Luis Suarez (Reuters-Sergio Moraes)

Solopos.com, SALVADOR - Tingkah laku Luis Suarez di lapangan sepak bola memang tidak selalu positif. Dia pernah menggigit lawannya, berbuat rasialis kepada pemain kulit hitam, hingga berseteru dengan wasit.

Namun, meski kerap dicap berbuah ulah, Suarez hampir selalu menjadi andalan kesebelasan yang dibelanya dalam melesakkan gol. Cuma, memasuki usia 30-an, ketajaman Suarez mulai mengendur. Musim 2018/2019 misalnya, Suarez "hanya" meraih trofi Liga Spanyol bersama Barcelona. Rupanya musim mengecewakan Suarez menular ke level internasional bersama Uruguay.

Suarez yang digadang-gadang memimpin Uruguay mengakhiri paceklik gelar Copa America sejak 2011 justru menjadi biang kerok tersingkirnya timnya dari turnamen tertua di dunia tersebut pada 2019 ini. La Celeste, julukan Uruguay, dibekuk Peru lewat drama adu penalti 0-0 (4-5) pada perempatfinal di Arena Fonte Nova, Salvador, Minggu (30/6/2019) dini hari WIB.

Suarez ditunjuk sebagai penendang penalti pertama bagi Uruguay setelah kedua tim hanya berbagi skor tanpa gol dalam waktu normal plus dua kali extra time. Namun sepakannya ke arah tengah bisa dibendung kiper Peru, Pedro Gallese, menggunakan bagian perut. Suarez menjadi satu-satunya penendang penalti yang gagal menceploskan gol dalam adu tos-tosan tersebut. Edison Flore yang menjadi eksekutor penalti terakhir Peru akhirnya memastikan timnya lolos ke semifinal.

Suarez nyaris saja menjadi pahlawan ketika mencetak gol pada menit ke-73. Namun, gol El Pistolero tersebut dianulir karena offside. Seusai adu penalti, Suarez langsung menarik kaus bagian bawah untuk menutupi wajahnya. Matanya sembab. Ia mungkin tak percaya menjadi biang kekalahan timnya lewat adu tos-tosan. Maklum, pemain berjuluk El Pistolero ini sebenarnya memiliki catatan baik dalam menendang penalti.

Menurut data Transfermarkt, Suarez mencetak gol dalam 39 penalti dan cuma gagal 9 kali dalam total 48 kali percobaan. Jika beberapa kali dia menunjukkan ketajaman dari titik putih, kali ini dia menunjukkan alter ego (dirinya yang lain).

"Luis Suarez sangat sedih, dia gagal dalam momen menentukan namun beginilah sepak bola dan kehidupan. Terkadadang Anda menang, terkadang Anda kalah. Kami pernah menang Copa America, tapi kali ini kami harus menerima bahwa kami tersingkir," ujar rekan setim Suarez, Edinson Cavani, seperti dilansir irishtimes.com.

Uruguay yang tercatat sebagai tim pencetak rekor juara Copa America sebanyak 15 kali gagal menambah gelar sejak 2011. La Celeste sebelumnya juga terhenti pada perempat final pada Copa America 2015 dan tersingkir dari fase grup pada Copa America 2016.

"Ini pencapaian yang sangat mengecewakan karena kami datang ke sini untuk juara dan kami berusaha sebaik mungkin," jelas Pelatih Uruguay, Oscar Tabarez. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten