itu menjadi penghubung aneka komoditas mulai dari sayuran, hasil bumi, hingga gaplek dari Baturetno ke Eromoko dan sekitarnya atau sebaliknya. Dulu, jalan itu beraspal dan dilintasi rute bus.

Jalan itu sekaligus menjadi kenangan bagi Solihin, 60. Dalam ingatannya, jalan itu sangat teduh. Di samping kiri dan kanannya tumbuh pohon trembesi besar. Di ruas jalan yang sama ada sebuah jembatan dengan kontruksi baja.

Kini jembatan itu hilang dan hanya menyisakan fondasi yang tertimbun lumpur kering. “Jalan itu kalau hujan selalu kebanjiran. Saya pasti berenang di sana bersama teman-teman tepatnya di jembatan. Kadang, banjir itu sampai ke rumah. Maka tidak salah kalau lantas dibendung dan warga bermigrasi,” kenang dia, saat ditemui solopos.com di Glesung, Rabu (11/9/2019).

Ada cerita unik soal jembatan yang disebut-sebut ada di hulu sungai Bengawan Solo itu. Seusai penggenangan, jembatan tak lagi dipakai. Hingga suatu musim kering, jalan bisa dilewati seperti sedia kala.

Saat itu terlihat sekelompok orang mengangkuti kerangka baja menggunakan truk-truk besar. Warga setempat mengira, orang-orang itu adalah suruhan pemerintah untuk membongkar jembatan. Warga tak ambil pusing soal aktivitas.

Saat jembatan itu“hilang, seorang petugas pemerintah mendatangi warga di perkampungan terdekat. Ia bertanya kepada warga ke mana jemabatan itu? Warga lalu bercerita, ada sekelompok orang “mretheli” jembatan itu. Warga mengira orang-orang itu utusan pemerintah.

“Ternyata pemerintah enggak pernah membongkar. Jadi orang-orang itu sebetulnya mencuri material jembatan,” ujar Sunarno, 65, saat ditemui solopos.com di Puthuk, Glesungrejo, Baturetno.

Baik Sunarno maupun Solihin, keduanya sama-sama mengingat jalan itu merupakan jalan sapi. Melalui jalan itu puluhan sapi dituntun oleh para belantik dari Baturetno ke Pracimantoro atau Wuryantoro. Para belantik berangkat dari Baturetno malam hari mulai dari pukul 22.00 hingga pukul 2.00 dini hari. Mereka akan tiba di Pracimantoro dan Wuryantoro pada pukul 6.00 pagi.

Sapi-sapi itu diarak dengan penerangan oncor dari minyak tanah dipasang di dekat kepala. Agar sapi tetap berjalan sesuai perintah, belantik memukulkan cethen (sejenis cambuk dari bambu atau rotan) ke jalan. Dalam satu konvoi, sapi yang dituntun bisa mencapai 40 ekor bahkan lebih.

“Cethaarrr!!! Suaranya sangat keras. Sampai-sampai terdengar dari rumah saya. Kalau ada suara itu artinya konvoi sapi sedang melintas,” kenang ujar Sunarno ditemani istrinya, Sri Utami, 58.

Hal berbeda diungkapkan Sri Utami. Bagi Sri, jalan itu menjadi satu-satunya cara ia bisa melihat kuda. Kuda biasanya dikendarai orang-orang Wuryantoro dan sekitarnya untuk mengangkut gaplek dari Baturetno.

Tak jarang, ia mengikuti kuda-kuda itu berjalan hingga cukup jauh demi memuaskan rasa penasarannya. Jika ada orang mengangkut gaplek menggunakan kuda itu artinya dia termasuk orang kaya atau berpunya.

“Waktu itu umumnya orang ngangkut gaplek dipikul pakai kembu. Sekarang sudah enggak ada kembu,” beber nenek bercucu tiga itu. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten