Prioritas Riset Nasional, Menristek: Ini Perkembangan Kendaraan Listrik
Menristek dan Kepala Balai Riset dan Inovasi Nasional, Prof. Bambang Brodjonegoro. (Tangkapan layar)

Solopos.com, SOLO – Transportasi kendaraan listrik dan digital menjadi salah satu proritas riset Nasional 2020-2024. Sejauh ini pemerintah akan fokus pada pengembangan kendaraan listrik bus dan sepeda motor listrik.

“Pemerintah sudah membuat strategi dukungan untuk riset dan inovasi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai [KBLBB],” kata Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Balai Riset dan Inovasi Nasional, Prof. Bambang Brodjonegoro, saat talkshow virtual Solopos, Kamis (4/3/2021) malam.

Talkshow virtual Solopos mengusung tema, “Era Baru Mobil Listrik Tanah Air” didukung oleh PLN dipandu Direktur Bisnis Solopos Group, Suwarmin. Hadir juga narasumber lainnya, seperti Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil akrab disapa Kang Emil.

Kemudian Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Mochamad Ashari dan Operation Manager BMW Astra, Teguh Widodo. Talkshow ini juga disiarkan life di kanal YouTube Solopos TV, Instagram dan Facebook Solopos.

Baca juga: Baterai Menjadi Komponen Termahal dari Kendaraan Listrik

Lebih jauh Menristek menjelaskan strategi dukungan untuk riset dan inovasi kendaraan listrik di Indonesia oleh pemerintah. Strategi itu antara lain terkait market, pemetaan produsen komponen, model bisnis, KBLBB sebagai Reference Design, laboratorium pengujian, dan kemitraan global.

“Hal ini karena kita tidak ingin fokus pada manufakturnya saja, namun juga menyangkut kemampuan teknologi dan desainnya. Jadi nantinya tidak hanya tenaga listrik tapi tanpa pengemudi [autonomous]. Sehingga ini menjadi alasan jadi salah satu prioritas riset nasional bidang transportasi,” jelas Menristek Bambang Brodjonegoro.

Untuk riset market, tambah Menristek, targetnya dua tahun ke depan menghasilkan produk bus, kendaraan listrik roda empat, dan roda dua yang mampu menarik minat pasar. Pemetaan produsen komponen dengan kandungan konten dalam negeri. Ini bisa dilakukan dengan kemitraan global.

“Misal Astra untuk sejumlah komponen tidak harus membuat sendiri, namun bisa menggandeng perguruan tinggi atau lembaga yang berkompeten untuk melakukan riset dan pengembangan [R&D],” ujar Menristek.

Baca jugaDibangun Semester I 2021, Pabrik Baterai Kendaraan Listrik di Batang Serap Berapa Tenaga Kerja?

Tidak Hanya Jadi Penonton

Menurut Menristek, dengan adanya strategi tersebut jika nantinya kendaraan listrik jadi kendaraan utama, maka Indonesia tidak hanya sebagai penonton atau hanya sebagai pasar saja.

Namun, saat ini yang masih menjadi kendala kendala listrik adalah infrastruktur ketersediaan charging station yang fast charging. Karena konsumen ingin pengisian baterai bisa secepat mengisi BBM. “Ini yang juga menjadi alasan kenapa pengembangan kendaraan listrik pada bus untuk transportasi umum dan sepeda motor,” ujar Menristek.

Bus listrik tentu jumlahnya tidak sebanyak mobil roda empat (sedan), sehingga menurut Menristek, tidak terlalu membutuhkan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dalam jumlah banyak. Cukup dilakukan di pool dan beberapa SPKLU di rute bus tersebut.

talkshow virtual
Talkshow virtual mobil listrik (Tangkapan layar)

“Sedang sepeda motor listrik yang saat ini sudah dijual ke masyarakat umum, bisa dilakukan penukaran baterai. Sehingga proses pengisian baterai bisa secepat pengisian BBM,” jelas Menristek.

Memang diakui Menristek, saat ini sudah ada beberapa perguruan tinggi yang mengembangkan kendaraan listrik, seperti ITS Surabaya. Juga pengembangan baterai lithium di UNS Solo sebagai komponen kendaraan listrik. Namun keduanya tidak bisa memproduksi sendiri kendaraan listrik.

“Oleh karena itu kita butuh integrator agar dari riset bisa ke industry yang bisa diterima pasar. Sehingga tidak hanya sebagai pajangan saja. Kita berharap tahun ini sudah ada integratornya,” pungkas Menristek Bambang Brodjonegoro.

 



Berita Terkini Lainnya








Kolom