Jabat Direktur Eksekutif IMF, Wimboh Janji Genjot Investor Masuk ke ASEAN
Wimboh Santoso (JIBI/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat)

Wimboh Santoso (JIBI/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat)
SOLO — Mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) New York, Amerika Serikat, Wimboh Santoso, terpilih menjadi Executive Director IMF (International Monetary Fund) masa jabatan 2013-2015. Dengan jabatan baru itu, Wimboh berkomitmen memajukan negara – negara berkembang di kawasan ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) salah satunya dengan menggenjot investor masuk ke kawasan tersebut.

Wimboh mengatakan ia akan resmi menjabat Direktur Eksekutif IMF per 1 Mei mendatang. Ia akan mewakili negara-negara di ASEAN termasuk Fiji, Tonga dan Nepal dalam kancah perekonomian dunia. Kendati resmi menjabat sebagi Direktur Eksekutif IMF, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu mengaku bahwa dirinya masih tercatat sebagai pegawai BI. “Tugas kami memperjuangkan kepentingan negara – negara konstituen tadi di rapat board IMF, karena saya anggota board. Ini satu tugas besar dan bukan hanya mewakili Indonesia tapi tergolong negara–negara sedang berkembang,” ujarnya kepada wartawan dalam jumpa pers di Solo, Minggu (31/3/2013).

Ia melihat potensi cukup besar dari negara berkembang yang ia wakili. Apalagi, saat ini perekonomian negara di benua Eropa dan Amerika sedang menjalani proses recovery. Sehingga, menurutnya sepuluh negara tersebut mampu bersaing dengan negara – negara Eropa dan Amerika. “Negara ASEAN harus mampu menangkap peluang tersebut karena banyak investor yang melirik untuk menanamkan sahamnya di negara-negara itu.”

Ia memberikan contoh, banyak dana warga Amerika yang terkumpul oleh fund manager di negara maju tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena berbagai permasalahan ekonomi yang masih melanda. Dana tersebut seharusnya bisa dialihkan ke negara-negara berkembang sebagai dana investasi. Selain itu, menurutnya, masih banyak hal yang perlu dibenahi terkait perekonomian di Eropa dan Amerika yang sedang bangkit dari krisis. Momentum inilah yang dapat dimanfaatkan negara berkembang untuk menggiring investor.

Ia menambahkan, saat ini Eropa maupun AS sudah bukan lagi menjadi pilihan utama untuk berinvestasi. Dikatakannya, saat ini yang menjadi pilihan investasi menarik dan paling diburu investor asing yaitu negara China, India, dan Indonesia. Bila hal itu dapat dimanfaatkan dapat mendorong perekonomian negara berkembang termasuk Indonesia, sehingga ekspor naik dan cadangan devisa kian tebal.

“Banyak investor di sana enggan melakukan investasi karena ekonomi yang tidak kompetitif sehingga mereka cenderung memarkir sementara uangnya di negara berkembang,” jelasnya. Uang rakyat AS tersebut kemudian ditangkap oleh fund manager dan ditanamkan di negara berkembang termasuk Indonesia. Uang tersebut dapat dimanfaatkan negara-negara berkembang dalam bentuk foreign direct investment seperti membangun pabrik maupun investasi portfolio, pasar saham, hingga surat utang.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho