Jadi Korban Tabrak Lari, Pasutri Pemulung di Banjarsari Solo Kehilangan 2 Bayi Kembar
Duri, 55, (kiri) saat menunggui istrinya, Munipah, 48, yang tengah menjalani perawatan medis usai menjadi korban kecelakaan di indekos Jl. Pemugaran Utama, Nusukan, Solo, pada Sabtu (26/9/2020) sore. (Solopos.com/Ichsan Kholif Rahman)

Solopos.com, SOLO – Pasutri pemulung yang singgah di Tegalmulyo, Nusukan, Banjarsari, Solo mengalami nasib tragis setelah menjadi korban tabrak lari. Pasangan suami istri bernama Suri, 55, dan Munipah, 48, itu harus merelakan dua bayi kembar dalam kandungan yang dinantikan selama 15 tahun terakhir.

Kisah tragis yang dialami pasutri pemulung di Solo itu bermula saat mengalami kecelakaan pada 9 September 2020. Kejadian tersebut mereka ceritakan saat ditemui Solopos.com di gubuk tempat singgah mereka di Tegalmulyo, Sabtu (26/9/2020) sore.

Sore itu Munipah hanya sanggup berbaring miring dengan perban yang hampir menutupi seluruh kepalanya. Di perban itu bertuliskan Jangan Ditekan dengan spidol berwarna hitam.

Rambut Munipah pun terpaksa digundul seusai kecelakaan yang terjadi pada 18 hari lalu. Munipah tidak banyak berbicara, wanita asal Demak itu memilih banyak diam sesekali tersenyum mendengar obrolan Duri saat berbincang dengan Solopos.com.

Braaakkk... Sopir Tewas Terlempar dari Mobil di JLS Wonogiri 

Tabrak Lari

Aksen khas Jawa Timur sangat kental dari suara lelaki berkulit hitam, Duri. Ia menceritakan kejadian yang menimpanya 18 hari lalu. Seperti biasa, Duri dan Munipah terbangun pada dini hari untuk segera bekerja. Gubug yang dirikan di tanah kosong tak jauh dari Simpang Tujuh Joglo mereka tinggalkan.

“Saya mendorong becak, sedangkan Munipah menuntun sepeda kayuh. Saya berjalan dari arah selatan ke utara kawasan Nusukan (Jl. Pierre Tendean). Tiba-tiba dari belakang kami ditabrak mobil berwarna hitam sangat keras sekali. Kejadiannya saya tidak ingat, 18 hari ini sepertinya,” ujar Duri dengan Bahasa Jawa aksen Kediri Jawa Timur, asalnya.

Duri saat itu langsung terpental cukup jauh, sedangkan Munipah terseret beberapa meter terhantam mobil dari arah yang sama. Seketika, Duri berusaha menarik tubuh kecil Munipah agar tak terseret. Tak sempat berhenti, mobil itu terus menghantam becak dan sepeda mereka hingga koyak. Kardus dan botol bekas air mineral yang bakal jadi sandang pangannya pun berceceran di jalanan.

“Pokoke pas meh subuh kejadiane, mobil werno ireng mobil opo, aku gaisoh moco e. Kulo ditabrak disik, bojo kulo kegeret mobil ireng. [Kejadiannya saat subuh, mobil berwarna hitam pendek. Saya tidak tahu itu mobil apa karena saya tidak bisa membaca. Saya ditabrak dulu, lalu istri saya terseret],” ujar Duri.

Astaga! Pengepul Anjing di Sragen Jual Beras untuk Beli Anjing di Jabar dan Jatim 

Kehilangan Bayi Kembar

Duri yang mengalami cedera kaki berat saat itu melupakan kondisinya. Istrinya yang tengah mengandung buah hatinya tengah terkapar di pinggir jalan. Kepala istrinya penuh dengan darah yang terus mengalir menutupi wajah.

Becak sumber penghasilannya ringsek, ia tak pedulikan. Ia hanya terpikir untuk segera membawa Munipah ke rumah sakit. Dalam beberapa menit, warga sekitar ada yang mencarikan mobil untuk mengevakuasi mereka.

“Kami di bawa ke RSUD Ngipang terus kami dirujuk ke RS. dr. Moewardi. Saya tahu mobil itu mobil sewa, tetapi katanya sudah ada yang membayar,” papar Duri.

Duri memilih menuruti penindakan medis yang diberikan. Nahas, bayi yang dinanti selama 15 tahun itu tidak tertolong. Ia menyebut jika tidak terjadi kecelakaan, tiga hari kemudian ia dikaruniai dua anak lelaki kembar. Namun, Allah berkehendak lain, Duri belum dikaruniai anak.

“Saat di rumah sakit, saya cuma bawa uang Rp5.000. Saya sangat lapar sekali, saya juga ingin membelikan istri saya minuman. Tetapi tidak bisa, saya sempat ditanyai dokter apa sudah makan. Ya saya menjawab belum, lalu saya diberi uang untuk makan,” imbuh Duri.

Kisah Mbah Dalimin, Bakul Kangkung Berusia 80 Tahun di Alkid Solo 

Usai perawatan medis selesai, dua bayinya dimakamkan ke Kediri. Namun, Munipah harus menjalani perawatan medis akibat luka parah di kepala. Sangat tidak memungkinkan jika Duri harus mengajak Munipah ke gubug reot beralas tanah beratap plastik.

Berbekal bantuan uang dari para donatur, Duri menyewa kamar indekos. Duri menyebut sudah enam tahun di Solo, jika siang tidur di gubug jika malam tidur di pinggir jalan. Ia mengaku data-data kependudukan yang mereka miliki hilang diambil orang saat mereka terlelap.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom