Ironi Indonesia: Kekayaan 4 Konglomerat Setara 100 Juta Penduduk
Ilustrasi warga di permukiman kumuh. (Antara-Aprillio Akbar)

Solopos.com, SOLO -- Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih menunjukkan angka positif di tengah pelemahan ekonomi global adalah fakta tak terbantahkan. Di atas kertas pendapatan penduduk Indonesia terus meningkat seiring kenaikan gross domestic bruto (GDP).

Apakah berarti penduduk Indonesia semakin kaya? Faktanya tak semanis itu.

Seperti kerap diungkapkan pemerintah, pertumbuhan ekonomi yang berkisar 5%-6% memang menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara G20. Bahkan dengan status sebagai emerging middle-class country, Indonesia diprediksi bisa masuk 5 besar kekuatan ekonomi dunia pada 2050.

Nasib Gibran Rakabuming dan Purnomo Baru Diumumkan Akhir Maret?

Namun laporan The Interpreter yang dirilis di laman lowyinterpreter.org 3 Februari 2020 menunjukkan data ekonomi Indonesia tak terlalu baik. Ada sejumlah masalah besar di balik mengilapnya data pertumbuhan ekonomi, di antaranya ketimpangan yang sangat besar.

Data Bank Dunia menyebutkan GDP Indonesia pada 2018 mencapai US$1042,17 miliar. Dengan jumlah penduduk 263,9 juta jiwa (data BPS Triwulan II 2018), GDP per kapita masih berkisar US$3.949,1. Namun, pendapatan mayoritas penduduk Indonesia masih di bawah angka itu.

Studi Lowy Institute tersebut mengutip data 20% dari 270 juta penduduk Indonesia atau 50 juta orang rawan jatuh miskin. Pendapatan perkapita mereka di bawah garis kemiskinan dunia US$1,90 per hari atau di bawah US$693.5 per tahun.

Bukan 23 Februari, Ini Tanggal Penentuan Gibran Rakabuming & Purnomo di Pilkada Solo

Laporan berjudul Indonesia: the not so good news itu menyebutkan kemiskinan lebih buruk terjadi di luar Jawa dan Sumatra. Angka kemiskinan di Papua bahkan 7 kali lebih tinggi daripada di Papua.

Mengapa hal ini terjadi. Alasannya sederhana, yaitu distribusi kekayaan yang sangat tidak merata. Berdasarkan laporan tersebut, empat orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan yang lebih besar daripada 40% (100 juta) orang Indonesia.

Ucapan Mendalam Rudy: PDIP Tak Boleh Dicabik, Cukup Satu yang Berkorban

Menilik data Forbes, 50 orang terkaya Indonesia pada 2019 memiliki kekayaan total US$134.6 miliar. Jumlah total kekayaan mereka naik US$5,6 miliar dari 2018 yang mencapai US$129 miliar. Jika dihitung, kekayaan 50 taipan tersebut mencapai 12,38% dari GDP total Indonesia 2018.

Aktivis Margianta Surahman Juganda Dinata pun mengkritik kondisi ini. Margianta berkicau di akun Twitter @margianta, Kamis (13/2/2020) lalu.

"4 Indonesian richest ppl's wealth is on par with 100 million people of its population [kekayaan 4 orang terkaya Indonesia setara 100 juta penduduk]," cuitnya.

Kisah Mahasiswa Indonesia Hindari Virus Corona di Wuhan dengan Makan Chiki

Dia pun menyoroti dua dari empat orang terkaya itu yang merupakan taipan perusahaan rokok.

"The irony: Top 2 of these richest ppl are Big Tobacco conglomerates who built their wealth by selling cigarettes whose primary customers are
middle-lower class people [Ironi: dua orang terkaya itu adalah konglomerat tembakau besar yang membangun kekayaan dengan menjual rokok, yang konsumennya terutama masyarakat menengah ke bawah]."

Masih berdasarkan data Forbes, dari daftar 4 orang terkaya 2018 dan 2019, ada dua kelompok taipan rokok besar. Mereka adalah Budi dan Michael Hartono serta Susilo Wonowidjojo. Berikut daftar kekayaan 4 orang terkaya Indonesia 2018 dan 2019:

2018

Budi & Michael HartonoUS$35 miliar
Susilo Wonowidjojo$9,2 miliar
Eka Tjipta Widjaja$8,6 miliar
Sri Prakash Lohia$7,5 miliar
TotalUS$60,3 miliar

2019

Budi & Michael HartonoUS$37,3 miliar
Widjaja family$9,6 miliar
Prajogo Pangestu$7,6 miliar
Susilo Wonowidjojo$6,6 miliar
TotalUS$61,1 miliar

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho