Ilustrasi investasi. (IJIBI/Solopos/Istimewa)

Investasi Solo tetap meningkat meski kondisi ekonomi tengah lesu.

Solopos.com, SOLO — Lesunya kondisi ekonomi tidak berpengaruh terhadap minat pengusaha untuk berinvestasi di Kota Bengawan. Hal ini terbukti dari meningkatnya realisasi investasi yang mencapai lebih dari Rp1 triliun hingga Juli 2015.

Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (BPMPT) Solo, Toto Amanto, menyampaikan investasi tidak bisa ditarget harus naik atau diprediksi akan turun.

Oleh karena itu, meski ekonomi dalam negeri maupun secara global sedang lesu, investasi masih tetap bisa tumbuh dengan baik.

“Investasi ini memang sulit diprediksi apakah naik atau turun mengingat semakin lama lahan di Solo akan semakin sempit,” ungkap Toto saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (19/8/2015).

Dia mengatakan meski kondisi ekonomi lesu tapi kebanyakan investor tetap melanjutkan proses pembangunan bagi yang sudah mengantongi izin.

Hal ini karena maksimal enam bulan setelah izin mendirikan bangunan (IMB) terbit, pembangunan harus sudah dilakukan. Namun dia mengatakan ada satu hotel yang pembangunannya ditunda, yakni Swiss-bel Hotel karena ada suatu hal yang membuat pembangunan tidak bisa segera dilakukan.

Dia menyampaikan hingga Juli lalu, investasi yang sudah masuk mencapai Rp1,07 triliun dari 679 perusahaan mikro hingga perusahaan besar.

Angka tersebut naik jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya Rp614,29 miliar. Investasi yang masuk ini berasal dari perusahaan yang telah mengajukan izin pada tahun sebelumnya sehingga tahun ini bisa beroperasi.

Perusahaan yang paling banyak berinvestasi di Solo merupakan usaha kecil dengan rata-rata 50 perusahaan setiap bulannya. Namun dari sisi nilai, investasi dari perusahaan besar yang paling banyak karena mencapai ratusan juta rupiah walaupun rata-rata investor yang masuk hanya 2-3 perusahaan setiap bulannya.

Dia mengatakan pelaku usaha mikro yang mengajukan izin masih sangat terbatas.

“Saat ini sudah dua investasi besar yang mau masuk, yakni apartemen dan rumah sakit di Solo sebelah timur dan sebelah selatan. Solo utara sudah ada yang tertarik tapi baru secara lisan, realisasinya [pengajuan izin] belum ada,” kata Toto.

Dia menilai investasi hotel dan pusat perbelanjaan di Kota Bengawan sudah mulai jenuh. Apalagi hotel di Solo sudah terlalu banyak. Meski begitu, dia mengaku tidak bisa membatasi pengajuan pembangunan hotel yang masuk selama sesuai peruntukan dan izin sudah dikeluarkan.

Bank Indonesia (BI) Solo memprediksi mulai triwulan kedua, investasi di Solo tumbuh positif. Hal ini terlihat dari penyaluran kredit dan perubahan produk simpanan yang dipilih oleh nasabah.

Kepala Perwakilan BI Solo, Ismet Inono, mengatakan kredit investasi meningkat meningkat signifikan pada Juni dari sebelumnya Mei naik 0,5% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 9%.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten