Truk dan puluhan ribu stoples tersimpan di Gudang CV Mitra Sukses Bersama (MSB) yang sudah tidak beroperasi di Dusun Kroyo, Desa Taraman, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Kamis (13/6/2019). (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Kompleks gudang CV Mitra Sukses Bersama (MSB) di Dusun Kroyo, Desa Taraman, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, kini tak lagi berfungsi. Tak ada lagi aktivitas pengumpulan semut rangrang dan hanya ada puluhan truk dan tumpukan stoples yang sudah sebulan mangkrak.

Dua bangunan gudang berdinding batako itu berdiri di lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi. Satu gudang digunakan untuk menyimpan puluhan truk atau mobil boks. Sementara satu gudang digunakan untuk menyimpan puluhan ribu stoples yang pernah digunakan untuk membudidayakan semut rangrang.

Kamis (13/6/2019), sebagian stoples itu tertata rapi di gudang. Sementara sebagian lagi menumpuk tidak beraturan. Sudah hampir satu bulan lamanya stoples itu tidak terpakai. Tepatnya, setelah CV MSB menghentikan usaha investasi peternakan semut rangrang pertengahan Mei lalu.

Solopos.com tidak berhasil masuk ke gudang tempat penyimpanan puluhan mobil boks karena dua pintu besi digembok dari luar. Namun, dari luar sudah terlihat beberapa bagian dari truk yang terparkir hampir satu bulan di dalam gudang itu.

“Tidak semua mobil boks itu tersimpan di gudang. Sekarang masih banyak mobil boks yang dibawa oleh mantan koordinator daerah dari CV [MSB]. Semuanya dongkrok. Kendaraan itu sudah tidak terpakai sejak gudang itu tutup,” ujar RZ, 45, seorang investor saat ditemui Solopos.com di rumahnya di Kecamatan Sidoharjo, Sragen.

RZ sudah dua kali mengikuti bisnis investasi ternak rangrang. Pada kesempatan pertama, dia berhasil meraih laba sesuai perjanjian. Dia kemudian menanamkan modalnya kembali sebesar Rp70 juta yang diwujudkan dalam 46 paket semut rangrang.

Seharusnya pada bulan ini dia bisa mendapat hasil dari investasi itu. Dengan investasi 46 paket semu rangrang, seharusnya dia bisa mendapatkan laba sebesar Rp32,2 juta. Namun, bukan untung yang didapat. Justru ia terancam meraih buntung dari investasi itu.

“Saya belum dapat kepastian apakah uang saya bisa kembali mengingat gudang dan kantor CV juga sudah tutup. Ingin rasanya saya mengambil salah satu mobil boks atau aset lain yang dimilik pengelola CV itu supaya uang saya bisa kembali. Tapi itu tidak memungkinkan karena status aset itu juga bukan milik saya,” ucapnya.

Subandi, 40, warga Dusun Kroyo yang pernah menjadi koordinator daerah dari CV MSB mengatakan ada lebih dari 40 mobil boks senilai miliaran rupiah yang tidak lagi terpakai. Sebelumnya, semua truk atau mobil boks itu digunakan untuk mengangkut paket semut rangrang ke berbagai daerah di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur.

“Selama 24 jam kondisi gudang itu tak pernah sepi. Mobil boks keluar masuk mengangkut paket semut rangrang. Tapi, sekarang mobil boks itu seperti tak bernilai sama sekali karena menganggur,” jelasnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten