Lailatul Qomariyah (liputan6.com)

Solopos.com, SURABAYA -- Kisah inspiratif ditorehkan seorang putri tukang becak asal Pamekasan Madura, Lailatul Qomariyah, yang mampu meraih  gelar doktor dari Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Dikutip dari liputan6.com, Senin (16/9/2019), gadis berusia 27 tahun itu berjuang mencari uang sendiri agar bisa melanjutkan kuliah dan menghidupinya hingga berhasil meraih gelar doktor dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,0. Dia diwisuda Minggu (15/9/2019). 

Tercatat sejak awal menginjak bangku kuliah di program sarjana, Laila telah melakoni rutinitas mengajar privat demi tercukupinya kebutuhan sehari-hari meski dia telah memperoleh beasiswa untuk membantu biaya kuliahnya.

Gadis kelahiran Pamekasan, 16 Agustus 1992, ini mengaku mengikuti prinsip yang diajarkan dalam kitab Alquran.

"Dalam Alquran disebutkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa usaha dari kaum tersebut," tutur dia mengutip isi salah satu ayat di Alquran, Jumat (13/9/2019).

Selain itu, orang tua dan guru sekolah Laila juga rutin memberikan pesan pendidikan dan pekerjaan yang dijalaninya harus jauh lebih tinggi dibanding yang didapatkan kedua orang tuanya.

Sebagai guru les privat, Laila pun hanya mengajar murid tingkat SMP dan SMA di sekitar wilayah kampus ITS Surabaya karena alat transportasi yang dimiliki Laila hanya berupa sepeda ontel. 

Berkat wawasan akademiknya yang luas, perempuan yang juga mengambil Magister di ITS ini sanggup mengajar matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris, dan pelajaran lainnya.

Anak sulung pasangan Saningrat, 43, dan Rusmiati, 40, itu mengaku dirinya ingin mengubah nasib keluarganya.

Laila menyadari pendapatan sang ayah sebagai pengayuh becak dan ibunyasebagai buruh tani tergolong di bawah rata-rata, tidak cukup untuk membiayai sekolahnya.

Namun alumni S-1 Teknik Kimia ITS ini tetap sanggup menyelesaikan studi doktoral (S-3) tanpa bergantung kepada kedua orang tuanya.

Laila merupakan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yang masuk ITS melalui jalur prestasi. Selanjutnya ia meneruskan pendidikannya dengan beasiswa dari program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).

Yakni beasiswa program percepatan pendidikan yang diberikan kepada lulusan sarjana yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang doktor dengan masa pendidikan selama empat tahun.

Buah kerja keras yang dilakoni Laila tidak dapat dipandang sebelah mata. Melalui topik disertasinya, ia berhasil menyelesaikan program doktoral dengan IPK 4.0. Sebuah prestasi tersendiri bagi mahasiswi yang rutin meneliti ini. Di samping itu, agar seluruh aktivitasnya yang padat dapat terlakoni semua, ia harus tahan tidur hanya empat jam dalam sehari.

Laila mengaku  sangat ingin untuk terus berkontribusi bagi ITS selepas kelulusannya. Dia merasa berat jika harus meninggalkan ITS dan dosen-dosen dan karyawannya yang telah membantu mewujudkan impian. Tidak sedikit pula dosen yang meminta kepada Laila agar tetap bertahan melanjutkan penelitian atau mengajar di ITS.

"Aku sudah menemukan semacam chemistry di ITS, jadi meskipun banyak tawaran dari luar, saya tetap sangat ingin melanjutkan pengabdian saya di kampus perjuangan ini," ujar Laila.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten