Ironi Desa Tlogowatu Klaten : Tanah Kaya Batu Tapi Miskin Air
Pengendara sepeda motor melintas di depan balai desa Tlogowatu, Kemalang, Klaten, Sabtu (6/3/2021). (Solopos-Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN-- Wilayah desa di lereng Gunung Merapi masuk Kabupaten Klaten ini menyimpan banyak sekali batu. Saking banyaknya, daerah tersebut, daerah ini dinamakan Tlogowatu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, pemberian nama Tlogowatu terkait erat dengan kondisi alam yang dimiliki desa tersebut. Berada di lereng Gunung Merapi, daerah ini dikenal sangat miskin air.

Sebaliknya, Desa Tlogowatu banyak menyimpan batu. Dalam bahasa Jawa, batu biasa disebut watu.

Baca juga: Kabupaten Karanganyar Butuh Mobil Damkar Baru, Ini Sebabnya

"Di zaman dahulu, di sini banyak sekali batu. Ukurannya ada yang besar juga. Saking banyaknya, warga di sini membikin tembok rumah itu dari bahan batu. Jadi, bukan dari bata atau bahan lainnya. Lantaran dari batu, kekuatan dinding rumah lebih kuat dibandingkan dari bahan lainnya," kata Kepala Desa (Kades) Tlogowatu, Kecamatan Kemalang, Suprat Widoyo, kepada Solopos.com, Sabtu (6/3/2021).

Seiring berjalannya waktu, lanjut Suprat Widoyo, daerah Tlogowatu mulai muncul penambangan atau galian C. Hal itu mulai berlangsung di era 2007.

24 RT dan 10 RW

Sejak saat itu, batu-batu yang mudah ditemukan di permukaan tanah mulai berkurang. Namun, di dalam tanah di Tlogowatu masih banyak ditemukan batu, baik ukuran kecil atau pun besar.

"Sejak ada penambangan itu, warga membangun rumah pakai batako," katanya.

Suprat Widoyo mengatakan di desanya terdapat 4.000-an jiwa. Jumlah tersebut tersebar di 24 RT dan 10 RW.

Baca juga: Kabag dan Kasat Polres Klaten Diganti, Ini Daftarnya

"Pasokan air di sini dari tadah hujan. Pernah saya mengebor tanah untuk sumur sampai kedalaman 180 meter dan 250 meter. Hasilnya tak optimal. Biasanya telaga itu kan air. Tapi, di sini batu. Makanya disebut Tlogowatu," katanya.

Suprat Widoyo mengatakan daerah di Tlogowatu di masa lampau merupakan daerah tertinggal. Di zaman sebelum muncul penambangan, di Tlowatu sangat sedikit ditemui seorang sarjana.

"Daerah di sini rata-rata padas. Dahulu itu, orang di luar daerah sering tidak mau memiliki anak mantu dari Tlogowatu. Misalnya di daerah Boyolali yang berbatasan dengan Tlogowatu, orang di sana enggak mau kalau dipinang orang Tlogowatu. Mungkin takut akan dikasih makan apa? Soalnya, di sini hanya ada batu. Setelah ada penambangan itu, kondisinya berubah. Banyak yang ingin dipinang warga di sini," katanya.

Baca juga: 2 Pot Tanaman Cabai Milik Mbah Karto Tembel Sukoharjo Raib, Pencurinya Terekam CCTV Bawa Mobil



Berita Terkini Lainnya








Kolom