Istri Korban PHK di Wonogiri Dirumahkan Perusahaan di Ungaran
Fransiska Eni Puspitasari (kanan), warga Desa Batuwarno, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri, dan suaminya, Imam Halidin, 25, saat menunjukan pemberitahuan bahwa mereka tidak lolos mendaftar kartu prakerja di rumahnya, Rabu (24/6/2020). (Solopos/M. Aris Munandar)

Solopos.com, WONOGIRI -- Istri korban pemutusan hubungan kerja atau PHK di Wonogiri, Imam Halidin, 25, bernama Fransiska Eni Puspitasari (Sari), 22, dirumahkan sebuah perusahaan di Ungaran, Semarang.

Kini sepasang suami istri itu hidup menumpang di rumah orang tua Sari di Desa Batuwarno, Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri.

Diberitakan sebelumnya, Imam tiga kali mengajukan kartu prakerja dan tiga kali itu pula dia tak lolos. Imam adalah korban PHK salah satu perusahaan garmen di Ungaran pada akhir April 2020.

Sudah Buka 2 Pekan, Objek Wisata di Klaten Ditutup Lagi, Kenapa?

Berbeda dengan Imam, Sari baru satu kali mengajukan diri dalam program kartu prakerja, yakni pada gelombang ketiga. Namun, dia dinyatakan tak lolos program tersebut.

“Saya menganggur atau sedang tidak mempunyai pekerjaan. Sebelumnya, saya bekerja di salah satu pabrik garmen di Ungaran, Kabupaten Semarang,” kisah dia saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (24/6/2020).

Dia menceritakan saat pandemi Covid-19, ia dirumahkan selama satu bulan. Kemudian ia disuruh masuk kembali oleh perusahaan untuk memproduksi masker. Namun, upah yang diberikan tidak seperti pekerjaan awal sehingga berat baginya hidup di perantauan.

New Normal, UMKM Sukoharjo Digenjot Pemasaran Online

Mendaftar Kartu Prakerja Online

Akhirnya, pada akhir April 2020, Sari memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Ia bekerja di pabrik tersebut sudah enam bulan. Sebelumnya, selama empat tahun ia bekerja di salah satu pabrik garmen di Sukoharjo.

Mendapat informasi dari media tentang kartu prakerja, ia lantas mendaftar pada gelombang ketiga secara online. Tetapi ia tidak lolos. Selama mendaftar tidak ada kendala dalam proses pengisian maupun upload dokumen.

Sari mengatakan saat ini ia dan suaminya juga tengah mencari lowongan kerja di beberapa perusahaan. Tetapi rata-rata perusahaan belum membuka lowongan kerja.

Mantap! Kontraktor Turki Berminat Garap Proyek Ibu Kota Baru

"Ada lowongan, tetapi hanya sedikit. Kami mendaftar secara online, tetapi kuotanya minim jadi banyak yang tidak lolos juga," kata dia.

Sari dan Imam saat ini masih tinggal bersama orang tua Sari. Karena ia baru saja menikah pada awal Juni 2020. Sebenarnya pernikahan mereka sudah direncanakan awal April, namun karena pandemi acara diundur.

Tempat Hiburan & Rekreasi Surabaya Boleh Buka Tapi Ada Syaratnya

Kedua orang tua Sari bekerja sebagai tukang pijat. Keduanya juga terdampak Covid-19 karena banyak pelanggan yang tidak memesan layanan pijat.

Keluarga Sari sudah mendapatkan bantuan sosial beruap Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD), tetapi berdasarkan kartu keluarga (KK) orang tunya. Sari belum mempunyai KK sendiri, lantaran itu meski merupakan korban PHK, dirinya dan suami tak mendapat bantuan sosial apapun.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho