Isu Dana Haji 2020 untuk Memperkuat Rupiah, Ini Bantahan BI
Ilustrasi praktik manasik haji. (Solopos/dok)

Solopos.com, JAKARTA -- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menanggapi isu Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH) yang menggunakan dana haji 2020 untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Perry mengatakan pemberitaan tersebut tidaklah benar.

Menurutnya, wajar jika dana haji ditempatkan baik dalam denominasi rupiah maupun valuta asing (valas). Itu karena ada kebutuhan harus memberangkatkan haji.

Aplikasi Injil Bahasa Minang Dihapus, Gubernur Sumbar Dinilai Tolak Kemajemukan

"Wajar jika suku bunga valas rendah, rupiah menguat, tentu saja ada pergeseran dana dari valas ke rupiah. Itu keputusan internal dan mutlak dari BPKH," kata Perry, Jumat (5/6/2020).

Perry menjelaskan, BPKH juga merupakan pelaku pasar, termasuk BI, perbankan, eksportir, dan importir. BPKH juga selalu mengikuti mekanisme pasar dan berkomunikasi terkait jumlah dan waktu yang tepat untuk penempatan dana.

Masih Zona Merah, Pemkot Semarang Izinkan Salat Berjemaah di Masjid

"Timing-nya bagaimana, jumlahnya berapa, itu mekanisme pasar supaya pasar berjalan secara kondusif," ujarnya.

Terkait stabilitas nilai tukar rupiah, kata Perry, itu merupakan wewenang BI. Intinya, kata dia, isu dana haji 2020 dipakai untuk memperkuat rupiah tidak benar.

Masih Berasap, Balon Udara Jatuh di SPBU Kalijambe Sragen

"Kami selalu berkomunikasi dengan pelaku pasar. Kewenangan BI adalah menjaga supaya mekanisme pasar valas bisa berjalan baik kursnya bisa menguat," jelas Perry.

Isu dana haji dipakai untuk memperkuat rupiah merebak setelah pemerintah membatalkan ibadah haji 2020 karena pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Kebetulan, nilai rupiah juga sedang dalam tren menguat seiring rencana pelonggaran PSBB.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho